Beranda   Kontak   RSS Feed   Email    
Beranda   Kontak   RSS Feed   Email    
Beranda   Kontak   RSS Feed   Email    
---- Website Resmi DPRD Provinsi Jawa Timur ----

Jadilah Orang Yang Bisa Merasa, Bukan Orang Yang Merasa Bisa - Rapat Paripurna Istimewa HUT ke 74 Provinsi Jawa Timur

 
14 Oktober 2019

Jadilah Orang Yang Bisa Merasa, Bukan Orang Yang Merasa Bisa

- Rapat Paripurna Istimewa HUT ke 74 Provinsi Jawa Timur

Rapat paripurna Istimewa dalam rangka Hari Jadi ke 74 Provinsi Jawa Timur di gedung DPRD Jawa Timur Jalan Indrapura Surabaya, Sabtu (12/10/2019) siang, berlangsung menarik. Pasalnya, rapat yang dipimpin Wakil Ketua DPRD Jatim, Anwar Sadad dibuka dengan iringan Sholawat oleh panduan suara dari siswa SMA/SMK saat Gubernur dan Forkompinda Jatim memasuki ruang paripurna. 

Setelah itu, Gubernur, Wakil Gubernur, pimpinan DPRD dan Forkompimda Jatim menyerahkan santunan kepada anak-anak yatim piatu berupa uang dan peralatan sekolah. Barulah setelah itu, pimpinan rapat paripurna mengawali rapat paripurna dengan tema "Semangat Nawa Bhakti Satya Untuk Jawa Timur Maju Sejahtera", dengan membacakan asal muasal peringatan Hari Jadi Provinsi Jawa Timur ditetapkan pada 12 Oktober.

Kata sambutan diberikan kepada ketua DPRD Jatim Kusnadi dan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. Usai sambutan Gubernur Jawa Timur, dilanjutkan dengan  tausyiah khusus yang disampaikan oleh budayawan asal Madura, Zawawi Imron.   

Menurut penyair dengan julukan Clurit Emas sebagai rakyat Jawa Timur dia tidak dan belum mengatakan bahwa Jawa Timur yang terbaik. Tetapi kalau tidak ada Jawa Timur, tidaklah lengkap Indonesia.

Jika mengkaji dan mengaji sejarah, lanjut Zawawi sumbangan Jawa Timur di awal kemerdekaan Republik Indonesia sudah besar sekali karena hari pahlawan, hari perjuangan, hari kejujuran  dan pengorbanan tanggal 10 November 1945 terjadi di Surabaya Jawa Timur.

"Itu artinya Jawa Timur itu banyak menyumbangkan pahlawan kepada Republik Indonesia. Itulah pentingnya kita belajar sejarah, mengkaji sejarah dan kalau kita selalu mengkaji sejarah, Insyaallah kalau kita tersesat masih di jalan yang benar. Dan itu masih lebih baik daripada kita merasa benar di jalan yang sesat," tegasnya.

Pada tahun 1960, Indonesia pernah kedatangan orang alim Prof Dr Mahmod Shaltud Rektor Universitas Al Azhar Mesir. Beliau takjub dengan negeri Indonesia hingga mengatakan Indonesia adalah potongan surga yang diturunkan Allah di bumi.

Barulah 7 tahun kemudian ada penyanyi Indonesia yang membuat lagu dengan syair, orang bilang tanah kita, tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman. "Catatannya yang berkaitan dengan budaya Jawa Timur yang berpatok pada dadio wong sing iso rumonga, ojo dadi wong sing rumongso iso," kata Zawawi.

Orang yang bisa merasa itu kaitannya adalah dengan orang merasa tersesat walaupun di jalan yang benar. Sedangkan orang yang merasa bisa ialah orang yang merasa benar tapi di jalan yang sesat.

"Alhamdulillah manusia-manusia seperti ini tidak banyak yang lahir di Jawa Timur karena kita mempunyai Mpu-Mpu sejarah zaman lalu yang mewariskan nilai-nilai yang sampai sekarang nilai-nilai itu masih relevan untuk dipakai," tegasnya.

Oleh karena itu, ketika kita berbicara  Indonesia yang indah yang gunungnya biru berselendang awan, tanah  air yang indah. Kalau ingin tetap subur makmur dan indah, itu harus diurus oleh hati yang bersih dan indah serta budi pekerti yang indah.

"Kalau tanah airnya saja yang indah sementara yang mengurus itu orang yang tidak berhati indah, maka bisa dirusak tanah air ini. Bahkan bisa digadaikan negeri ini. Inilah pentingnya kita punya hati an budi pekerti yang indah," pinta Zawawi Imron.   

Indonesia bersyukur punya ketuhanan yang maha esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

"Kalau ini benar-benar tidak hanya sekedar menjadi kata benda tapi benar-benar menjadi kata kerja, nilai-nilai itu dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari hati kita, jiwa kita menjadi satu dengan rakyat Indonesia," jelasnya.

Sehingga ketika pemimpin berbicara dengan rakyat, yang tertusuk pada Hatimu wahai rakyat, berdarah pada hatiku. Melelahkan air mataku, air mata untuk Indonesia. "Ini yang disebut air mata nasionalisme, air mata kecintaan kepada tanah air dan bangsa," tegas pria yang sudah memasuki usia senja ini.

Kecintaan kepada tanah itu, lanjut Zawawi membuat dia menulis puisi berjudul Cinta Tanah Air hingga dinilai menjadi puisi terbaik Asia Tenggara di Thailand pada tahun 2001. Isinya adalah tentang kesadaran cinta tanah air sebagian dari iman.

Untuk memahami puisi tersebut Zawawi mengaku merenung selama 3 tahun. Kenapa kita harus cinta kepada tanah air? karena kita semua minum air Indonesia menjadi darah kita, kita makan beras dan buah-buahan menjadi daging, kita menghirup udara Indonesia hingga Indonesia menjadi nafas kita, dan kita bersujud diatas bumi  Indonesia berarti bumi Indonesia adalah sajadah kita.

Bahkan bila saatnya kita mati, kita semua akan tidur dipelukan bumi Indonesia dan hancur membusuk bersama harumnya bumi Indonesia. Makanya tidak ada alasan untuk tidak cinta kepada bangsa dan tanah air.

"Ucapan seperti itu bisa mungkin kepada orang yang tidak cinta tanah air dianggap sampah. Karena itu kita perlu instropeksi mengoreksi sampai sejauhmana kita mencintai tanah air dan bangsa Indonesia," harapnya.  

Dari sinilah sebenarnya diharapkan untuk kita semua tokoh-tokoh yang ada di Jawa Timur ini punya tugas Mulia sebagaimana yang disampaikan oleh ketua DPRD maupun Gubernur Jatim yaitu tugas mengharumkan Jawa Timur secara subtansi

Jadi mengharumkan Jawa Timur itu bukan dengan kata-kata, tapi dalam hati karena keharuman hati Insyaallah akan memancar keluar bahwa Jawa Timur adalah inspirasi untuk mencintai Indonesia karena sejarah 10 November menjadi contoh pengorbanan  arek-arek Suroboyo terjun ke medan laga walaupun hanya dengan bambu runcing  tanpa takut dengan maut karena yang besar ya Allah Subhanahu Wa Ta'ala

"Paham yang seperti itu berawal dari resolusi Jihad bahwa mengangkat senjata melawan penjajah wajib hukumnya dan siapa yang mati dalam perang kemerdekaan, sahid di jalan Allah," ungkap Zawawi Imron.

Menurutnya, tanggung jawab kita sebagai pemimpin-pemimpin rakyat adalah pemihakan kepada rakyat yang mampu membaca hati rakyat dan kemampuan membaca hati rakyat itu diikuti dengan tindakan nyata.

Kemudian bagaimana memenuhi janji-janji kepada rakyat, Zawawi menyitir sebuah puisinya berjudul telur. "Dubur ayam yang mengeluarkan telur itu lebih mulia dari mulut intelektual yang hanya menjanjikan telur".

Di sinilah sebenarnya dibutuhkan tenaga, vitalitas, sebagaimana filosofi orang Madura, Abental Ombak Tak Sapu Angin, kalau layar sudah kukembangkan kemudi sudah kupegang, biarkan perahu akan tenggelam pantang surut kembali.

"Saya kira semangat kita sama yaitu  semangat mengharumkan Jawa Timur dan membahagiakan Jawa Timur dan kita yang berada di atas dan yang ada di pelosok-pelosok desa tersenyum bersama kita," jelasnya.

Seperti yang diucapkan oleh filosofi Jawa wong cilik melu gemuyu karena wakil-wakilnya di pemerintahan Jawa Timur berusaha seoptimal dan semaksimal mungkin untuk membahagiakan seluruh rakyat Jawa Timur.

Ia juga mengingatkan sebagai sesama putra Ibu Pertiwi jangan suka bertengkar tapi justru harus hormat menghormati dan saling tolong menolong, gotong royong tanda kemanusiaan kita. Hanya binatang yang mau diadu domba, tapi dombanya sekarang sudah ada di ladang dan yang berkelahi justru manusianya.

"Kita yang namanya intelektual masih mau diadu domba karena itu mari kita bersikap kritis sebelum ditujukan kepada orang lain ditujukan kepada diri sendiri. Apakah kita ini yang merasa benar di jalan yang sesat atau orang yang merasa tersesat di jalan yang benar, alangkah indahnya," pungkas Zawawi.

Di akhir tausyiah, Zawawi juga menggambarkan kehidupan suami istri yang baik, yaitu tak cukup suami hanya mengatakan i love you kepada istrinya. Tapi dia akan mengatakan istriku, tahu bedanya kamu dengan Garuda? "Kalau Garuda cukup di dadaku tapi kamulah yang dalam hatiku," pungkas Zawawi Imron disambut tepuk tangan dari seluruh undangan yang memenuhi ruang paripurna DPRD Jatim.

Sebelumnya ketua DPRD Jatim Kusnadi dalam sambutannya mengatakan bahwa moment HUT ke 74 Provinsi Jatim ini diharapkan bisa menjadi semangat anggota DPRD Jatim untuk meningkatkan fungsi dan tugas DPRD khusunya dalam hal pengawasan terhadap kinerja pemerintah Propinsi Jatim, terutama menyangkut capaian terhadap kebijakan yang bersentuhan dengan masyarakat.

“Kita sudah sepakat dengan RPJMD yang disusun bersama dan disepakati bersama. Tugas DPRD Jatim sebagai pengawasan untuk dilakukan dengan baik dan benar sehingga semua berjalan seuai dengan kesepakatan yang tertuang dalam RPJMD tersebut,” ujarnya.

Apalagi dalam prespektif ekonomi, lanjut pria yang juga ketua DPD PDI Perjuangan Jatim, Provinsi Jatim merupakan salah satu dari sedikit Provinsi yang menjadi penyanggah pertuMbuhan ekonomi Nasional sehingga peran DPRD harus lebih maksimal lagi.

“Jangan sampai kita lengah, kita tingkatkan pengawasan dan pencermatan jangan sampai ada yang melenceng dari apa yang menjadi kesepakatan bersama antara DPRD dengan eksekutif yang tertuang dalam RPJMD Jatim,” pinta Kusnadi .

“Ingat Pemerintah Daerah dalam hal ini Gubernur dan Wakil Gubernur memiliki janji ketika kampanye yang tertuang dalam RPJMD yang telah disepakati item-itemnya dengan DPRD, maka tugas mereka untuk menjalankannya dan kita akan mengawasi apakah itu berjalan atau tidak,” tambahnya.

Dalam kesempatan ini Kusnadi juga mengajak untuk menjadikan moment HUT ke 74 Provinsi Jatim sebagai momentum refleksi demi kemajuan rakyat Jatim. "Hal ini sekaligus merupakan apresiasi kepada rakyat, pejuang, tokoh Jatim yang telah berjasa untuk rakyat Jatim,” ungkapnya.

Dengam bertambahnya usia Provinsi Jatim akan berseiring dengan semakin optimalnya kemajuan Jatim. Utamanya, kematangan dan kedewasaan masyarakatnya dalam menghadapi tantangan di era mendatang.

“Kedepan, kami akan melakukan banyak perubahan dari sisi kualitas maupun kuantitas. Baik dari aspek ekonomi, pendidikan, sosial akan lebih baik dengan tetap mempertahankan aspek kearifan lokal,” pungkas Kusnadi. 

Foto Galeri

© 2013 Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Jawa Timur. All Rights Reserved