Beranda   Kontak   RSS Feed   Email    
Beranda   Kontak   RSS Feed   Email    
Beranda   Kontak   RSS Feed   Email    
---- Website Resmi DPRD Provinsi Jawa Timur ----

Penanggulangan Banjir Bojonegoro-Tuban

 
19 Maret 2013

Suara Indrapura : Banjir tahunan di aluran sungai Bengawan Solo menjadikan penderitaan masyarakat sepanjang tahun. Kondisi ini, diperparah karena minimnya sudetan sungai bengawan Solo dan masih minimnya embung (waduk) yang menampung kelebihan debit air saat, musum hujan dan air kiriman datang. Mengantisipasi ancaman banjir tahunan tersebut, Kartika Hidayati anggota Fraksi Partai Kebangkitan

Bangsa (PKB) DPRD Jatim yang maju dari dapil X (Tuban-Bojonegoro) mendesak pemerintah daerah, pemerintah propinsi Jatim dan pemerintah pusat untuk memikirkan solusi terbaik, sehingga banjir bandang tahunan tidak terjadi lagi. Namun, kelebihan debit air yang melintas di sungai bengawan Solo bisa dimanfaatkan lebih optimal untuk kebutuhan pertanian dan kebutuhan lainnya.

“Saya berharap ada perhatian serius, baik dari pemerintah kabupaten, propinsi dan pemerintah pusat. Sebab, selama ini banjir selalu terjadi setiap tahun, saat musim hujan datang. Karena debit air tidak mampu ditampung sungai Bengawan Solo, membuat banjir mengancam pemukiman dan lingkungan msyarakat disepanjang Sungai Bengawan Solo,” terang Kartika.

Kartika yang juga Ketua Muslimat Lamongan ini, menyampaikan upaya perbaikan infrastruktur Sungai Bengawan Solo menjadi kebutuhan mutlak. “Bukan saja pengerukan akibat pendangkalan sungai, namun upaya membuat sudetan sungai Bengawan Solo dan penambahan embung juga menjadi salah satu solusi,” terang dia.

Selama ini, berbagai upaya sudah dilakukan. Namun hasilnya juga tidak maksimal. Seperti upaya ditutupnya pintu air Sungai Bengawan Solo di Karangnongko untuk mengurangi banjir di Bojonegoro membuat ketinggian aliran air sungai yang melitas di wilayah Lamongan naik secara signifikan. Akibatnya, dua wilayah kecamatan tergenang banjir.Posisi ini Naik dari kondisi kemarin yang masih di level III.

“Naiknya air Sungai Bengawan Solo di Babat ini berakibat pada meluasnya areal genangan. Di Desa Truni, tercatat 50 rumah tergenang setinggi 5 hingga 20 cm. Selain itu 95 tanaman padi dan palawija juga tergenang setinggi 50 hingga 75 cm,” urai Kartika.

Di Kelurahan Babat, 50 rumah juga terendam banjir. Kemudian di Kelurahan Banaran tercatat 8 rumah tergenang air Sungai Bengawan Solo dan 173 rumah lainnya kebanjiran karena tingginjya curah hujan. Selain kawasan pemukiman, 6 hektar tanaman padi dan palawija di Banaran juga hanyut diapu banjir. Kondisi serupa juga terjadi di wilayah Bedahan. Di daerah ini sekitar puluhan kektar sawah juga berubah menjadi lautan.

Sementara di wilayah Kecamatan Laren, terhitung 6 desa juga terandam banjir sejak Jumat malam. Banjir di kawasan ini semakin parah ketika pintu air sungai Bengawan Solo di di Karangnongko, Bojonegoro ditutup. Enam desa itu adalah Plangwot, Siser, Mojoasem, Pesanggrahan, Keduyung dan Centini. (Noni)

Foto Galeri

© 2013 Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Jawa Timur. All Rights Reserved