Beranda   Kontak   RSS Feed   Email    
Beranda   Kontak   RSS Feed   Email    
Beranda   Kontak   RSS Feed   Email    
---- Website Resmi DPRD Provinsi Jawa Timur ----

Kurangi Macet Jalan Bisa Melalui Jalur Sungai

 
15 Januari 2011

Untuk mengurangi kemacetan jalan akibat membludaknya jumlah kendaraan tidak harus dibuatkan tol tengah kota. Tetapi, kemacetan ini dapat diminimalisasi dengan menggunakan jalur sungai. Ini mengingat dalam Raperda Rencana Tata Ruang Wilayah  (RTRW) Jatim 2009-2029 banyak dikonsepkan pembuatan tol tengah kota.

Prof Dr   Suparto Wijoyo, Pakar Hukum Lingkungan Hidup, Unair, di Surabaya, mengatakan, selama ini jaringan pembangunan infrastruktur hanya melalui darat, laut, dan udara. Namun, untuk mengurangi kemcetan akibat padatnya penduduk, dan pengemudi kendaraan pemerintah belum pernah untuk membuat kebijakan melalui jalur sungai.

Suparto mencontohkan, masayarakat yang akan ke Tanjung Perak, bisa memanfaatkan jalur Kali Mas mulai Wonokromo. Selain mengurai kemacetan, jalur sungai ini juga memberi manfaat tersendiri yakni sungai akan terawat dengan baik.

Untuk alat transportasinya, dapat dibuatkan semacam bis air, atau lyn air. Transportasi ini dapat memuat banyak orang untuk semua tujuan sepanjang Kali Mas. Namun, yang menjadi kendala dalam transportasi melalui sungai ini yakni daya kecepatan.

“Jika dibandingkan dengan transportasi darat pasti lebih cepat lewat darat, daripada melalui sungai. Tapi masyarakat kan dapat melihat pemandangan sekitar sungai. Selain itu juga dapat menghemat BBM, karena kedepan BBM dapat berpotensi mahal harganya,” ujarnya.

RTRW Jatim ini tidak berwawasan  ekologis. Pasalnya, yang dikembangkan adalah argobis, padahal wilayah Jatim yang paling luas adalah lautan daripada daratannya. "Maka dalam pengembangan  jalur transportasi tidak perlu membangun jalan tol. Coba tengok sejarah masalah lalu, banyak kerajaan menggunakan sungai  sebagai alur transportasi. Artinya, transpotasi lewat sungai ini perlu juga dikembangkan," paparnya.

Soal pembangunan jalan tol tengah, ia memang beda konsep dengan Pemprov Jatim. Jalan tol tengah kota itu bisa berupa pembangunan jalur monorel.

Pror Dr. Dhaniel M. Rosyid, Pakar Kelautan ITS dan mantan tim ahli Pemprov Jatim  menyatakan, RTRW ini lebih memprioritaskan pembangunan jalan tol di Jatim. Padahal jalan tol itu sendiri berdampak negatif bagi  konservasi lahan pertanian dan perkebunan. Pasalnya, lahan pertanian dan perkebunan akan tergerus ribuan kilo meter demi jalan tol.

Tidak itu saja,  investasi jalan tol akan mematikan kota yang dilintasi. Seperti halnya jalan tol Cipularang yang menghubungkan Jakarta-Bandung membuat kota-kota di sekitarnya menjadi mati. Sedangkan Bandung sendiri menjadi macet akibat luberan kendaraan dari Jakarta.

"Pembangunan jalan tol tengah kota di Surabaya juga akan berdampak seperti itu. Jalan tol tengah kota akan memudahkan orang daerah untuk beramai-ramai masuk ke Surabaya sehingga akan terjadi kemacetan di Surabaya. Sedangkan daerah lainnya akan mati," terangnya

Seharusnya yang perlu dipikirkan adalah pengembangan transportasi massal berbasis trem atau rel. Anehnya dalam RTRW tidak ada. Padahal, dengan  transpotasi  berbasis rel atau trem akan mengurangi kemacetan dan juga tata ruang akan lebih terjaga karena untuk mengubahnya akan sulit.

Selain itu, biaya perawatan tol tengah kota lebih mahal daripada biaya perawatan rel. Jika tol tengah rusak, pasti biaya untuk penambahan jalan membutuhkan dana banyak. “Kalau rel tidak banyak, bahan bisa bertahan lama,” tuturnya.

 "Anehnya  transpotasi rel ini malah dihapus seperti trem di Madura yang ditutup. Malah sebaliknya, jalan tol terus dibangun yang jelas-jelas menguntungkan produsen otomotif dari Jepang," ujarnya

Ketua Fraksi PAN DPRD Jatim, Kuswiyanto mengatakan,  pihaknya telah melakukan dengar pendapat dengan beberapa pakar untuk pembahasan Raperda RTRW. Dengar pendapat ini untuk mencari masukan, sehingga dalam pembahasan RTRW nantinya tidak salah kaprah.

Namun, dengar pendapat ini tidak cukup satu kali, namun beberapa kali. Sebab, masih banyak yang perlu dikritisi RTRW ini mengingat Jatim ini sangat kompleks sehingga perlu masukan yang komprehensif.

Untuk diketahui draf RTRW 2009-2029 dimasukannya jalan tol tengah kota di Surabaya ini berdasarkan Peraturan Menteri PU No. 15/PRT/M/2009 tentang pedoman penyusunan RTRW propinsi. Jalan tol tengah kota ini dibangun dari Aloha-Wonokromo-Tanjung Perak. Selain ada rencana pembangunan jalan tol antara Bandara Juanda hingga Tanjung Perak. Tak pelak di Surabaya nanti ada jalan tol tengah kota ada 2 lokasi namun muaranya tetap satu di Tanjung Perak.

Jalan tengah kota ini masuk dalam jaringan jalan bebas hambatan di Jatim. Adapun jalan tol lainnya adalah Solo-Mantingan, Mantingan-Ngawi, Ngawi-Kertosono,  Kertosono-Mojokerto, Mojokerto-Surabaya, Waru-Wonokromo-Tanjung Perak, Bandara-Tanjung Perak. ®

 


© 2013 Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Jawa Timur. All Rights Reserved