Beranda   Kontak   RSS Feed   Email    
Beranda   Kontak   RSS Feed   Email    
Beranda   Kontak   RSS Feed   Email    
---- Website Resmi DPRD Provinsi Jawa Timur ----

Jatim Hadang Buah Impor

 
22 April 2013

Suara Indrapura : Pemprov Jatim dan PT Jatim Graha Utama (JGU) sebagai pengelola Pasar Induk Agrobis (Puspa Agro) Jemundo dipaksa berkeringat menghadapi masuknya buah impor ke Jatim yang tidak lagi mampu dibendung. Untuk itu, PT JGU sebagai perusahaan plat merah milik Pemprov Jatim didorong terus mempersiapkan jaringan menghadapi gencarnya masuk buah dan produk hortikultura masuk ke


Jatim. Untuk itu, Pemprov. Jatim didesak melakukan komunikasi intensif dengan Kabupaten/Kota untuk mengawal kepentingan hasil produksi pertanian bisa bermanfaat bagi kepentingan petani.

Agus Dono Wibawanto, Ketua Komisi B DPRD Jatim, menyampaikan sudah seharusnya pemerintah provinsi ikut merangkul Kabupaten/Kota mengawal kepentingan Puspa Agro bersama-sama melawan kepentingan pasar yang tidak memperhatikan petani lokal. “Sudah seharusnya jaringan dengan Kabupaten/kota harus digandeng. Dengan begitu, peranan pemprov meningkatkan kehidupan petani bisa dimaksimalkan,” terang Agus  Dono saat menjadi pembicara dialog publik dengan tema’ Masa Depan Pasar Puspa Agro, Kapan Petani Jatim Sejahtera” di lobby DPRD Jatim, Rabu (17/4) siang di hadapan seratus mahasiswa dan gapoktan se Jatim.

Politisi asal Partai Demokrat ini menegaskan, belum adanya komunikasi intensif dengan membuat jaringan antara pemprov dengan kabupaten/kota membuat kepentingan penataan nasib petani menjadi berat dan arahnya tidak jelas. Sebab, keberadaan petani dan lahan pertanian menjadi wilayah di kabupaten atau kota. “Kalau tidak digandeng, maka petani akan berat. Karena kebijakan pemprov dengan kabupaten/kota bias tidak sejalan,” tandas dia.

Pada kesempatan yang sama, Hotman Siahaan dari Unair mendukung agar Pemprov Jatim segera menggandeng kabupaten/kota untuk bersama-sama mengawal kepentingan petani. “Jika tidak, program yang digagas sangat baik, akan sia-sia. Karena potensi pertanian yang ada berada di daerah,” urai Hotman.

Dewan Pakar ini menandaskan dengan komunikasi yang bagus, diharapkan peranan petani di daerah bisa diangkat dan dimaksimalkan. “Ini menjadi kebutuhan mendesak dan penting. Sehingga kepentingan petani tidak hanya dikendalikan pengijon,” kata Hotman.

Sementara, Samsul Huda Wakil Ketua HKTI Jatim menyampaikan pemerintah harus mempersiapkan sarana produksi, budi daya, peralatan yang mampu mengefisiensi produktifitas pertanian dan kelembagaan untuk membela kepentingan petani. “Sehingga tidak menjadi beban petani. Namun pemerintah ikut membantu persoalan petani,” kata Samsul.

Samsul juga menegaskan agar Puspa Agro juga membuka pasar dengan menggandeng seluruh kelembagaan petani. “ini juga tidak kalah penting,” terang dia.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama PT JGU Erlangga Satriagung mengaku siap memfasilitasi kebutuhan tersebut. Karena Puspa Agro baru bekerja maksimal tahun 2012, setelah selesai melakukan pembangunan fisik. “Jaringan konsepnya saat ini sudang dikerjakan. Karena Puspa Agro dipersiapkan untuk kebutuhan grosir,” terang dia.

Kenapa Puspa Agro sepi ? Erlangga menegaskan sejauh ini investasi fisik bangunan dimulai 2009 sampai 2011. “Setelah itu investasi jaringan dan investasi pengelolaan kawasan,” urai dia.

Sementara itu, Gubernur Soekarwo membenarkan menghadapi masuknya buah dan produk hortikultura impor  pihaknya harus berkeringat. Untuk itu, orang pertama di Pemprov. Jatim ini, meminta rakyat dan petani untuk tetap konsisten mengawal peranan Puspa Agro sebagai market menerobos pasar baru yang sudah berorientasi pada jaringan, agar hasil yang didapat lebih tinggi. Solusi, bagaimana Puspa Agro ke depan menjadi industri agrobis yang baik, maka  gapoktan dengan industri agrobis harus bertemu. “Yang dibahas memang harus grosir dan ke depan perdagangan yang dilakukan sistem bertemu dengan sistem. Karena ini, menghadapi pasar bebas,” urai dia.

Soekarwo menyampaikan, agar petani sejahtera, pihaknya terus melakukan tata kelola sistem agraria memberikan pada petani kecil untuk mampu bersaing. “Untuk itu, munculnya kesulitan air harus diatasi. Dengan begitu, petani akan semakin muda memperbaiki produk-produk pertanian. Kalau memang ada nangka hanya bertahan seminggu. Tapi kalau kripik nangka akan bertahan jauh lebih lama. Ini harus dikembangkan untuk memperkuat jaringan petani di Jatim,” tandas dia. (fajar)

Foto Galeri

© 2013 Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Jawa Timur. All Rights Reserved