Beranda   Kontak   RSS Feed   Email    
Beranda   Kontak   RSS Feed   Email    
Beranda   Kontak   RSS Feed   Email    
---- Website Resmi DPRD Provinsi Jawa Timur ----

Dewan Masih Dukung Icon Asli Kerapan Sapi Lumajang

 
14 Januari 2013

Suara Indrapura : Karapan Sapi adalah acara khas masyarakat Madura yang di gelar setiap tahun pada bulan Agustus atau September, dan akan di lombakan lagi pada final di akhir bulan September atau October. Bagi masyarakat Madura, Kerapan dilaksanakan setelah sukses menuai hasil panen padi atau tembakau. Untuk saat ini, selain sebagai ajang yang membanggakan, kerapan sapi juga memiliki peran di berbagai bidang.

Namun nyatanya potensi karapan sapi juga berkembang di Kabupaten Lumajang. Seperti kompetisi kerapan sapi yang diikuti 150 tim kerapan sapi dari empat kabupaten, belum lama ini.
Potensi kerapan sapi hanya ada di empat Kabupaten, yaitu Jember, Lumajang, Probolinggo dan Madura. Hal ini disampaikan Anggota DPRD Jatim dapil Lumajang-Jember dari Fraksi Partai Demokrat, Hery Prasetyo menyampaikan

“Ini potensi yang harus digarap serius, untuk mengingkatkan objek wisata,”terang Hery Prasetyo.

Selama ini, lanjut Hery, butuh banyak perhatian pemerintah untuk meningkatkan potensi wisata di Kabupaten Lumajang, seperti kegiatan kompetisis kerapan sapi. Selain itu, dengan kegiatan objek wisata kerapan sapi, Hery berharap ada pendapatan yang masuk dari tontonan tersebut.

“Objek wisata ini, bukan hanya ada di Madura.Namun Lumajang juga memiliki objek wisata kerapan sapi. Untuk meningkatkan potensi wisata ini, harus banyak campur tangan pemerintah. Sehingga, bisa menjadi kegiatan rutin di Lumajang,” tandas Hery.

Untuk mengangkat citra Kabupaten Lumjang, menurut Hery, pendekatan dari banyak pihak sangat diperlukan. Seperti tradisi kerapan sapi di Desa Ranu Bedali Kec Ranuyoso.

“Ini potensi yang harus terus digali. Dengan kegiatan rutin setiap tahun, bisa dipastikan tradisi kerapan sapi bagi sebagian warga Lumajang, bisa dijadikan potensi objek wisata, Sebab, dalam satu kali event, pertandingan kerapan sapi bisa memakan waktu antara 4 hari sampai 7 hari,”Ungkap Heri.

Dimana Prosesi awal dari karapan sapi ini adalah dengan mengarak pasangan-pasangan sapi mengelilingi arena pacuan dengan diiringi gamelan Madura, yaitu Saronen. Babak pertama adalah penentuan kelompok menang dan kelompok kalah. Babak kedua adalah penentuan juara kelompok kalah, sedang babak ketiga adalah penentuan juara kelompok menang. Piala Bergilir Presiden hanya diberikan pada juara kelompok menang

Terpisah, Pak satu warga asli Lumajang ini menambahkan , salah satu tim kerapatan sapi asal Kabupaten Sampang menyampaikan untuk satu kali kompetisi pihaknya memerlukan biaya perawatan dua ekor sapi tidak sedikit. Bahkan, peserta harus rela tidur bersama sapi pancuan.” Perawatan sapi ini bisa mencapai jutaan rupiah bila memasuki kompetisi atau pertandingan. Bukan hanya kebutuhan sapi, juga kebutuhan tim perawat yang bisa mencapai 7 sampai 10 orang,” Kata Pak Satu.

Lanjut Pak Satu, sapi yang menjadi juara paling mahal. Harganya bisa menembus ratusan juta. “Biasanya, sapi yang menjadi pemenang banyak diburu pedagang atau peminat kerapan sapi. Harganya awalnya hanya jutaan rupiah, bisa mencapai angka ratusan juga,”terang pria berambut gondrong ini serius.

Sementara, Edi Darmawan, Kades Ranu Bedali mengatakan, pihaknya berhadap ada perhatian lebih dari pemerintah Daerah. Karena dengan perhatian pemerintah, potensi objek wisata dari kerapan sapi bisa menjadi daya tarik local. Sebab, kerapan sapi saat ini hanya ada di beberapa Kabupaten di Jatim.

“Saya berharap ada perhatian lebih dari pemerintah, sehingga potensi kerapan sapi bisa menjadi salah satu daya tarik wisata di Lumajang,”kata Edi Darmawan.

Dengan kegiatan kerapan sapi, bukan hanya menjadi objek wisata namun juga meningkatkan potensi yang ikut menyaksikan. Termasuk ada kegiatan ekonomi, seperti masuknya pedagang untuk menjajakan produk mereka,”tandas Edi. (Umi)

Foto Galeri

© 2013 Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Jawa Timur. All Rights Reserved