Beranda   Kontak   RSS Feed   Email    
Beranda   Kontak   RSS Feed   Email    
Beranda   Kontak   RSS Feed   Email    
---- Website Resmi DPRD Provinsi Jawa Timur ----

Meminimalisir Korban Miras, Banleg Gagas Perda Miras

 
08 Januari 2014

DPRD Jatim Online (Rabu; 08/01)

Suara Indrapura : Maraknya peredaran minuman keras (miras) khususnya miras oplosan yang mengakibatkan banyaknya korban tewas over dosis (od) di beberapa daerah di Jawa Timur, menjadi perhatian serius Badan Legislatif (Baleg) DPRD Jatim. Salah satu alat kelengkapan dewan Jatim di tahun 2014 ini, menggagas rancangan peraturan daerah (Raperda) tentang pengendalian peredaran minuman beralkohol.

Ketua Banleg DPRD Jatim, Zainal Arifin mengakui bahwa Perda Miras yang telah dibuat oleh berbagai daerah di Jatim telah dibatalkan oleh Mahkamah Agung (MA). Akibatnya, terjadi kekosongan hukum sehingga peredaran miras kian marak di Jatim. Bahkan di beberapa daerah, seperti Surabaya, Gresik, Sidoarjo, dan yang terbaru di Kabupaten Mojokerto telah memakan korban tewas hingga puluhan akibat menenggak miras keras oplosan atau yang dikenal dengan cukrik.

Sebagai bentuk tanggungjawab, sekaligus upaya meminimalisir semakin banyaknya korban akibat miras di wilayah Jatim, lanjut Zainal, DPRD Jatim sejak Oktober 2013 lalu telah membikin program legislasi daerah (prolegda) yang akan dibahas di tahun anggaran 2014. "Dalam prolegda itu salah satunya raperda yang akan dibahas di tahun 2014 yakni tentang pengendalian minuman beralkohol," jelas politisi asal Partai Golkar.

Menurut Zainal dalam raperda itu nantinya akan mengatur tata kelola penjualan minuman beralkohol, tempat yang boleh menjual minuman beralkohol dan lain sebagainya. "Karena perda larangan penjualan Miras dibatalkan MA, maka kami berencana membikin Perda yang mengatur penjualan minuman beralkohol supaya korban tidak semakin banyak," dalihnya.

Seperti diketahui, korban tewas akibat menenggak minuman keras (miras) oplosan terus berjatuhan. Anehnya, masih banyak juga masyarakat yang nekat menggelar pesta miras oplosan atau cukrik. Ini membuat Dinas Kesehatan Jatim  melarang masyarakat untuk menenggak cukrik. Kepala Dinas Kehatan Jatim  dr Harsono mengatakan,  agar masyarakat tidak mengkonsumsi miras. “Termasuk miras oplosan sejenis cukrik. Selain bisa merusak kesehatan, juga bisa menimbulkan kematian seperti yang terjadi di Mojokerto dan Surabaya,” tegas dia.

Menurutnya, cukrik termasuk jenis miras yang sangat berbahaya. Selain kandungan alkoholnya cukup tinggi, yakni di atas 50 persen, cukrik juga mengandung zat-zat aditif atau beracun. Cukrik dapat menimbulkan serangan akut pada tubuh manusia. Mulai menyebabkan kerja jantung menjadi lebih keras dan cepat, liver, lambung bisa iritasi dan berdarah, gagal ginjal, dan keracunan pada otak.

"Jadi semuanya bisa kena. Makanya sangat berbahaya dan dapat menyebabkan kematian," tegasnya.

Selain itu pihaknya juga meminta  pada  Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota di Jatim untuk menggelar operasi terhadap peredaran miras terutama cukrik.  Mereka bisa menggandeng aparat kepolisian dan pihak terkait lainnya.

“Kami lakukan  operasi terhadap peredaran miras setelah 17 orang di Mojokerto meninggal dunia akibat minum cukrik. Belum selesai kami gelar miras, di Surabaya jatuh korban lagi sebanyak 3 orang,” tegasnya.

Sedangkan Kepala Bidang Pelayanan Medis RSUD Dr Soetomo, dr Joni Wahyuhadi mengatakan, semakin tinggi kandungan alkohol dalam miras, maka semakin berbahaya untuk dikonsumsi. Cukrik sendiri diindikasi memiliki kadar alkohol di atas 50 persen sehingga menyamai spirtus.

Dia mengatakan, alkohol dengan angka tersebut diduga dapat merusak struktur otak hingga berakibat pada kematian. Kecenderungan pasien yang mengalami kecelakaan akibat minuman keras di RSU dr Soetomo mencapai 30 – 40 persen per hari dari jumlah pasien yang ada.

Senada, Ari S Tyawati ketua dewan pembina Granat Surabaya mengaku sangat mendukung adanya peraturan daerah yang mengatur soal pengendalian minuman beralkohol. Alasannya, jika tidak ada pembatasan maka generasi muda akan semakin banyak yang salah jalur akibat sering bersinggungan dengan minuman keras.

Bahkan kondisi masyarakat suatu daerah akan semakin rawan, jika peredaran minuman beralkohol dibiarkan bebas.

"Gejala awal maraknya tindakan kriminal di masyarakat itu akibat maraknya peredaran minuman keras di masyarakat. Granat sangat mendukung upaya DPRD Jatim membuat perda pengendalian.peredaran minuman beralkohol," tegas perempuan berparas cantik ini. (fajar)

Foto Galeri

© 2013 Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Jawa Timur. All Rights Reserved