Beranda   Kontak   RSS Feed   Email    
Beranda   Kontak   RSS Feed   Email    
Beranda   Kontak   RSS Feed   Email    
---- Website Resmi DPRD Provinsi Jawa Timur ----

Semangat Perjuangkan Kemakmuran Petani Tebu

 
28 Januari 2015

DPRD Jatim Online (Rabu; 28/01)

Suara Indrapura : Maraknya peredaran Gula Rafinasi dan Rendemen Tebu yang tidak transparan menjadikan kesejahteraan petani tebu masih belum sejahtera. Hal ini tentu membuat Anggota DPRD  Jatim Dapil V (Malang Raya), H. Gunawan HS., SH.,M.Hum prihatin. Oleh karenanya pihaknya berjanji akan mengawal dan memperjuangkan hak petani tebu ke depannya.

Menurutnya, dengan tingginya HPP rendemen tebu dan beredarnya gula rafinasi membuat para petani tebu mendapatkan penghasilan yang tidak maksimal. Dimana sebelum terjadi masalah ini penghasilan petani Rp75 juta perhektar. Sekarang hanya mendapat sekitar Rp30 juta per hektar. "Dengan adanya masalah HPP gula rendah membuat petani tebu menjadi bangkrut," ujarnya.

Selama ini petani tebu di Jatim sedang terpuruk, sehingga perlu perhatian khusus oleh pemerintah. “Kami juga mendesak pemerintah agar stop gula impor. Kemudian kami juga minta agar pemerintah menghentikan juga pemberian ijin untuk eksportir gula impor agar gula milik petani bisa beredar di pasaran," ujarnya.

Pihaknya juga meminta kepada pemerintah harus mengkaji berapa kemampuannya untuk merevitalisasi pabrik gula kecil di luar tiga pabrik gula besar yang sekarang masuk program revitalisasi. Menurutnya, kemampuan petani tebu masih cukup besar untuk memasok bahan baku gula, sehingga tidak ada alasan PG kecil ditinggalkan untuk meningkatkan kemampuannya.

Ia menambahkan,  akan terus mengawal masalah tebu di Jatim karena nasib petani tebu semakin hari semakin terpuruk. Menanggapi Perda yang mengatur soal rendemen tebu, menurutnya hal tersebut tak mampu mengangkat ekonomi petani tebu. Sebaliknya pemerintah pusat juga harus memiliki sikap yang sama yaitu mem-proteks munculnya gula impor dan membatasi pabrik gula rafinasi dengan memperketat izin pendirian.

“Meski Jatim melawan masuknya gula impor dan tidak memberikan izin pendirian pabrik gula rafinasi, tapi di wilayah lain tetap dibebaskan. Kita pasti akan terpengaruh, bahkan dipastikan petani tebu dan pabrik gula di Jatim akan mati,” akunya.

Sebaliknya, kalau pemerintah berkomitmen meningkatkan ekonomi petani tebu. Maka pusat harus menolak masuknya gula rafinasi dan impor. Apapun Jatim selama ini menjadi wilayah yang mampu menyediakan kebutuhan gula untuk wilayah Pulau Jawa dan Kalimantan. Tapi sekarang terancam mati, karena gula yang ada tidak terserap di luar Jatim. (Fadly) 

Foto Galeri

© 2013 Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Jawa Timur. All Rights Reserved