Beranda   Kontak   RSS Feed   Email    
Beranda   Kontak   RSS Feed   Email    
Beranda   Kontak   RSS Feed   Email    
---- Website Resmi DPRD Provinsi Jawa Timur ----

Angka Putus Sekolah Tinggi, Komisi E Desak Pemprov Jatim Ambil Sikap

 
08 April 2013

Suara Indrapura : Tingginya angka putus sekolah di Jatim yang mencapai 13 ribu siswa, membuat prihatin anggota Komisi E DPRD Jawa Timur. Menyikapi kondisi tersebut, Komisi E mendesak Pemprov Jatim untuk segera membentuk Gugus Tugas (Task Force) pendidikan.

“Persoalan tingginya angka drop out di tingkat wajar 9 tahun tidak bisa dibiarkan begitu saja. Artinya perlu adanya langkah tegas dan cepat dalam menyelesaikan persoalan tersebut. Karenanya perlu dibentuk Gugus Tugas,” tandas Jabir.

Gugus Tugas dapat dibentuk dengan dua tugas utama, yakni membuat peta faktual penyebab siswa putus sekolah dan menyusun draft program serta agenda aksi untuk program 2014. Kalau memang mendesak, anggaranya bisa dimasukan di perubahan APBD 2013. Politisi asal PKS Jatim ini juga menegaskan, penyelesaian siswa putus sekolah merupakan hal yang sangat mendesak. Jangan sampai di akhir masa jabatan Gubernur mendapat citra buruk akibat kinerja wajar 9 tahun yang belum maksimal.

Pihaknya mengatakan bahwa kondisi pendidikan di Jatim sudah sangat memprihatinkan, apalagi ditambah dengan fakta angka drop out yang demikian tinggi. Menurutnya, angka drop out di jatim tahun ajaran 2011/2012, mencapai 13.080 siswa di tingkat wajib belajar 9 tahun.

“Fenomena peserta didik putus ini tentu sangat memprihatinkan karena terjadi pada siswa wajar 9 tahun. Bahkan angka 13.080 anak yang putus sekolah tersebut tidak tergolong sedikit. Rinciannya, angka putus sekolah di tingkat SD sejumlah 4.227 siswa dan MI sejumlah 1.268 siswa. Sementara jumlah anak putus sekolah di tingkat SMP sebanyak 5.724 siwa dan MTs sebanyak 1.861 siswa,” paparnya.

Pihaknya mengakui, bila dibandingkan dengan provinsi lain, kinerja sektor pendidikan memang relatif cukup baik. Ini bisa dilihat dari indikator kinerja Jatim dibandingkan dengan rata-rata nasional. Hal ini, harus disyukuri bersama. Tapi, tetap tidak boleh menutup mata atas kinerja Jatim bila dibandingkan dari tahun ke tahun.

“Jika di lihat dari indikator kinerja angka partisipan kasar (APK) dari tahun 2010, indikatornya relative tetap. Bahkan untuk usia SLTP mengalami penurunan, dari 102.55% di tahun 2010 menjadi 102.12% di tahun 2011. Hal itu berarti pada tahun 2011 jumlah ank sekolah di tingkat SLTP dengan usia berapa pun semakin sedikit dibandingkan tahun 2010,” imbuhnya.

Sementara untuk APM usia SLTP/MTs, menunjukan angka yang relatif stagnan, 85.94% di tahun 2011. “Kalau dibulatkan ya relatif sama, ini menunjukan bahwa proporsi jumlah anak usia sekolah SLTP/MTs di tahun 2010 dan 2011 adalah sama yakni 86%,” jelas Jabir.

Data tersebut menunjukkan, terdapat 14% dari jumlah anak usia sekolah SLTP/MTs di Jatim yang tidak bisa sekolah di jenjang SLTP/MTs sejak tahun 2010 sampai 2012 Sementara di tahun 2011 ada 1.934.204 anak usia SLTP (13-15 th). Dengan demikian maka di tahun 2011 ada 270.789 (14%) anak usia sekolah SLTP/MTs yang tidak bisa sekolah di jenjang SLTP/MTs.

Bila dilihat dari angkanya, rata-rata lama sekolah tahun 2011 masih berada pada kisaran angka 8,1. Hal ini menunjukan bahwa kinerja wajar 9 tahun masih menyisakan banyak pekerjaan rumah. “Kalau wajar 9 tahun sudah beres, maka mestinya angka rata-rata lama sekolah adalah diatas 9 tahun,” tutur Jabir.(Ajeng)

Foto Galeri

© 2013 Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Jawa Timur. All Rights Reserved