Beranda   Kontak   RSS Feed   Email    
Beranda   Kontak   RSS Feed   Email    
Beranda   Kontak   RSS Feed   Email    
---- Website Resmi DPRD Provinsi Jawa Timur ----

Pedagang Tahu Tempe Terancam Gulung Tikar akibat Bahan Baku Kedelai Masih Impor

 
26 Agustus 2015

Pedagang Tahu Tempe Terancam Gulung Tikar akibat Bahan Baku Kedelai Masih Impor

Pengusaha tahu dan tempe yang selama ini mengandalkan bahan baku kedelai impor terancam gulung tikar. Menyusul melambungnya nilai dolar hingga menembus Rp14 ribu, membuat mereka kelimpungan. Sementara disatu sisi lahan tanaman kedelai setiap tahun mengalami penyusutan.

Anggota Komisi B DPRD Jatim, H. Subianto mengaku tingginya nilai dolar terhadap rupiah mengakibatkan pengusaha tahu-tempe kesulitan untuk membeli dan terancam gulung tikar.  Dikarenakan selama ini bahan baku kedelai mengandalkan impor. Ditambah dengan lahan tanaman kedelai di Jatim terus mengalami penurunan.

“Meroketnya nilai dolar memang  sangat mempengaruhi para pengusaha kecil yang bahan bakunya mengandalkan impor. Jika kondisi ekonomi terus seperti ini pasti akan banyak pengusaha tahu-tempe yang gulung tikar. Untuk itu Komisi B DPRD Jatim mendesak adanya perluasan lahan tanam kedelai,” tegas politisi asal Fraksi Demokrat.

Ditambahkan pria yang juga pengusaha sukses ini  jika luas tanaman kedelai di Jatim beberapa tahun lalu 270 ribu hektar, sekarang tinggal 210 ribu hektar dengan produksi kedelai sekitar 315 ribu ton. Sedangkan kebutuhan Jatim 450 ribu ton per tahun,  sehingga ada kekurangan 135 ribu ton. “Dan untuk memenuhi kekurangan tersebut selama ini mengandalkan impor. Jika kondisi dolar terus meroket maka para pengusaha tidak mampu membeli bahan baku. Untuk itu perluasan lahan tanam sekitar 100 ribu hektar harus dilakukan,” tambahnya.

Disisi lain, Komisi B DPRD Jatim sudah mendesak Perhutani untuk merealisasikan perluasan lahan tanam kedelai dengan memanfaatkan lahan Perhutani. Tapi sangat disayangkan hingga detik ini desakan tesebut belum terealisasi. Untuk itu Komisi B akan mendatangi Kementerian Kehutanan untuk segera merealisasikan perluasaan lahan. Mengingat saat ini, petani mendapatkan bantuan bibit dan pupuk sebesar Rp 1.700.000,00 per hektar.

Hal senada juga diungkapkan Anggota Komisi B DPRD Jatim yang lain, Zainul Lutfi. Menurutnya, kondisi pengusaha tahu dan tempe kini dalam kondisi kritis seiring dengan terpuruknya nilai rupiah terhadap dollar. Hal ini dikarenakan sebagian bahan bakunya yaitu kedelai tergantung impor. Sementara disatu sisi nilai dollar merangkak naik yang mengakibatkan harga kedelai juga mengalami peningkatan.

“Disisi lain sekarang ini daya beli measyarakat terus menurun. Bisa-bisa camilan khas orang Indonesia, yaitu tahu tempe akan hilang, seiring mahalnya dan sulitnya panganan ini ditemukan di pasar tradisional. Untuk itu pemerintah harus segera mengambil langkah strategis untuk menyelamatkan mereka,” papar politisi asal PAN ini dengan nada intonasi tinggi.

Disisi lain, seharusnya pemerintah berpikir untuk memperluas lahan kedelai dengan memanfaatkan lahan Perhutani melalui tumpangsari. Dengan begitu kedepannya Jatim khususnya tidak bergantung dengan impor. 

Foto Galeri

© 2013 Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Jawa Timur. All Rights Reserved