Beranda   Kontak   RSS Feed   Email    
Beranda   Kontak   RSS Feed   Email    
Beranda   Kontak   RSS Feed   Email    
---- Website Resmi DPRD Provinsi Jawa Timur ----

Komisi A Gelar Sinergitas "Membumikan Pancasila, Membentuk Generasi Bangsa"

 
24 Juli 2017

Komisi A Gelar Sinergitas "Membumikan Pancasila, Membentuk Generasi Bangsa"

Komisi A DPRD Jawa Timur mengagas Dialog Publik di Gedung Dewan Jatim, Senin (24/7) siang. Gagasan Dialog Publik ini, untuk menangkal aksi terorisme, ajaran-ajaran kekerasan yang mengancam persatuan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Ketua Komisi A DPRD Jatim Freddy Poernomo mengatakan, berbagai kesempatan, diskusi-diskusi yang pernah dilakukan Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur dengan pelbagai macam Ormas memunculkan temuan tentang gurita pergerakan kelompok ekstrim berkedok Agama. 

"Beberapa temuan hasil diskusi itu menunjuk pada adanya 19 faksi dalam gerakan Negara Islam Indonesia (NII) yang beberapa diantaranya menggunakan cara-cara kekerasan, termasuk terorisme," terang Freddy Poernomo disela-sela Forum Sinergitas Diskusi Publik Dalam Rangka Membumikan Pancasila Membentuk Generasi Bangsa, di Gedung DPRD Provinsi Jatim.

Sementara faksi yang lainnya, lanjut politisi yang memiliki basis pendidikan Resimen Mahasiswa (Menwa) ini,  menggunakan cara- cara yang lebih kultural, baik dalam proses penanaman doktrin radikal maupun dalam cara-cara penggalangan dana gerakan.

Ia menyebutkan, saat ini mulai muncul arah gerakan radikalisme yang berbalut agama itu sendiri dapat dikelompokkan menjadi dua katagori.

Kelompok pertama, yaitu:  Radikalisme Struktural-Politik yang mengarah pada terorisme bersenjata dan perubahan sistem politik, dari sistem politik berbasis ideologi negara RI, menjadi sistem politik teosentris.

Kelompok kedua, adalah Radikalisme Kultural yang ditandai oleh perubahan sikap mental dan cara pandang dari yang antroposentris menjadi sikap mental dan cara pandang yang bersifat teosentris dan eksklusif. Sikap mental dan cara pandang teosentris yang eksklusif itu ditandai oleh kecenderungan untuk menolak semua yang berbeda dari sistem keyakinan dan pola ritual yang diyakini oleh kelompoknya. 

"Dalam jangka panjang, gerakan radikalisme kultural dapat menjadi bibit persemaian kader-kader terorisme dibentuk dan dilahirkan," katanya penuh kekhawatiran.

Ia menyebutkan, gerakan Radikalisme Struktural-Politik kebanyakan telah diidentifikasi dan ditangani oleh aparat Kepolisian RI, khususnya oleh Densus 88 Mabes Polri. Dalam kaitan dengan itu, Pemerintah secara politis telah mengeluarkan kebijakan resmi untuk memantau, mencegah dan mengeleminasi gerakan terorisme.  

Dalam konteks penanggulangan bibit-bibit terorisme, menurut Freddy Poernomo yang juga anggota Fraksi Partai Golkar menyebutkan, pemahaman yang perlu dibangun pertama adalah diterimanya sebuah kenyataan bahwa dalam relasi kehidupan manusia, identitas senantiasa hadir dalam keragaman.

Disampaikan Freddy, tujuan dilakukan kegiatan untuk membangun kesadaran mengenai nilai-nilai kebangsaan dan kebhineka-an dalam rangka pencegahan gerakan-gerakan radikalisme dan terorisme di Jawa Timur.

Untuk itu, tujuan kusus, memberi gambaran tentang tantangan ke depan bagi masyarakat, khususnya lembaga-lembaga pendidikan dalam menghadapi ancaman radikalisme dan terorisme. "Kami berharap ada perumusan bersama, terkait langkah apa yang dapat dilakukan untuk menghadapi radikalisme dan terorisme di dalam dunia pendidikan," ujar dia.

Turut hadir dalam kegiatan itu, Ketua DPRD Provensi Jatim Halim Iskandar, Wakil Ketua Soenarjo (Partai Golkar), Tjutjuk Sunario (Partai Gerindra), Kusnadi (PDI Perjuangan) dan Ahmad Iskandar (Partai Demokrat), Rektor PTN/PTS se Jatim, Kepala Bakesbangpol kab/kota se Jatim, Kepala Dinas Pendidikan kab/kota se Jatim, dan Pejabat di lingkungan Pemprov. Jatim.

Sementara itu, Gubernur Jatim Dr H Soekarwo mengusulkan penerapan praktik terbaik dalam Grand Desain pendidikan karakter. Upaya ini untuk mendukung program pembelajaran, sehingga kesadaran masyarakat yang dilakukan pemerintah sesuai Amanat Undang Undang.

“Dalam proses pembelajaran perlu dibangun kesadaran masyarakat untuk melakukan Best Practices,” terang Soekarwo.

Pakde Karwo menjelaskan, melalui best  practice yang ditunjang dengan teori pendidikan, agama, Pancasila, dan UUD 1945 akan mampu menciptakan nilai-nilai luhur. Selain itu, dengan dukungan satuan pendidikan, keluarga dan masyarakat maka diharapkan akan mencetak Generasi berkarakter. “Semua upaya tersebut merupakan upaya untuk menjadikan penerus Bangsa yang tangguh, kompetitif, toleran, berorientasi pada ilmu pengetahuan dan semuanya dijiwai oleh iman dan takwa kepada Tuhan YME berdasarkan Pancasila,” terangnya

Lebih lanjut disampaikan, pendidikan karakter merupakan cara terbaik yang menjamin Peserta didik memiliki kepribadian yang baik dalam kehidupannya. Disamping itu, melalui pendidikan karakter akan membantu Peserta didik untuk mau menghormati pihak lain dalam hidup bermasyarakat yang beragam.  Lewat pendidikan karakter yang berpedoman pada Pancasila, diharapkan juga mampu memelihara nilai budaya sebagai upaya melestarikan peradaban dan kearifan lokal. “Kita jangan sampai mengganggu rumusan lokal yang sudah tumbuh di Daerah. Pendidikan kultural ini jangan sampai luntur,” ujar Pakde Karwo.

Pakde Karwo menambahkan, nilai-nilai ujung tonggak dalam pengembangan karakter yaitu kejujuran, kecerdasan, tanggung jawab, kebersihan, kedisiplinan, tolong-menolong, dan yang terpenting kereligiusan. “Negara yang maju adalah Negara yang tuntas dalam kebudayaan, namun Jawa Timur melebihi itu karena ada komponen spiritual atau religius di dalamnya,” pungkasnya. 

Foto Galeri

© 2013 Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Jawa Timur. All Rights Reserved