Beranda   Kontak   RSS Feed   Email    
Beranda   Kontak   RSS Feed   Email    
Beranda   Kontak   RSS Feed   Email    
---- Website Resmi DPRD Provinsi Jawa Timur ----

Penolakan Imunisasi Campak dan Rubella Adalah Hak Harus Dihormati

 
22 Agustus 2017

Penolakan Imunisasi Campak dan Rubella Adalah Hak Harus Dihormati

DPRD Jatim menilai masyarakat seharusnya turut serta dalam Program Imunisasi Campak dan Rubela. Data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Jatim mencatat, untuk imunisasi rubella masih sangat sedikit. 

Anggota Komisi E DPRD Jatim Moch. Eksan mengatakan, imunisasi ini untuk mendukung generasi sehat. Seharusnya segala imunisasi untuk anak didukung, karena konsteksnya agar semua anak dan balita memiliki anti bodi dalam melakukan aktifitas. 

"Generasi sehat jauh lebih baik dari pada generasi sakit. Semua imunisasi ini merupakan ikhtiar untuk menciptakan generasi sehat," ujar Eksan, Senin (21/8). 

Mengenai adanya penolakan yang terjadi pada imunisasi rubella ini, hingga menimbulkan keengganan melakukannya. Politisi asal Partai Nasdem tersebut mengakui hal itu merupakan hak mereka dan harus dihormati. 

Namun, dirinya mengingatkan, kepastian akan kandungan dalam imunisasi adalah kewenangan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

"Tetapi saya melihat, semestinya Pemerintah sudah melakukan kajian tentang kemanannya dan keabsahanya sebelum di bagikan ke masyarakat," urainya saat ditemui. 

Kepala Dinkes Jatim Kohar Hari Santoso mengakui, ada beberapa kelompok yang belum paham tentang imunisasi campak dan rubella. Mereka terkesan menolak. masyarakat menganggap penyakit yang sering disebut gabaken ini, telah dianggap biasa. Tetapi setelah diberikan penjelasan mengenai pentingnya imunisasi terhadap penyakit yang menyerang anak usia sekolah ini. Mereka pun sadar.

"Total sasaran kami yaitu 8.468.603 jiwa anak umur 9-15 tahun. Kami tidak bisa menghitung secara pasti, sudah berapa yang terjangkit di Jatim. Sebab, ada yang sakit campak tapi tidak lama. Dan, ada pula yang diperiksa ternyata ada rubellanya," kata Kohar. 

Imunisasi ini sendiri, menurut Kohar adalah upaya Pemprov Jatim dalam memblokade penyakit rubella. Dimana tingkatan menularnya cukup tinggi. "Ini jadi program prioritas kemenkes. Karena sudah 141 Negara melakukan imunisasi rubella, dan kita termasuk yang terlambat," bebernya. 

Data yang dimiliki Dinkes, kendati tidak ada data akuratnya. Hasil laboratorium yang masuk menyebutkan, pada 2015 jumlah kasus diambil spesimen serum sebanyak 1.625, suspek campak 158 dan rubella 525. Setahun berikutnya, dari 1.439, yang campak 101 dan rubella 188. Jumlah tersebut terus menurun di 2017, dari 1004, campak sebanyak 239 dan rubella 58. Sedangkan pengidap paling banyak pada anak usia 5-9 tahun

Foto Galeri

© 2013 Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Jawa Timur. All Rights Reserved