single
Anwar Sadad Ajak Mahasiswa UNIRA Ikut Sumbang Pemikiran Dalam Pembangunan
Wakil ketua DPRD Jatim Anwar Sadad mengajak mahasiswa Universitas Madura (UNIRA) Pamekasan ikut berpartisipasi dalam pembangunan. Sebab civitas kampus merupakan salah satu motor pemberdayaan masyarakat. 
 
Pernyataan itu disampaikan Anwar Sadad saat didapuk menjadi narasumber dalam Talkshow Nasional dengan tema "Pemberdayaan Masyarakat dalam Stabilitas Ekonomi Madura Untuk Jawa Timur Bangkit" yang digelar kampus UNIRA Pamekasan pada Rabu (27/7/2022).
 
"Dari kalangan kampus yang diharapkan dalam pembangunan dan pemberdayaan   adalah munculnya gagasan dan pemikiran yang dapat mempercepat pembangunan  kemanfaatannya bisa dinikmati  masyarakat secara luas," kata ketua DPD Partai Gerindra Jatim ini.
 
Selain kampus, konsep pemberdayaan haruslah melibatkan (partisipatoris) masyarakat sesuai dengan kebutuhan mereka. "Carilah cara-cara konsep pemberdayaan yang harus melibatkan masyarakat (partisipatoris) bukan top down dan mobilisasi," harap pria berdarah Madura ini. 
 
Motor pembangunan selanjutnya adalah privat sector (swasta). Pasalnya, urusan publik tak bisa ditangani pemerintah sendirian sehingga swasta dibutuhkan dalam proses empowering (pemberdayaan). Terlebih anggaran pemerintah itu terbatas sehingga hanya menjadi stimulan dan treager pembangunan.
 
"APBD yang bisa dialokasikan untuk pembangunan dan pemberdayaan masyarakat itu hanya 30 persen dari total APBD. Bahkan jika ditotal kekuatan APBD Provinsi dan Kabupaten/Kota di Jatim itu tak lebih dari 70 triliun. Padahal PDRB Jatim dikisaran 1800 triliun," beber Anwar Sadad.
 
Motor pembangunan selanjutnya adalah 
Pemerintah. Oleh karena itu dalam proses pemberdayaan masyarakat, pemerintah  harus melihat banyak hal agar seluruh kebijakan yang dibuat bisa bermanfaat bagi masyarakat karena DPRD dan Kepala Daerah memiliki kewenangan yang diatur oleh UU. 
 
"Kunci untuk pemberdayaan masyarakat Madura dan Jatim Bankit adalah adanya sinergitas seluruh sektor agar pemberdayaan masyarakat yang diharapkan bisa tercapai dengan baik," beber Sadad. 
 
Ia mengakui masyarakat Madura memiliki jiwa enterprenure hal itu dibuktikan hampir di seluruh daerah di Indonesia bahkan dunia ada orang Madura.  
 
"Saya pernah ke Amerika mengikuti konvensi ternyata ada orang Madura yang menjadi koki restoran Jepang. Ini bukti kalau orang Madura itu ingin hidup lebih sejahtera walaupun harus merantau ke luar negeri," kelakar politikus murah senyum ini. 
 
Secara khusus Sadad juga memotivasi mahasiswa agar jangan hanya membaca buku tapi juga berdiskusi dan menulis. "Saya waktu mahasiswa aktif di press kampus bahkan pernah mendapat tugas mewawancarai tokoh nasional masyarakat Madani, AS Hikam dan Soetjipto Wirosarjono walaupun harus naik bus ke Jakarta," kenangnya. 
 
Menurutnya, teori maupun konsep pemberdayaan yang banyak dianut masyarakat di berbagai belahan dunia itu pada mulanya muncul sebagai antitesis teori developmentalisme yang muncul sebagai jawaban akibat era keterpurukan dunia akibat perang dunia. 
 
Oleh karena itu konsep pembangunan awalnya adalah untuk mempercepat recovery paska perang dunia. Namun keblabasan hingga sekarang sehingga konsep trickle down effect (menetes ke bawah) jarang menjadi kenyataan dan justru ketimpangan yang muncul.
 
"Bang Haji Rhoma Irama tak percaya dengan konsep tersebut sebab yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin. Ketimbangan banyak terlihat di masyarakat itu akibat pembangunan yang tak merata," pungkas alumnus UIN Sunan Ampel Surabaya ini.