single
Apel Batu Hanya Sebagai Kenangan

Suara Indrapura : Masalah penurunan produksi apel Batu perlu perhatian serius agar Batu sebagai ikon kota buah Apel tidak hanya sebagai kenangan saja.

Arif Hari Setiawan, ST.,MT anggota Komisi C DPRD Jatim mengatakan, penurunan produksi apel di sentra produksi buah itu bahkan sudah mulai terjadi sejak beberapa tahun terakhir. Penyebabnya ialah suhu udara di Kota Batu yang tidak lagi sesejuk dulu, beragam jenis hama dan penyakit tanaman, serta sulitnya memutar modal tanam dan kerja di kalangan petani apel akibat harga pestisida yang relatif mahal.

Dalam sepuluh tahun terakhir terjadi peningkatan suhu yang drastis di Kota Batu. "Sepuluh tahun lalu suhu udara di Kota Batu masih berada pada kisaran 16 derajat Celcius, sekarang rata-rata sudah 24 derajat Celcius," Kata Arif yang juga asli Arema ini.

Selain masalah Apel, infrastruktur kota Batu sudah mulai banyak yang mengalami kerusakan, jalan menuju arah Batu sudah mulai sesak dengan padatnya arus lalulintas. Kota pariwisata yang dulunya sejuk indah dan dingin sekarang sudah berubah menjadi panas dan berpolusi.

Untuk itu Politisi yang akan mencalonkan bupati malang ini mendorong pemerintah daerah dan legislativ cepat menangani gejala perubahan yang terjadi di kota Batu. Bergesernya petani dari petani apel beralih kepetani bunga menurut Arief sangat disesalkan. Karena tidak semua petani mampu menanam dan merawat apel dengan baik, jika tanaman bunga menjanjikan atau berpotensi meningkatkan kesejahteraannya, maka yang perlu dipelajari adalah bagaimana petani apel mampu berperan ganda dalam mengolah budidayanya. Katanya

Bertani apel juga mengolah tanaman bunga, dengan demikian selain kita dapat melestarikan pohon apel juga dapat memberi kesempatan pada petani untuk mengembangkan bisnisnya pada tanaman bunga. Yang perlu diperhatikan meruurt Arief adalah bagaimana petani mampu mengelola dengan sejumlah anggaran yang harus disiapkan awal dengan fress money.

Politisi asal PKS ini mendorong pemerintah daerah cepat membantu kebutuhan masyarakat petani setempat mulai dari bibit, saprodi serta fress money untuk kebutuhan hidup keluarga serta kelangsungan percontohan yang akan dilakukan. Paparnya (Eka)