single
Dewan : Naif Jika Jatim Impor Beras

Suara Indrapura: Aspirasi Himpunan Kerukunan Tani Indonesia(HKTI) Jatim ke Komisi B DPRD Jatim, terus menggelinding. Saat hearing dengan anggota komisi B, ketua HKTI Yusuf Husni Apt, memohon agar Jatim melakukan impor beras langsung mendapat penolakan dariAgus Dono Wibawanto, Anggota Komisi B. Menurutnya stok beras di Jatim masih mencukupi. Bahkan saat ini Jatim diperkirakan masih over stok jutaan ton yang yang belum terbeli oleh Bulog. Sangat naïf jika Jatim dikenal dengan lumbung beras, tiba-tiba ada permintaan impor beras. Sepanjang untuk bufferstock (penyangga pangan, red), impor tidak masalah asalkan tidak di Jatim. Kelebihan stok beras kita mencapai hingga 4 juta ton lebih. Kalau ingin melihat stok beras di Jatim, jangan dilihat di gudang Bulog saja. Tapi silahkan di petani, kata Politikus muda kader Parta Demokrat usai rapat paripurna denganagenda pertanggungjawaban gubernur atas pelaksanaan APBD 2010, di Gedung DPRD Jatim,

Senada dengan gubernur,  Fraksi PDI Perjuangan menolak impor beras masuk Jawa Timur. Sebaliknya FPDIP menilai kinerja Bulog Drive Jatim selama ini dianggap payah lantaran tidak mampu memenuhi target serapan beras dari petani sesuai target sebanyak 3,5 juta ton. Sementara realisasi Bulog Divre Jatim hanya mampu memenuhi 1,6 juta ton.
"Fraksi PDI Perjuangan menolak tegas impor beras masuk ke Jawa Timur. Karena kesalahan bukan pada petani, namun pada Bulog yang tidak mampu menyerap beras petani," urai Sugiono, Rabu (27/7) saat menyampaikan pandangan akhir fraksi atas pelaksanaan APBD Propinsi Jawa Timur Tahun Anggaran 2010.

Meski ada kekisruhan terkait kebutuhan beras, lanjut Sugiono ternyata Pemprov Jatim tidak pernah melakukan penelitian mengapa Bulog tidak mampu membeli beras petani kurang dari 46 %. "Untuk itu, jangan salahkan petani menjual beras maupun gabah di luar Bulog. Karena pada prakteknya, Bulog tidak pernah fair terhadap warga," tegas Sugiono.
Protes keras itu, menurut Sugiono dilakukan, karena selama ini kebijakan Bulog dan pemerintah tidak banyak membela kebutuhan rakyat. Buktinya, harga beras saat ini, masih saja tidak terjangkau . "Seharusnya harga beras tidak lebih dari Rp 5 ribu/kilogram sesuai Inpres Nomor 7 tahun 2009. Namun pada kenyataanya harga beras bisa mencapai Rp 6000/kilogram. Harga ini, jelas mencekik masyarakat," terang dia.