single
Faf Adisiswo; Petani Tembakau Jangan Dirugikan

Suara Indrapura: Petani pemasok tembakau Kabupaten Bojonegoro telah menyiapkan hasil panennya ke beberapa industri rokok. Tembakau yang dihasilkan menurut beberapa pengamat cukup berkualitas. Sehingga tidak salah jika PT Gudang Garam Kediri siap menebas tembakau hasil panen para petani Bojonegoro.

Wakil Ketua DPRD Jatim Faf adisiwo mengatakan untuk meraih kualitas tembakau pilihan, para petani perlu diajarkan atau diperkenalkan tentang program “Praktik Pertanian yang Baik” atau Good Agricultural Practices. Program ini bertujuan mendukung petani dalam mengembangkan usaha pertanian tembakau yang berkualitas secara berkelanjutan. Sebagai hasil kemitraan ini, pemasok dan petani senantiasa sanggup memberikan pasokan tembakau berkualitas bagi pabrik yang siap membeli hasilnya.

Faf menambahkan pemerintah selayaknya memberi patokan harga terendah, sehingga petani tembakau tidak merasa was-was jika melakukan penjualan hasil produksinya. Kalau harga yang menetapkan perusahaan, maka yang pasti petani merasa dirugikan, paparnya

Penentuan harga, menurut Faf juga perlu diketemukan antara asosiasi petani tembakau, pihak pembeli dan pemerintah secara bersama-sama berdiskusi tentang harga yang akan ditetapkan, kami sarankan jangan sampai terjadi perang harga. Ungkap Politisi dari Partai Gerindra ini dengan nada serius 

Sementara PT Gudang Garam mengumumkan akan mulai melakukan pembelian tembakau, pertengahan bulan Agustus ini," kata Kepala Bidang Usaha Perkebunan Dinas Perhutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Bojonegoro, Khoirul Insan, Perusahaan rokok itu, lanjutnya, melakukan pembelian tembakau rajangan selalu yang pertama, karena bermitra dengan para petani dalam menanam tembakau."Pabrikan dan pengusaha tembakau lainnya yang bermitra dengan petani belum ada laporan waktu pembelian tembakau," katanya.

Dihubungi terpisah, Kepala Dishutbun Bojonegoro, Achmad Djupari mengaku, belum ada patokan harga yang diumumkan pabrikan dalam melakukan pembelian tembakau di wilayahnya.

Namun, lanjutnya, pabrikan dan pengusaha tembakau, secara informal sudah mulai perang harga, setelah melihat perkembangan tembakau di Bojonegoro, membaik. "Belum ada patokan harga yang dibuat, biasanya mendekati waktu pembelian baru ada patokan harga," katanya.

Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Desa Sugihwaras, Kecamatan Sugihwaras, Ali Huda menjelaskan, di sejumlah desa di Kecamatan Sugihwaras, para petani sudah mulai melakukan panen tembakau "gowok" atau petikan pertama. "Harga daun basah petikan pertama cukup tinggi mencapai Rp3.000 per kilogram," jelasnya.