single
Jember Potensi KembangkanTembakau

Suara Indrapura : Akhir-akhir ini perbincangan tentang tembakau dan produk turunannya masih sangat hangat diperdebatkan. Pada titik simpul yang lain paling tidak pada tahun 2008 dikeluarkan tentang fatwa haram rokok (baca:industri hasil tembakau), tahun 2009 dikeluarkan undang-undang No. 36 Tahun 2009 tentang kesehatan dan tahun 2010 (masih dalam bentuk RPP) akan dikeluarkan tentang RPP pengamanan produk tembakau. Senada dengan fatwa MUI, maret 2010 fatwa haram rokok juga dikeluarkan oleh organisasi masa lainya.

Anggota Komisi B DPRD Jatim Hj. Mundjidah Wahab saat dikonfirmasi reporter media online usai sosialiasi di Pasuruan (Kamis, 24/05) mengatakan bahwa industri pertembakauan merupakan kesatuan industri dari usahatani, industri pengolahan, pemasarannya dan industri hasil tembakaunya. Masalah tembakau dapat diartikulasikan dalam domain yang terintegrasi dengan semua elemen yang ada di didalamnya baik dari onfarm business-nya maupun dari off-farm business-nya. Tembakau sangat terkait dengan petani sebagai penghasil tembakau dan juga industri rokok sebagai penyerap tembakau untuk dibuat dalam industri hasil tembakau. Katanya

Politikus asal PPP ini menambahkan bahwa data menunjukkan pada kita bahwa paling tidak masih terdapat eksistensi penglohan komoditas tembakau yang begitu luar biasa. Terlihat dari hamparan luas areal tembakau di Indonesia dengan rata-rata 185.785 ha dan mampu berproduksi sebesar 150.305 ton per tahun (Pusdatin Deptan, 2008). Secara spasial juga terlihat bahwa dominasi spasial tembakau tersebar dibeberapa wilayah Indonesia. Dari luas wilayah tersebut, 60% diantaranya berada di di Jawa Timur, 16% di Jawa Tengah dan DIY, 15% berada di Nusa Tenggara Barat, dan sisanya menyebar di seluruh Indonesia. Hal ini mengindikasikan bahwa tembakau merupakan komoditas spesifik Indonesia.

Untuk itu Nyai Munjidah berharap Jember mampu meningkatkan produksi tembakaunya, karena Jember memiliki struktur tanah yang berbeda dengan daerah lain. Katanya (Aries)