single
Komisi B Dorong Dinas Peternakan Jatim Lengkapi Alat Uji Sertifikasi Pakan Ternak - Produksi pakan ternak tetap lancar selama Pandemi Covid-19
Jelang ramadhan dan lebaran Idul Fitri 1442 H/2021 M, Komisi B DPRD Jatim bersama Dinas Peternakan Jatim melakukan kunjungan kerja ke salah satu produsen pakan ternak unggas di Wringinanom Gresik. Tepatnya ke PT Malindo Feedmill Tbk untuk memastikan ketersediaan pakan ternak di Jatim, agar produksi daging ternak unggas, sapi, dan ikan di Jatim tetap terjaga. 
 
Rombongan komisi bidang perekonomian DPRD Jatim dipimpin oleh Wakil ketua Komisi B,  Amar Syaifuddin, dan Mahdi didampingi beberapa anggota, diantaranya Dwi Hari Cahyono, Rohani Siswanto, Go Tjong Ping, SW Nugroho, Agatha Retnosari, Noer Sutjipto, Agung Mulyono dan Subianto ditemui langsung oleh Brand Manager PT Malindo FeedMill Tbk Wayan dan Senior Manager Legal PT Malindo FeedMill Tbk Kasan.
 
"Kami kesini ingin memastikan stok pakan ternak di Jatim tercukupi dan aman untuk beberapa bulan kedepan.  Dan selama Pandemi Covid-19 produksi pakan juga tidak terganggu," kata politikus asal FPAN DPRD Jatim, Selasa (6/4/2021).
 
Dijelaskan Amar, kontribusi Provinsi Jatim terhadap ketahanan pangan nasional termasuk daging sangat besar. Begitu juga keberadaan pabrik pakan ternak di Jatim sekitar 34 perusahaan berskala besar. sehingga keduanya saling berkaitan untuk menjaga ketersediaan daging bagi masyarakat Jatim saat puasa dan lebaran.
 
"Kendala yang dialami perusahaan pakan ternak adalah lambatnya proses sertifikasi hingga setahun. Bahkan terpaksa melakukannya di luar Jatim. Makanya DPRD Jatim mendorong Dinas Peternakan segera melengkapi alat uji sertifikasi yang tinggal uji Asam Amino saja dan biayanya hanya Rp.5 miliar tapi potensinya sangat besar bukan hanya melayani Jatim," pinta Amar Syaifuddin.
 
Sementara itu, anggota Komisi B Rohani mempertanyakan sejauhmana pola kemitraan PT Malindo FeedMill Tbk dengan peternak unggas, serta pelaporan populasi ternak. Mengingat, dalam Permentan ada aturan perusahaan pakan ternak harus memberikan laporan secara periodik kepada pemerintah daerah.
 
Anggota Komisi B DPRD Jatim lainnya, Dwi Hari Cahyono mempertanyakan soal ketersediaan bahan baku jagung diperoleh dari mana, serta CSR PT Malindo Feedmill diberikan kemana saja dan peternak mitra yang sukses dimana saja.
 
"Paling tidak kalau kita mendapat data yang kongkret, saat reses atau kunjungan dapil anggota DPRD Jatim bisa menemui para peternak mitra yang sudah sukses tersebut sehingga diharapkan bisa ditularkan ke peternak yang lain," harap politisi asal PKS.
 
Menanggapi hal tersebut, Brand Manager PT Malindo FeedMill Tbk Wayan mengatakan bahwa kendala utama produksi pakan ternak hanya menyangkut lamanya proses mendapatkan sertifikasi karena di Jatim belum lengkap, sehingga untuk melaunching produk baru waktuya hampir setahun. Padahal inovasi produk terus dikembangkan.
 
"Kalau bisa untuk mendapatkan sertifikat uji pakan tidak lebih dari tiga bulan tak tak usah harus ke luar Jatim sehingga memudahkan koordinasi," kata Wayan.
 
Ia juga berharap petani di Jatim yang  menanam jagung bisa lebih banyak karena kebutuhan jagung sangat besar dan harganya juga cukup stabil kisaran Rp.4 ribu hingga Rp.5 ribu /kg kondisi kering jemur. 
 
"Jagung itu bukan hanya untuk bahan produksi industri pakan tetapi juga industri makanan dan minuman, sehingga kebutuhan industri sangat besar dan harganya cukup stabil. Di perusahaan kami kebutuhan perbulan sebanyak 24 ribu ton jagung," jelas pria asal Bali ini.
 
Senada, senior manager legal PT Malindo Feedmill Tbk Kasan menambahkan pola kemitraan yang dilakukan perusahaan dengan peternak unggas meliputi ketersediaan pakan, bibit unggas potong, penjualan hingga managemen. 
 
"Tapi kami juga memasang target, jika sampai tiga kali peternak mitra gagal memenuhi target ya terpaksa kami putus kontrak sebab perusahaan juga tidak mau merugi terlalu banyak," dalih Kasan. 
 
Hal itulah yang menyebabkan di beberapa daerah banyak dijumpai kandang ayam potong yang kosong, lantaran peternak mitra tersebut perilakunya kurang baik.
 
"Kalau sudah mendapat penilaian kurang baik dari perusahaan mitra, tentu akan sulit mendapatkan mitra dari perusahaan yang lain sebab diantara perusahaan pakan pasti saling memberitahu," ungkap Kasan.
 
Di sisi lain, peternak mandiri modalnya memang cukup besar, namun keuntungan yang mereka dapat juga lebih besar. Hanya saja jika harga pasar ayam potong turun drastis mereka juga akan rugi banyak karena biaya produksi lebih besar daripada harga panen. 
 
Ia mengakui pelaporan populasi unggas melalui pola kemitraan dan pembelian dari peternak mandiri juga dilaporkan secara periodik tiga bulanan. Namun karena masa produksi cukup pendek kisaran 35 hari sehingga pelaporannya sering menumpuk.    
 
Masih di tempat yang sama, Sri Puji Astutik Kabid Pembibitan dan Produksi Peternakan Dinas Peternakan Jatim menyatakan jumlah perusahaan pakan ternak di Jatim ada 34 yang mayoritas memproduksi pakan unggas. 
 
"Ternak unggas memang menjadi primadona masyarakat karena mudah didapat dan terjangkau harganya serta bisa menjadi sumber protein hewani. Makanya kenapa kita kunjungan kesini karena memang yang mayoritas adalah untuk ruminasia tapi hanya beberapa saja untuk  unggas petelur," jelas Astutik. 
 
Produksi unggas di Jatim untuk unggas petelor menempati peringkat pertama nasional. Sedangkkan untuk unggas pedaging menempati peringkkat kedua nasional. "Jadi kontribusi Jatim untuk unggas sangat besar bagi nasional," jelasnya.
 
Ia mengakui dari 30 jenis uji sertifikasi pakan yang dimiliki Dinas Peternkan Jatim tinggal uji Asam Amino saja yang belum dimiliki alatnya. Sehingga perusahaan yang mengajukan uji Asam Amino belum bisa dilayani dan harus ke luar Jatim. Kendati demikian sertifikasi yang dikeluarkan Dinas Peternakan Jatim sudah bertaraf ISO 9001. 
 
"Investasi alat uji Asam Amino itu membutuhkan dana kisaran Rp.5 miliar. Namun pihaknya optimis potensi pendapatan yang dihasilkan akan semakin besar karena bukan hanya melayani untuk Jatim tapi juga bisa seluruh wilayah Indonesia," pungkas Astutik.