single
Komisi E DPRD Jatim Sebut Efek Vaksin Tergantung Kondisi Tubuh Seseorang
Pemerintah Indonesia akan melakukan vaksinasi kepada masyarakat. Namun saat ini yang menjadi perdebatan adalah isu adanya kandungan zat babi dalam vaksin AstraZeneca. Meskipun NU dan MUI sudah menyatakan halal dan aman.
 
Anggota Komisi E DPRD Jatim dr Benjamin Kristianto MARS menegaskan, semua produk kesehatan dipastikan sudah melalui uji klinis, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir keamanannya. Hanya saja, terkadang pembuatan produk tersebut diambilkan dari suatu zat tertentu untuk menstabil.
 
Benjamin lantas mencontohkan, insulin yang salah satu campuran bahannya dari dari ekstrak babi. Meskipun ada kandungan dari ekstrak hewan yang diharamkan menurut agama islam, vaksin masih banyak memiliki manfaat buat kesehatan.
 
Dalam dunia kedokteran, penelitian tidak melihat kandungan yang ada dalam obat atau vaksin. Peneliti hanya melihat manfaat vaksin yang dibuatnya, apakah bisa menyelamatkan nyawa orang atau tidak.
 
"Yang ditekankan adalah asas manfaatnya yakni menyelematkan seseorang dari kematian akibat suatu (penyakit atau virus)," ucap pria yang akrab disapa dr. Beny, Senin ( 22/3).
 
Politisi asal Partai Gerindra itu menjelaskan, bahwa kondisi tubuh seseorang di suatu negara tidak bisa disamakan dengan di Indonesia. Dia mencontohkan seseorang  yang diberi obat antibiotik. 
Terkadang ada seseorang yang alergi dengan obat antibiotik, sehingga terjadi shock ketika obat dimasukkan ke tubuhnya.
 
"Umpama saya memberi obat antibiotik. Sebenarnya obat itu tidak ada efek samping. Namun dalam tubuh seseorang orang tersebut ada alergi, dan dokter tidak tahu, maka bisa terjadi shock," terang dr. Beny. 
 
Jika memang vaksin tersebut berbahaya,orang yang pernah disuntik vaksin akan meninggal atau memiliki efek samping yang sama.
 
Sebaliknya, jika yang merasakan dampaknya hanya beberapa orang saja dari seribu orang, berarti vaksin tidak ada masalah. Efek samping dari vaksin akibat seseorang yang akan vaksin mempunyai alergi orang. Mengingat tiap orang memiliki oto imun yang berbeda-beda.
 
Benyamin menyebut sebelum seseorang divaksin, maka harus melalui tracing terlebih. Masyarakat harus mendaftar terlebih dulu, selanjutnya diperiksa kondisi dan riwayat penyakit yang dimilikinya. 
 
"Orang sebelum vaksin daftar dulu ke tempat pendaftaran. Selanjutnya diperiksa kesehatan," pungkas pria asal Sidoarjo ini.