single
Lilik Hendarwati Dukung PTM Namun Ingatkan Tetap Jaga Prokes

Anggota DPRD provinsi Jatim Hj Lilik Hendarwati mengungkapkan bahwa pihaknya memberikan apresiasi dan dukungan penuh kebijakan program sekolah tatap muka. Hal tersebut diungkapkan mengingat semakin banyaknya orang tua yang kewalahan menangani anak-anak usia sekolah yang lebih sibuk menghabiskan waktunya untuk bermain game, dari pada menyelesaikan tugas-tugas sekolahnya. Sabtu (4/9/2021)

Lilik mengaku, dirinya melihat kondisi di Dapilnya Jatim1 ini sudah zona kuning, artinya untuk kegiatan belajar mengajar dalam lingkungan sekolah, dianggap sudah aman. Meskipun demikian, Lilik mengingatkan agar pihak di lingkungan sekolah, benar-benar menjaga Prokes, agar tujuan pembelajaran tatap muka (PTM) ini benar-benar sehat berkualitas.

"Saya sampaikan apresiasi dan dukungan penuh kepada pemerintah kota Surabaya. Wilayah Surabaya Alhamdulillah sudah zona kuning, artinya untuk kegiatan belajar mengajar off line sudah memungkinkan," terang politisi PKS ini. 

Lilik menuturkan, jadi begini, saya melihat bahwa dalam 
pekan kemarin memang sudah ada penurunan angka penderita covid. Surabaya sudah jadi zona kuning, mudah-mudahan itu terus membaik, tidak naik lagi, tapi malah bisa menjadi zona hijau.

"Artinya kerinduan dari beberapa unsur elemen begitu membuncah. Baik sektor pendidikan, sektor pariwisata, dan sektor-sektor yang lain, terutama di sektor ekonomi.
Saya yakin itu sudah cukup menggelora. Jadi sudah waktunya untuk kembali kepada suasana normal, walaupun mungkin kita harus beradaptasi dengan kehidupan normal baru," sambung Anggota komisi C ini.

Lilik menyampaikan, meskipun kondisi lingkungan sudah membaik, tentunya  kita tidak boleh lepas sebuah bentuk kewaspadaan dari kita semuanya terhadap pandemi yang sekarang ini kita alami. Hampir 2 tahun belakangan ini kita dihadapkan pada kemelut berkepanjangan. Kita harus belajar untuk benar-benar menanggulangi pandemi ini.

"Sekolah harus menyiapkan management, disamping kesiapan fasilitas infrastruktur, adanya Satgas yang akan memantau secara intensif kegiatan sekolah tatap muka ini. Penetapan Prokes harus benar-benar dilaksanakan. Kalau anak-anak SD, SMP aja mungkin masih sulit untuk dikendalikan. Biasanya kalau ketemu itu kan ya main bersama-sama. Gaya-gaya anak-anak ketika bertemu itu kadang sulit dilerai," lanjutnya.

"Tentunya ini juga menjadi perhatian kita, sudah lama enggak ketemu dengan teman-temannya, kalau ketemu biasanya kabur-kaburan. Mungkin perlu untuk diberikan pemahaman kepada anak-anak agar selalu menjaga jarak, menggunakan masker dan rajin mencuci tangan dengan sabun. Alhamdulillah di Surabaya ini sudah ada vaksinasi bagi para guru dan siswa. Saya kira sangat penting, karena tentunya tidak sekedar untuk melindungi diri mereka sendiri, tetapi juga untuk melindungi anak-anak kita, guru-gurunya juga sudah melakukan vaksinasi semua. Insya Allah ikhtiar kita bisa mencegah dan mengurangi penyebaran Covid-19 segera terwujud," urainya.

Lilik menambahkan, menurutnya ada beberapa SMA di Surabaya ini memang mengeluhkan terkait  ketidakadaan dana untuk pembiayaan fasilitas, seperti westafel untuk cuci tangan di depan kelas-kelas. Banyak kebutuhan-kebutuhan yang biasanya dibantu BOS, sekarang tidak ada lagi bantuan tersebut.

"Saya kira yang terbaik adalah peran serta dari para wali murid dalam bentuk komite.  Untuk mereka-mereka yang memang punya, sekali lagi untuk mereka yang memang punya, untuk bisa turut serta memberikan andil berupa sumbangan. Untuk fasilitas sekolah kita, Saya kira tidak perlu banyak-banyak tetapi cukuplah untuk bisa membuat tempat-tempat cuci tangan di depan kelas. Disertai kebutuhan sabun, masker dan hand sanitizer. Dan yang paling penting, para siswa yang melaksanakan pembelajaran tatap muka, harus mendapatkan ijin orang tua," pungkasnya.