single
Masyarakat Menyoal Pembangunan Kota

Suara Indrapura : Ir. Marcus Reimasa, SE.,M.Si. anggota Komisi A mengatakan bahwa permasalahan pembangunan menjadi bahasan paling laris dalam Reses di kota Surabaya. Nampaknya hal ini juga disebabkan oleh mobilitas masyarakat serta meningkatnya kebutuhan yang tidak paralel dengan kemampuan program pembangunan yang dilaksanakan oleh pemerintah. Selain itu juga disebabkan berbagai ketidak-nyamanan warga dalam beraktifitas sehar-hari, yang berakibat pemborosan.

Masyarakat Surabaya mengadu bahwa badan Jalan di Surabaya makin terasa sesak, macet pada waktu berangkat dan pulang kerja. Hal ini disebabkan ”moving” warga kota. Arus utama pada pagi hari, terjadi dari arah selatan ke utara. Pada sore/malam terjadi sebaliknya. Untuk mengatasi kemacetan tersebut, diusulkan agar memperlebar badan jalan, terutama jalan arteri (berstatus jalan negara). Aturan parkir diperketat, terutama untuk kawasan tengah kota, Blauran, Bubutan, Pahlawan, Tunjungan, Wonokromo, serta Ahmad Yani. Usia mobil yang melintas kawasan kota dibatasi dan kemungkinan tol tengah kota, dengan biaya APBN, APBD Provinsi Jawa Timur dan APBD Kota Surabaya. Katanya.

Masalah banjir tidak luput dari bidikan masyarakat, karena menurut penuturan masyarakat jika musim hujan tiba, kawasan yang tergenangi banjir makin meluas dan lama surutnya. Karena itu direkomendasikan perlu memperbaiki gorong-gorong serta alur pembuangan air dan pengerukan boozem secara periodik.

Tata Ruang Wilayah (RTRW) kota metropolitan memerlukan evaluasi dan pengawasan ketat. Antara lain, setiap izin pemukiman baru wajib memiliki analisa dampak sosial dan lingkungan disertai sanksi riil dan tegas pada kasus-kasus pelanggaran. Dan yang lama pun selalu dievaluasi.

Masalah PDAM. Ternyata, belum semua kampung di Surabaya telah terlayani air bersih oleh PDAM. Padahal, inilah satu-satunya perusahaan yang memasok air bersih di kota ini. Masih banyak “janji” proyek pemasangan PDAM yang belum teralisasi. Antaralain di Keputih Tegal Timur, walau sudah pernah diurus. Paparnya

Penerangan Jalan Umum (PJU). Masih kita rasakan jalan-jalan di Surabaya, bahkan klasifikasi jalan negara dan jalan provinsi juga belum memiliki lampu jalan. Sehingga rawan kecelakaan dan tindak kriminal. Sedangkan jalan-jalan kota dan kampung-kampung juga masih banyak yang belum memiliki penerangan. Misalnya di Ketintang Baru I, III dan IV. Sehingga memerlukan PJU, kompleks perumahan ini juga memerlukan pembangunan pos jaga.

Pavingisasi jalan kampungsudah menjadi trend, jalan kampung sekarang dipaving, menggantikan aspal. Justru Surabaya yang memulai. Tetapi dalam reses, banyak banyak sesepuh dan Ketua RT atau RW, mengeluhkan jalan kampung belum dipaving. Begitu pula akses jalan penghubung antar-kampung. Antara lain diperlukan pavingisasi tepi kolam Kebraon-Kedurus. Karena direkomendasikan untuk segera dilaksanakan pavingisasi ukuran 2,5 meter x 2,5 kilometer, sepanjang tepi kolam Kedurus. Katanya (Aris)