single
Para Ibu di Surabaya Mulai Keluhkan Sekolah Daring

Metode pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang sudah berlangsung selama kurang lebih satu tahun ini, dikeluhkan banyak orang tua di Surabaya. Belajar via daring ini, dilaksanakan hampir di seouruh tingkat sekolah.

Hal itu terungkap, ketika Anggota Komisi A DPRD Jatim saat melakukan reses, dan mendengarkan keluhan serta harapan warga Kota Surabaya, khususnya saat itu adalah para Ibu. Dimana orang tua mengeluh belajar online di rumah ribet dan merepotkan.

Selain itu, beberapa ibu-ibu merasa beban tugas kepada siswa tanpa memberikan bimbingan. Sehingga orang tua merasa kewalahan dan dinilai kurang efektif karena tidak adanya pemahaman mendalam.

Seperti yang disampaikan Sri Rahayu, warga Kedurus RT 7 RW 1 Surabaya kepada Anggota DPRD Jatim, Hadi Dediansyah saat melakukan reses. Ia mengeluhkan sekolah online yang membuat segalanya menjadi ribet.

"Stop pembelajaran jarak jauh atau online untuk Pendidikan Dasar. Secara psikologi anak-anak seusia tersebut masih memerlukan pendidikan langsung dari gurunya," katanya, Senin (8/3/2021).

Dengan adanya belajar online, kata Sri Rahayu tidak membuat anaknya mengerti dengan materi pelajaran. Justru malah menambah bodoh, malas bahkan tidak disiplin.

"Apalagi, biaya membeli paket internet tidak murah. Kami tidak bisa membayangkan kalau dalam rumah tangga mempunyai anak lebih dari tiga, dan itu sekolah online semua. Betapa ribetnya orang tua sekarang," jelasnya.

Pihaknya yang mewakili ibu-ibu di Kedurus sangat terbebani terkait adanya sekolah online yang sudah berjalan setahun ini. Diakuinya, tidak semua ibu-ibu punya handphone android.

"Kita sering bertengkar sama anak-anak. Bagaimana caranya, yang penting anak-anak bisa masuk sekolah. Ibu-ibu sangat mengharapkan untuk masuk sekolah," tegasnya.

Menanggapi hal itu, Hadi Dediansyah yang juga Wakil Ketua Komisi A DPRD Jatim ini menegaskan akan terus memperjuangkan agar anak-anak bisa segera sekolah tatap muka.

"Dalam waktu dekat saya akan ke Dinas Pendidikan Provinsi mempertanyakan terkait solusinya seperti apa," katanya.

Kalau terus menerus pendidikan dilakukan secara online, Hadi Dediansyah memastikan para orang tua akan terbebani. Apalagi biaya sekolah swasta tetap ada. "Apalagi ada tambahan paket data internet," imbuhnya.

Politisi Gerindra ini menyakini bahwa masyarakat pasti sudah patuh pada protokol kesehatan (Prokes). "Saya yakin masyarakat sudah patuh prokes dan paham akan pentingnya kesehatan," tambahnya.

Masalah pendidikan, lanjut Hadi ini adalah masalah krusial. Terutama bagi ibu-ibu. "Masalahnya itu mengganggu perekonomian rumah tangga," terangnya.

"Satu kali paket internet anak-anak itu menelan minimal Rp 100 ribu dalam seminggu. Kalau satu bulan 400 ribu tinggal mengalikan dan itu untuk 1 anak," bebernya.

Mengenai hal ini, pihaknya meminta kepada pemerintah harus betul-betul memperhatikan keluh kesahnya ibu-ibu di Surabaya. Dengan harapan merespon sekolah tatap muka segera diberlakukan.

"Paling tidak kalau sudah secara langsung minimal 50 persen setiap harinya. Ini sudah meringankan beban keluarga. Pemerintah harus memperhatikan, baik itu SD, SMP hingga SMA/SMK. Kasihan ibu-ibu ini," pungkasnya.