single
Pentingnya Edukasikan Preventif dan Tanggap Bencana
Terjadinya banjir dan longsor harus dijadikan pembelajaran agar tidak terjadi kembali dan tanggap ketika ada bencana. Untuk itulah perlunya edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya upaya preventif dan tanggap terhadap bencana.
 
Anggota Komisi E  DPRD Provinsi Jawa Timur, Hari Putri Lestari mengatakan, beberapa hari sebelumnya banjir menerjang daerah Wonoasri Jember. Rumah warga harus terendam air hingga menyebabkan perelngkapan, hewan ternak dan lahan pertanian rusak.
 
Perempuan yang akrab dipanggil Lestari itu menyebut banjir di Wonoasri sudah terjadi hingga 15 tahun. Setiap tahun warga harus merasakan banjir, ketika terjadi hujan deras.
 
Lestari berharap Pemkab Jember dan Pemprov Jatim untuk duduk bersama dalam rangka mencari solusi. 
 
“Masak Pemkab Jember dan Pemerintah Provinsi tidak duduk bareng cari solusi. Masak menyalahkan curah hujan, sehingga dianggap tidak bisa diatasi. Hujan kok terus disalahkan. Masak tidak berkurang-kurang banjirnya setiap tahunnya,” ujarnya, dikonfirmasi, Selasa 23 Februari 2021
 
Politisi asal PDI Perjuangan itu tak memungkiri bahwa penyelesaian dan pencegahan membutuhkan waktu tidak sedikit. Namun harus ada upaya yang tiap tahunnya bisa mengurangi debit air saat banjir.
 
“Bukan dilakukan pengerukan sungai saja. Yang diuntungkan pemilik alat pengeruk. Masak setiap tahun dianggarkan pengerukan sungai, jadi tiap tahun dikeruk-keruk. Buktinya tiap tahun banjir,” paparnya.
 
Lestari mendorong agar Pemerintah pusat, Pemkab Jember dan Pemprov Jatim sangat serius untuk mencegah terjadi banjir dengan menganggarkan dana. Mengingat banjir merugikan masyarakat.
 
“Masak enak kalau banjir. Barang rumah tangga terendam, sumur bisa kotor terendam lumpur, psikologi bisa terganggu. Kerugian tidak hanya materi rumah tangga, tetapi sawah bisa terendam, peternakan ikan bisa meluap,” tuturnya.   
 
Perempuan yang menjabat sebagai anggota Komisi E DPRD Jatim itu akan sosialisasi soal edukasi soal preventif dan tanggap bencana. Masyarakat diharapkan membuat desa tangguh bencana
Dengan adanya sosialisasi, kepala desa, tokoh masyarakat bisa memahami pentingnya proaktif dalam mengakses informasi dari BMKG.
 
Potensi bencana sudah disosialisasikan oleh kepala desa tentang upaya yang dilakukan kalau ada bencana. Dengan begitu, masyarakat tahu kalau desanya tiap tahun banjir, sehingga bisa antisipasi menjelang musim hujan. Jika diperlukan masyarakat bisa mengungsi, ketika mendapat informasi dari BMKG akan adanya hujan deras sehingga menyebabkan banjir dan longsor.
 
“Jadi harus melakukan apa, harus proaktif. Sambil mengikuti info BMKG, sehingga harus mengungsi. Intinya saat reses sosialisasi pencegahan. Nanti bawa nara sumber BPBD/akademisi atau aktivis tentang kebencanaan saat reses,” tambahnya.
 
Edukasi juga diarahkan pentingnya pembuatan gorong-gorong di depan rumah warga. Nantinya saluran air tersebut dialirkan ke sungai atau bendungan baru. Selain itu,dibuatkan papan larangan buang sampah sembarangan, penebangan pohon. 
 
“Ini harus dibahas oleh stakeholder terkait seperti Dinas Kehutanan, Perkebunan, kepala desa, dan tokoh masyarakat. Harus ada jalan keluar daripada tiap tahun mengeruk,” pungkasnya.