single
Rakortas Forkopinda Gagas Strategi Operasi Bersama Lawan Narkoba di Jatim

Krisis segala aspek di masa pandemi covid-19 ternyata  tidak  juga menyurutkan jumlah pelanggaran terhadap kejahatan narkoba di Jatim. Apalagi posisi Jatim yang masih  menempati urutan tertinggi ke  2 nasional untuk kasus pelanggaran  narkoba setelah  Sumatra Utara, memiliki PR besar untuk segera mencarikan solusinya. Dan untuk mengendalikan penyalahgunaan narkoba ini tidak mungkin hanya mengandalkan BNN  dan  polisi saja.  Peran serta masyarakat terutama  menjaga wilayahnya  masing masing, akan sangat vital dalam ikut mengendalikan segala bentuk pelanggaran narkoba.  Atas kondisi ini, urgent BNN Jatim bersama Komisi A DPRD Jatim menggelar   Rakortas P4GN( Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan Peredaran Gelap Narkoba) Forkopinda untuk mencari strategi jitu operasi bersama penanganannya . 

Jatim tercatat memiliki 3 wilayah dengan kasus pelanggaran narkoba  tertinggi yakni, Surabaya, Sidoarjo dan  Pulau Madura. Upaya untuk mengagas strategi melawan narkoba secara simultan ini diwujutkan dalam kegiatan rapat terbatas Forkopinda yang digelar di ruang Paripurna DPRD Jatim, Rabu,( 14/9)  Tema Rakortas yang baru pertama kalinya digelar ini adalah  mewujutkan Desa Bersinar(Bersih Narkoba) di wilayah Jatim. Ini adalah strategi BNNP Jatim berkolaborasi dengan stakeholder Pemprof Jatim  dalam  Mewujutkan Desa Bersinar di Wilayah Jatim Melalui Kesepakatan Bersama  Program P4GN. Sampai saat  ini, sudah ada 26 Desa Bersinar  yang terbentuk di Jatim setiap tahunnya yang berfungsi mengantisipasi peredaran Narkoba dan menjadi  filter dalam penanganan  peredaran Narkoba di Jatim.

"Ini kondisi  yang sangat memprihatinkan di masa pandemi kita melihat fakta Jatim pada Triwulan 1 tahun 2021 mencatat  kasus narkoba 1.910 kasus dan 2.346 tersangka, terbanyak ke dua di Indonesia. Sementara jumlah tahanan narkotika , Jatim ada di urutan pertama nasional dengan  1.019 narapidana. Umur menggunakan narkoba 17-19 tahun dan pengguna terbanyak usia 35-44 tahu” kata  Mayjen TNI(Purn) Dr Istu Hari Subagio MS.i, Ketua Komisi A DPRD Jatim

Kepala BNNP Jatim, Brigjen Pol Mohammad Aries Purnomo mengatakan  untuk mewujutkan tujuan pemberantasan Narkoba di Jatim dengan pembentukan Desa Bersinar(Bersih Narkoba) ini,  di akhir acara Rakortas ini nantinya akan ada agenda khusus membuat  nota kesepahaman bersama dalam pemberantasan Narkoba di Jatim

“ Intinya, rapat ini adalah kerja sama  BNN  Jatim  dengan Komisi A, menyelenggaraakan rapat terbatas  Forkominda  membahas  strategi penanganan narkora.  Lewat forum ini diharapkan ada  gagasan baru, masukan masukan, ide terkait  bagaimana kita merapatkan barisan menangani pelanggaran narkoba secara simultan. Bagaimana seluruh stakeholder terlibat aktif. Misalkan  Kodam sampai tingkat Babinsa,  terlibat dalam mencari , mendeteksi hal hal yang ada hubungannya dengan pelanggaran nanganan narkoba.  Juga Kepolisian yang dimotori Badan Narkoba di wilayah masing masing. “ jelas  Ketua Komisi A DPRD Jatim dari Fraksi Golkar ini.

“Dengan campur tangan  Forkopinda  sampai ke  ujung tombak, sampai ke desa desa diharapkan mampu membatasi ruang gerak peredaran narkoba dan menurunkan jumlah penggunanya.. Targetnya, menciptakan wilayah zero accident masalah narkota. Salah satu strategi utamaya adalah tindakan preventif dari lingkungan terkecil. Pertahanan  harus dimulai dari unsur lingkungan terkecil . Mulai pribadi, keuarga, RT, RW bergerak secara simultan, sehingga mampu membendung  ruang gerak segala bentuk pelanggaran narkoba. Tetapi kalau sudah ada kasus, untuk yang pelanggar pemula, kita sarankan direhabilitasi. Untuk itu Penda/Pemkat harus mempersiapkan sarana rehabilitasi di wilayah  masing masing”   Imbuh politisi yang berangkat dari  dapil Jatim 11 ini.

Masih menurut  politisi kelahiran Nganjuk ini nantinya format Desa Bersinar akan dibuat leveling, seperti level di PPKM. Mana desa dangan status bersih total narkoba, desa dengan jumlah penurunan kasus tertinggi dan   lain lain akan ditandai seperti cobid-19..  Kita harapkan, semuanya bisa jalan, punya tanggung jawab masing masing bahwa narkoba adalah musuh bersama. Dan pihaknya akan melakukan evaluasi secara bertahap terkait efektifitas strategi melawan narkoba yang dijalankan.

Salah satu strategi utamanya adalah tindakan preventif dari lingkungan terkecil. yang bandar bandar ya penajra aja. Kita sarankan pendasalah satunya, mmpersiapkan sarana rehabilitasi.  punya pusat rehabilitasi diwilayah  masing masing,  Diutamakan pencegahan,  harus ditimbang yang sudah direhabilitasi.