single
UMKM Butuh Suntikan Modal

Provinsi Jatim telah terbebas dari level 3 dan level 4 berdasarkan asesmen situasi covid-19 dari Kemenkes RI. Kini, wilayah Jatim didominasi level 1 dan 2. Kenyataan ini berdampak positif  kepada perekonomian secara keseluruhan. Khususnya bagi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM), dimana  ini merupakan “kebangkitan”. Hanya saja, sektor ini perlu mendapatkan suntikan dana segar untuk memperkuat permodalan.

Seperti diketahui, 50% atau 19 kabupaten dan kota di Jatim masuk level 1. Sisanya, ada 19 wilayah yang masuk level 2. Tak hanya itu, Jatim juga masih menjadi satu-satunya provinsi di Pulau Jawa-Bali yang berada di level 1 berdasarkan asesmen situasi COVID-19 dari Kemenkes RI per 19 September 2021, yang dirilis 20 September 2021.

Selama pandemic covid-19, tak sedikit pelaku UMKM di Jatim yang mengalami kemunduran akibat adanya pengurangan interaksi akibat adanya PPKM dan sejenisnya. Selama itu pula, omzet sejumlah UMKM mengalami kemunduran. Bahkan juga ada yang mengalami kerugian. Meski tidak menutup kemungkinan, terdapat sejumlah UMKM  yang bergeliat, meski jumlah tak banyak.

“Kini, Level I yang disandang Provinsi Jatim memberikan peluang UMKM di Jatim untuk bangkit lagi. Hanya saja, bisnis yang sebelum yang terpukul berdampak kepada permodalan sejumlah UMKM. Bertolak pada kenyataan inilah, saya berharap agar perbankan hingga pemerintah memperhatikan keadaan permodalan UMKM ini agar cepat bangkit,” kata H. Mahdi, S.E., S.H., Wakil Ketua Komisi B DPRD Jatim, Selasa  (21/9/2021).

Mahdi menyambut positif Pemprov Jatim melalui Dinas Koperasi dan UKM menggelar kembali pameran K-UMKM Ekspo 2021 di Atrium Grand City, Jalan Walikota Mustajab, Surabaya, Rabu (15/9/2021). Expo K-UMKM kali ini merupakan angin segar bagi pegiat UMKM agar kembali bangkit dengan berbagai keunggulannya.

Di samping itu, katanya, langkah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional 4 Jawa Timur bersama industri jasa keuangan yang berkomiten mendukung pemulihan ekonomi Jatim lewat penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) kepada Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Jatim juga patut diapresiasi. Salah satunya adalah penyaluran KUR sebesar Rp 2,42 miliar kepada 9 pelaku UMKM. Masing-masing disalurkan oleh Pegadaian sebesar Rp 30 juta untuk UMKM di bidang pembuatan produk kulit, sandal, dompet dan sabuk,

Bank Jatim sebesar Rp 500 juta untuk UMKM pengolah biji plastik, Kantor Wilayah Bank Mandiri Jatim sebesar Rp 300 juta untuk UMKM usaha nasi Madura, BNI sebesar Rp 500 juta untuk UMKM sambel, Bank BRI sebesar Rp 500 juta untuk UMKM krupuk, PNM sebesar Rp 11 juta untuk UMKM makanan ringan, es dan pentol, Bank UMKM Jawa Timur sebesar Rp 500 juta untuk UMKM krupuk, Bank BTN sebesar Rp 175 juta untuk UMKM pengelolaan kopi dan Bank Syariah Indonesia sebesar Rp 150 juta untuk UMKM kripik brownies.

“Saya yakin dengan adanya sinergi - sinergi  seperti inilah, kebangkitan UMKM Jatim saat ini akan semakin keliatan dengan adanya suntikan kredit tersebut. Di samping itu, UMKM juga diberikan literasi keuangan. Terutama tentang produk pembiayaan dan mekanisme pembiayaan,” pungkas Mahdi.