Erupsi Semeru Jadi Berkah Bagi Penambang Pasir dan Petani Lumajang
Erupsi Semeru Jadi Berkah Bagi Penambang Pasir dan Petani Lumajang
Di balik suatu ujian pasti ada hikmah atau berkah yang bisa diambil. Ungkapan itu nampaknya juga berlaku pada kasus erupsi gunung Semeru di Lumajang beberapa hari lalu.
Secara kasat mata, erupsi gunung Semeru memang sebuah musibah, lantaran merugikan masyarakat petani akibat tanamannya rusak. Namun dalam jangka panjang justru akan menguntungkan petani karena lahannya menjadi semakin subur sehingga produktivitas pertaniannya semakin baik.
Bahkan penambang pasir juga ikut mendapatkan berkah, karena jutaan kubik pasir yang mereka tambang selama puluhan tahun seolah penuh atau terisi kembali.
Anggota DPRD Jatim dari Dapil Lumajang-Jember, Umi Zahro membenarkan hal tersebut. Alasannya, politisi asal PKB itu sudah turun ke lapangan dan mendapat laporan dari kepala desa yang warganya ikut terdampak erupsi gunung Semeru.
"Saya sudah mengecek ke beberapa desa di lereng gunung Semeru di wilayah Lumajang yang terkena dampak erupsi di dampingi kepala desa setempat," kata Umi Zahro saat dikonfirmasi Minggu (6/12/2020).
Kades Supit Urang Kecamatan Prono Jiwa, Nurul Yakin menceritakan kepada anggota Komisi E DPRD Jatim bahwa gunung Semeru pernah meletus (erupsi) tahun 1994 silam. namun dampaknya tidak parah erupsi pada akhir tahun 2020 ini.
Hal itu disebabkan beberapa hal. Pertama ketika warga jagongan (melekan) sampai pukul 01.00 dini hari untuk siaga, mendapat informasi dari BMKG Lumajang jika aktivitas gunung Semeru semakin meningkat.
"Saya dengar bunyi letusan jam 02.30, saya kira petir, lalu membangunkan warga secara manual dengan kentongan karena panik. Kemudian mengevakuasi warga khususnya para orang tua dibantu RT/RW. Warga kami arahkan ke dataran tinggi yang aman di jalur provinsi, radius 2 kilometer," kata Nurul Yakin.
Hingga tanggal 6 Desember 2020 warga yang masih mengungsi, tinggal RT.10 dan RT.11. Sehingga kalau malam mengungsi kalau pagi kontrol. Warga juga membutuhkan sembako dan membantu dapur umum TAGANA karena anak-anak juga ikut mengungsi bersama orang tuanya.
"RT. 10 dan RT 11 totalnya ada 350 kepala keluarga (KK). Kalau dikalikan 3 kurang lebih 1050 orang. Kami harap mereka jangan sampai ada yang kelaparan. Setiap malam warga memasak bersama TAGANA dan relawan," ungkap Yakin.
Ia menghimbau kepada para donatur diharapkan bisa masuk melalui satu pintu dibawah koordinasi pemerintahan desa biar tidak overlap dan tepat sasaran. Mengingat, pengungsi masih harus mendapat perhatian sampai 1 hingga 2 minggu kedepan.
'Untuk pemenuhan logistik dan obat-obatan, tim kesehatan sudah standby, dibantu tim keamanan TNI/POLRI dan Satgas, Basarnas jadi mereka bersinergi," imbuhnya.
Di tambahkan Umi Zahro, pihaknya juga mendapat keluhan petani dan peternak karena mereka yang paling terdampak akibat tanaman rusak diterjang lahar panas dan sulit mencari pakan ternak.
"Sebaliknya bagi penambang pasir justru menjadi berkah karena aliran lahar membawa pasir hingga setebal 15 meter sehingga bisa memenuhi kebutuhan pasir 10 hingga 15 tahun kedepan," kata Umi Zahro.
Pengalaman yang sudah berjalan selama ini, pasir tersebut dikelola sendiri oleh warga dibawah koordinasi kepala desa. "Untuk pemulihan ekonomi warga terdampak, Kades Supit Urang juga berharap ada pendataan serta solusi stimulan," pungkas Umi Zahro.
Agenda DPRD Provinsi Jawa Timur
Agenda DPRD Provinsi Jawa Timur










