gerbang baru nusantara

Malang Kekurangan Beras, Masalah Lama Yang Tak Kunjung Diselesaikan

Kekurangan produksi beras atau devisit beras di Kota Malang merupakan sebuah ironi dan mendatangkan keprihatinan, walaupun saat ini para petani lagi bersukacita karena harga gabah mencapai Rp.6000/kg

Try Wahyudi
Senin, 04 September 2023
Bagikan img img img img
Anggota komisi B DPRD Jawa Timur Daniel Rohi

Surabaya: Kekurangan produksi beras atau devisit beras di Kota Malang
merupakan sebuah ironi dan mendatangkan keprihatinan, walaupun saat
ini para petani lagi bersukacita karena harga gabah mencapai
Rp.6000/kg.

Anggota komisi B DPRD Jawa Timur Daniel Rohi seusai bertemu dan
berdialog dengan kelompok tani Sri Mulyo dan Kelompok Ternak Margo
Mulyo di Dusun Babaan, Desa Ngenep Kecamatan Karang Ploso Kabupaten
Malang, senin (4/9/2023) mengatakan
masalah Devisit Beras di Kota Malang bukanlah isu baru, melainkan isu
lama yang tak kunjung diselesaikan dan diantisipasi.

Dibeberkan oleh Daniel Rohi, menurut catatan sejak tahun 2007 Kota
malang telah terjadi devisit beras, penyebab utama adalah terjadi alih
fungsi lahan produktif pertanian secara masif dan tidak terkontrol
untuk perumahan, industri, perdagangan dan lain-lain.

"Padahal pada 2007 luas lahan pertanian di Kota Malang sebesar 1.550
hektare, menyusut menjadi 1.400 hektare pada 2009, pada tahun 2012
tinggal 1.300 hektare, tahun 2013 luas lahan tinggal 1.282 hektare,
Tahun 2015 menyusut menjadi 942 hektare dan tahun 2023 luas lahan
pertanian tinggal 803 hektare dan hanya mampu memproduksi 15.000
ton,"terangnya.

Menurutnya,jika dihitung Sejak 2007 sampai 2023 atau selama 16 tahun
lahan menyusut menyentuh  51,8%  atau menyusut rata-rata 3,2 % /tahun
setara dengan 49,6 hektar/tahun.Faktor lain,sambung Rohi, yang perlu
diteliti lebih lanjut adalah kondisi SDM pertanian, apakah jumlah para
petani masih memadai atau cenderung berkurang, karena sektor pertanian
semakin tidak menarik perhatian generasi muda dan juga komoditas
pertanian secara ekonomi tidak menguntungkan, apalagi masalah
kelangkaan pupuk bersubsidi dan mahalnya harga pupuk terus menjadi
masalah klasik yang sampai sekarang belum mampu diatasi.

"Selain itu, perubahan iklim global bisa juga menjadi faktor yang
harus diperhitungkan dan di antisipasi
Solusinya harus tegas dalam melaksanakan Perda RTRW Rencana Tata
Ruang Wilayah secara konsisten yakni lahan-lahan produktif untuk
pertanian tidak boleh dialihfungsikan,"sambungnya.

Pria dari dapil Malang Raya ini mengatakan juga perlu ada inovasi
dalam pertanian agar dengan lahan yang sempit, namun produktivitas
tetap optimal. "Untuk itu, pemerintah perlu melakukan fasilitasi dan
intervensi lewat bantuan benih berkualitas, pendampingan yang
intensif untuk peningkatan kualitas SDM dan tidak kalah penting adalah
penggunaan teknologi pertanian untuk pengolahan dan pasca
panen,"tuturnya.

Terakhir, sambungnya adalah mengedukasi dan memotivasi generasi muda
untuk terjun berkarya di bidang pertanian, karena bidang pertanian
merupakan bidang yang sangat penting bagi masa depan bangsa Indonesia
sebagai negara Agraris, penguatan ketahanan dan kedaulatan pangan
harus didukung oleh SDM yang memadai secara kuantitas dan kualitas.

"Solusi masalah ini secara konseptual harus ditinjau secara
komprihensif dengan pendekatan sistem, bahwa persoalan pertanian
merupakan sebuah ekosistem yang terintegrasi dan saling mempengaruhi
antara elemen-elemen pendukung seperti kondisi lahan, petani/SDM,
teknologi,pasar,benih, pupuk bahkan faktor alam seperti iklim dan
hama,"tutupnya.

Berita Terkait

Berita Terkait

Agenda DPRD Provinsi Jawa Timur

Agenda DPRD Provinsi Jawa Timur

Index Menu

Index Menu