Temuan Dilapangan, Surabaya Kekurangan SMA dan SMK Negeri
Anggota DPRD Jawa Timur Lilik Hendarwati mengatakan keberadaan sekolah SMA dan SMK negeri di kota Surabaya sangat mendesak diperlukan.
Anggota DPRD Jawa Timur Lilik Hendarwati mengatakan keberadaan sekolah SMA dan SMK negeri di kota Surabaya sangat mendesak diperlukan. Pasalnya, dikota metropolis ini ternyata SMA dan SMK sangat kurang sehingga banyk dikeluhkan oleh masyarakat.
"Surabaya sangat kurang sekali akan pemenuhan SMA dan SMK. Hal ini diketahui ketika saya turun reses ternyata masyarakat lebih mengeluhkan kekurangan SMA dan SMK. Terlebih sekarang ini musim SPMB (Sistem Penerimaan Murid Baru) dengan sistem zonasi," ujar wanita yang akrab dengan wartawan ini, Senin (30/6/2025).
Politisi PKS ini mengatakan yang menjadi problema sekarang ini masyarakat akan kesulitan untuk mendapatkan SMA dan SMK negeri untuk menyekolahkan anaknya dengan menggunakan sistem zonasi.
"Saya mengambil contoh di daerah Pogot dimana saat reses banyak hampir sebagian besar anak-ank di wilayah itu kesulitan untuk mendapatkan SMA dan SMK dengan menggunakan sistem zonasi," tuturnya.
Ketua Fraksi PKS DPRD Jawa Timur ini mengatakan pihaknya berharap agar pemerintah propinsi segerakan untuk memenuhi keberadaan SMA dan SMK tersebut.
"Negara harus hadir dalam pemenuhan kebutuhan pendidikan dimana pemenuhan pendidikan adalah hak dari semua warga negara," terangnya.
Oleh sebab itu, kata Lilik, jika pemerintah kesulitan untuk mendirikan sekolah SMA dan SMK negeri dengan terbentur lokasi dan terlalu ribetnya perijinan, bisa saja mengakuisisi sekolah swasta untuk dijadikan sekolah negeri.
"Bisa saja dan perlu satu kelurahan satu sekolah. Ini lebih bagus lagi," tandasnya.
Di Surabaya pada tahun 2025, terdapat 140 SMA dan 106 SMK. Dari jumlah tersebut, sebagian besar adalah sekolah swasta, yaitu 106 SMA dan 95 SMK, sedangkan sisanya adalah sekolah negeri. Adapun rinciannya diantaranya SMA: 140 sekolah, terdiri dari 22 SMA negeri dan 106 SMA swasta. SMK: 106 sekolah, terdiri dari 11 SMK negeri dan 95 SMK swasta.
Untuk SMA, sebagian besar sudah terakreditasi A (65%), sedangkan untuk SMK, akreditasi A mencapai 41,51%.










