Harga Tembakau di Probolinggo Anjlok, Pemerintah Harus Beri Perhatian
Harga tembakau rajang membuat risau para petani di Kabupaten Probolinggo.
Harga tembakau rajang membuat risau para petani di Kabupaten Probolinggo. Sebabnya, fluktuasi harga yang tidak menentu. Kondisi ini membuat para petani kelimpungan.
Anggota komisi B DPRD Jawa Timur Eddy Paripurna mengatakan pihaknya berharap ada bantuan dari pemerintah atas kondisi tersebut.
"Pemerintah harus memberi bantuan kepad apetani tembakau atas kondisi tersebut," jelas politisi PDIP ini, Selasa (29/7/2025).
Mantan Wabup Pasuruan ini mengatakan petani tembakau di Kabupaten Probolinggo mulai memasuki masa panen. Namun, mereka resah karena harga jual tembakau rendah. Tidak sampai Rp 50 ribu per kilogram. Hingga saat ini, tengkulak hanya berani membeli tembakau di kisaran Rp 35.000 - Rp 37.000 per kilogram. Nilai itu jauh di bawah harga jual tembakau tahun lalu yang sempat menembus angka Rp 70.000 per kilogram.
"Kondisi ini dinilai merugikan petani yang telah mengeluarkan modal besar sejak masa tanam. Tak hanya itu, faktor cuaca juga memperparah keadaan," jelasnya.
Menurut dia,hujan yang masih kerap turun juga membuat kualitas tembakau menurun. Karena sering hujan, daun tembakau jadi lebih lembap dan berat. Daunnya lebih tipis dan mudah rusak. Bahkan, rasa tembakau jadi kurang enak.
“Kalau sering hujan begini, daun cepat rusak. Beratnya juga naik, padahal kualitasnya turun. Jadinya makin susah dijual dengan harga bagus,” terangnya.
Eddy Paripurna mengatakan hujan yang masih turun juga membuat pengeringan atau penjemuran daun tembakau rajang makin sulit. Butuh waktu lebih lama untuk mengeringkan tembakau.
“Saya minta ada kejelasan dari pihak-pihak terkait, termasuk pemerintah soal harga jual tembakau. Kalau tidak, petani selalu jadi pihak yang paling dirugikan,” tegasnya.










