gerbang baru nusantara

Nilai TKA SMA/SMK di Jatim Rendah, Sri Untari Soroti Fokus Siswa dan Metode Pengajaran

Ketua Komisi E DPRD Jatim Sri Untari menyoroti rendahnya nilai TKA SMA/SMK di Jawa Timur, khususnya matematika, serta pentingnya fokus siswa dan metode pengajaran.

Wanto
Senin, 05 Januari 2026
Bagikan img img img img
Ketua Komisi E DPRD Jawa Timur Sri Untari Bisowarno menyampaikan pandangannya terkait rendahnya nilai TKA SMA/SMK di Jawa Timur.

Nilai Matematika Jadi Catatan Serius

SURABAYA — Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SMA/SMK sederajat di Jawa Timur dinilai belum memuaskan. Sejumlah mata pelajaran mencatatkan capaian rendah, terutama matematika. Data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menunjukkan nilai rata-rata matematika siswa SMA/SMK di Jawa Timur hanya mencapai 36,77.

Berdasarkan persentase capaian, sebanyak 41,6 persen peserta TKA di Jawa Timur berada pada kategori kurang. Sementara itu, 35,1 persen berada pada kategori memadai, 21,2 persen kategori baik, dan hanya 2,1 persen yang masuk kategori istimewa.

Baca Juga: 

Hasil Sampling di Dapil

Menanggapi kondisi tersebut, Ketua Komisi E DPRD Jawa Timur Sri Untari Bisowarno menyampaikan keprihatinannya. Ia mengaku telah melakukan pengamatan langsung melalui metode sampling saat turun ke daerah pemilihannya.

“Saya itu sampling, turun di dapil, kepada anak-anak kita,” ujar Sri Untari usai peresmian SLB-B Negeri Karya Mulia di Jalan Ahmad Yani Nomor 6–8, Surabaya, Senin (05/01/2026).

Sri Untari juga menceritakan pengalamannya saat melakukan sampling di sekolah rakyat, khususnya pada siswa jenjang sekolah dasar (SD), yang menurutnya menunjukkan lemahnya kemampuan dasar berhitung.

“Saya coba sampling turun di sekolah rakyat. Siswa SD saya tanya 2 × 3, mikirnya lama. Ditanya 4 × 2 tidak jawab. Saya turunkan lagi pertanyaannya 1 × 2, baru bisa jawab 2. Ditanya lagi 10 : 5, masih berpikir,” ungkapnya.

Metode Pengajaran dan Fokus Siswa

Menurut Sri Untari, terdapat sejumlah faktor yang memengaruhi rendahnya kemampuan akademik siswa. Salah satunya berkaitan dengan metode pengajaran serta tingkat kesabaran guru dalam mendampingi peserta didik.

“Ini menurut saya ada beberapa faktor. Pertama, teknik maupun pola guru dalam mengajar. Bisa jadi kurang telaten dan kurang sabar,” jelasnya.

Ia membandingkan metode pembelajaran di masa lalu dengan kondisi saat ini, di mana sumber belajar sebenarnya lebih mudah diakses, baik melalui buku maupun platform digital seperti YouTube.

“Dulu saya diajari ada cara umum dan cara khusus. Sekarang di YouTube maupun buku-buku banyak cara khusus, dan itu bisa diakses semua. Jadi faktor kesabaran pendidik menurut saya sangat penting,” ucapnya.

Selain faktor pendidik, Sri Untari juga menyoroti rendahnya tingkat konsentrasi siswa dalam proses belajar.

“Anak-anak sekarang kurang fokus. Fokusnya paling delapan menit, setelah itu sudah ke mana-mana,” paparnya.

Ia menegaskan mata pelajaran seperti matematika dan ilmu pengetahuan alam (IPA) membutuhkan konsentrasi tinggi karena tidak bisa hanya dihafalkan.

“Kalau mendalami ilmu matematika dan IPA itu butuh fokus. Tidak bisa dihafal. Biologi mungkin bisa, tetapi untuk memecahkan rumus kimia dan fisika itu butuh concern,” jelasnya.

Usulan Pembatasan Gawai di Sekolah

Sebagai solusi, Sri Untari mengusulkan pembatasan penggunaan telepon genggam selama kegiatan belajar mengajar berlangsung.

“Solusinya, handphone jangan dipakai di dalam ruangan,” katanya.

Ia menilai gawai menjadi salah satu sumber distraksi utama bagi siswa. Oleh karena itu, ia mengusulkan agar seluruh gadget siswa dititipkan di tempat khusus selama proses pembelajaran.

“Di dekat papan tulis disediakan tempat untuk handphone. Saat belajar dititipkan di situ, nanti waktu istirahat silakan dibawa,” ujarnya.

Selain itu, Sri Untari menilai siswa perlu diajarkan cara melatih fokus secara bertahap.

“Fokus itu bisa dilatih, salah satunya dengan meditasi. Anak-anak diminta diam beberapa saat dan diajari memusatkan pikiran,” ucapnya.

Ia juga menilai rendahnya capaian TKA dapat dipengaruhi oleh perubahan sistem evaluasi pendidikan, salah satunya karena TKA tidak memiliki konsekuensi sebesar Ujian Nasional (UN).

“Itu bisa jadi salah satu faktor,” imbuh legislator asal PDI Perjuangan tersebut.

Sri Untari mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk bersama-sama mengevaluasi kondisi pendidikan demi masa depan generasi muda Jawa Timur.

“Ayo kita bareng-bareng menelaah kenapa generasi kita seperti ini. Itu yang penting untuk kita,” pungkasnya.

Berita Terkait

Berita Terkait

Agenda DPRD Provinsi Jawa Timur

Agenda DPRD Provinsi Jawa Timur

Index Menu

Index Menu