Pengeroyokan Guru di Jambi Jadi Alarm Nasional, Puguh DPRD Minta Jatim Waspada
Kasus pengeroyokan guru di Jambi dinilai DPRD Jawa Timur sebagai alarm nasional yang menuntut penguatan pendidikan karakter dan perlindungan guru.
DPRD Jatim Soroti Krisis Karakter di Dunia Pendidikan
SURABAYA — Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur, Puguh Wiji Pamungkas, menyoroti keras kasus pengeroyokan guru oleh sejumlah siswa di SMKN 3 Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi.
Menurut Puguh, peristiwa yang viral di media sosial tersebut menjadi sinyal kuat adanya krisis karakter dan moralitas di dunia pendidikan yang tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Insiden itu dipicu ketersinggungan seorang siswa terhadap perkataan guru hingga berujung pada aksi kekerasan.
“Peristiwa ini sangat memprihatinkan dan harus menjadi kesadaran kita bersama. Ini bukan hanya soal satu sekolah di Jambi, tetapi potret krisis karakter, krisis moralitas, dan krisis keteladanan yang sedang kita hadapi sebagai bangsa,” ujar Puguh saat dikonfirmasi.
Ia menegaskan bahwa penghormatan terhadap guru merupakan fondasi utama dalam sistem pendidikan. Aspirasi serupa juga pernah disuarakan kalangan pendidik madrasah di Jawa Timur yang menekankan pentingnya perlindungan dan penghargaan terhadap guru.
(Baca Selengkapnya: Harapan guru madrasah Jatim terhadap penguatan kebijakan pendidikan dan perlindungan pendidik)
Jangan Sampai Terulang di Jawa Timur
Legislator Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini mengingatkan, apabila kasus serupa dianggap wajar atau dibiarkan tanpa evaluasi serius, maka risiko terulangnya kejadian yang sama di daerah lain akan semakin besar.
Ia secara khusus menekankan kewaspadaan di Jawa Timur, mengingat provinsi ini memiliki jumlah penduduk dan peserta didik yang sangat besar.
“Kalau ini menjadi peristiwa permisif, tidak menutup kemungkinan akan terjadi di berbagai wilayah lain, termasuk di Jawa Timur. Kita sudah beberapa kali melihat bagaimana atas nama kebebasan, keluhuran pekerti dan akhlakul karimah justru mengalami pergeseran. Jangan sampai terulang di Jatim,” tegasnya.
Puguh menilai dunia pendidikan seharusnya menjadi ruang pembentukan karakter, bukan semata tempat transfer of knowledge. Oleh karena itu, penguatan nilai budi pekerti, tata krama, dan akhlak mulia perlu kembali menjadi arus utama kebijakan pendidikan.
Pandangan tersebut sejalan dengan apresiasi DPRD Jatim terhadap peran guru dalam membentuk karakter peserta didik.
(Baca Selengkapnya: Apresiasi DPRD Jatim atas peran strategis guru dalam pendidikan karakter)
Perlindungan Guru dan Sinergi Semua Pihak
Puguh juga menegaskan peran strategis guru sebagai teladan bagi siswa. Namun, ia mengingatkan bahwa tanggung jawab menjaga iklim pendidikan yang sehat tidak bisa dibebankan kepada guru semata.
Perlu sinergi antara sekolah, orang tua, masyarakat, dan pemerintah daerah agar satuan pendidikan benar-benar kondusif, aman, dan beretika. Penguatan kesejahteraan guru dan tenaga kependidikan juga dinilai penting untuk menjaga wibawa dan profesionalisme pendidik.
(Baca Selengkapnya: Dorongan DPRD Jatim agar gaji dan tunjangan guru serta tenaga kependidikan ditingkatkan)
“Ini adalah pekerjaan bersama. Kita harus memastikan seluruh satuan pendidikan di Jawa Timur kondusif, sehingga proses belajar mengajar berjalan baik dan melahirkan generasi yang cerdas, berdaya saing, serta berkarakter kuat,” pungkasnya.
Puguh berharap kasus pengeroyokan guru di Jambi menjadi alarm nasional untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pendidikan, khususnya pada aspek pembinaan karakter dan moral peserta didik.










