gerbang baru nusantara

Alat Early Warning System Minim, Komisi E Minta Pemda Berdayakan Alat Peringatan Bencana Alternatif

Alat Early Warning System Minim, Komisi E Minta Pemda Berdayakan Alat Peringatan Bencana Alternatif

Fathis Su'ud
Kamis, 17 Januari 2019
Bagikan img img img img

Alat Early Warning System Minim, Komisi E Minta Pemda Berdayakan Alat Peringatan Bencana Alternatif

Jawa Timur adalah Provinsi besar dengan luas wilayah mencapai 47.800 m2. Provinsi paling Timur pulau Jawa ini adalah Provinsi terluas di pulau Jawa. Kondisi geografis Jatim yang terdiri dari gunung dan lautan menjadikan Jatim Provinsi rawan bencana alam. Pasalnya masih terdapat sejumlah gunung berapi aktif dan patahan aktif yang berpotensi tsunami.

Ironisnya alat early warning system atau sistem peringatan bencana di Jawa Timur masih minim. Padahal menurut data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim, ada 417 desa yang masuk kategori rawan bencana alam. Sedangkan alat peringatan bencana yang dimiliki Jatim hanya 70 unit. Padahal keberadaan alat itu dibutuhkan untuk meminimalisir jatuhnya korban jiwa maupun luka.

Kondisi ini mendapat perhatian Anggota Komisi E DPRD Jatim, Moch Eksan. Menurut Eksan situasi ini harus mendapat solusi cepat. Sebab bencana bisa datang kapan saja, sementara pengadaan alat peringatan bencana bergantung keuangan daerah. Karena itu pihaknya berharap Pemerintah Daerah (Pemda) bersikap tanggap dengan memanfaatkan alat peringatan bencana alternatif seperti kentongan.


"Bedug di masjid dan lonceng di gereja juga bisa dijadikan alat peringatan bencana. Demikian pula dengan toa di masjid dan mushola bisa digunakan untuk mengingatkan warga ketika bencana datang. Dengan begitu warga bisa bergegas menyelamatkan diri," tutur Eksan, Kamis (17/1).

Anggota Dewan asal daerah pemilihan Kabupaten Jember dan Lumajang ini menjelaskan, perlu adanya pelatihan penanggulangan bencana bagi para takmir masjid dan remaja karang taruna. Sebab mereka inilah yang nantinya berperan sebagai petugas yang membimbing warga ketika terjadi bencana.

Para takmir masjid dan remaja Karang Taruna juga perlu dibekali pengetahuan kebencanaan. Dengan begitu mereka bisa membaca tanda-tanda bencana alam. Sehingga bisa memberi peringatan dini kepada warga serta mengatur jalur evakuasi dan membuat penampungan sementara.

"Takmir masjid dan karang taruna bisa menjadi garda terdepan dalam penanggulangan bencana alam. Karena itu, pengetahuaan kebencanaan harus diberikan kepada mereka," ujar anggota Fraksi NasDem-Hanura tersebut.

Wakil Sekretaris PCNU Kabupaten Jember ini juga berharap sistem keamanan lingkungan (siskmling) harus kembali diaktifkan. Diantaranya dengan melakukan ronda malam secara bergilir oleh warga.

Eksan beralasan, ronda malam tidak hanya mengantisipasi tindak kriminalitas seperti pencurian dan perampokan. Tetapi juga bisa menanggulangi bencana alam, seperti banjir, longsor, gunung meletus. Bahkan kemungkinan datangnya tsunami.

"Bencana alam bisa datang kapan saja, termasuk di malam hari ketika kita tertidur lelap. Dengan adanya ronda malam, ada yang tetap terjaga di malam hari. Sehingga bisa mengingatkan dan membangunkan warga ketika ada potensi bencana," pungkas Bapak dua anak ini

Berita Terkait

Berita Terkait

Agenda DPRD Provinsi Jawa Timur

Agenda DPRD Provinsi Jawa Timur

Index Menu

Index Menu