Dorong Penguatan Pertanian di Jatim jadi Lumbung Pangan
Dorong Penguatan Pertanian di Jatim jadi Lumbung Pangan
Dorong Penguatan Pertanian di Jatim jadi Lumbung Pangan
DPRD Jawa Timur menjelaskan berbagai kunci regenerasi petani dalam beberapa dekade kedepan. Mengingat, besarnya potensi hasil pertanian di Jawa Timur.
Anggota DPRD Jawa Timur, Pranaya Yudha menjelaskan bahwa pihaknya berkomitmen untuk mendorong penguatan pertanian di Jawa Timur.. Salah satunya adalah penyerapan hasil pertanian di provinsi berpenduduk lebih dari 40 juta jiwa ini.
”Kami mendorong penguatan Jatim sebagai lumbung pangan nasional,” kata Yudha pada Diskusi Publik: Regenerasi Petani, Refleksi Akhir Tahun Pertanian Jatim.
Menurut politisi Golkar ini, penguatan mekanisasi pertanian penting dilakukan. Di antaranya, melalui berbagai inovasi produk pertanian. ”Kami menegaskan pentingnya penguatan mekanisasi pertanian. Juga, inovasi produk jadi,” kata Yudha melanjutkan.
Tak selesai di situ, salah satu cara efektif untuk mengembangan inovasi produksi sekaligus menyerap hasil pertanian dengan membentuk Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang fokus di bidang pertanian. ”Kami mendorong pemprov mewujudkan BUMD Pangan,” kata Yudha.
Hal ini penting mengingat pentingnya penyerapan hasil produksi pertanian petani di Jawa Timur
Menurutnya, Pemrov juga memiliki tugas besar untuk mengatur stabilitas harga komoditas pokok di pasar dengan serapan dan operasi pasar. ”Juga, membantu pemasaran produk pertanian,” kata Yudha yang juga Anggota Komisi B ini.
Terakhir, apabila Pemrov. Jatim belum bisa membentuk BUMD Pangan, pihaknya mendorong optimalisasi BUMD yang sudah ada untuk melaksanakan peran sebagaimana BUMD Pangan.
”Yang tidak kalah penting, hal ini harus sesuai dengan Nawa Bhakti Satya Gubernur dan Wakil Gubernur Jatim, Ibu Khofifah dan Mas Emil. Tepatnya, di Jatim Agro,” pungkas Ketua Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) ini.
Acara ini juga dihadiri Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jawa Timur, Hadi Sulistyo dan Sekjen Asosiasi Petani dan Pengolah Hortikultira Indonesia (Aspehorti), Abdus Salam.
Ketua HMI Gresik, Umar Faruq, sebagai pihak penyelenggara menerangkan, acara ini bertujuan membangun kemandirian pangan dalam sektor pertanian. Utamanya, oleh para anggota HMI Gresik dan cabang lain, serta organisasi mahasiswa lainnya.
“Diskusi publik bertujuan mengingatkan pentingnya membangun generasi yang sadar akan pentingnya keberlanjutan pertanian di Indonesia. Politik pangan ke depan akan semakin penting,” kata Faruq.
Selama ini, Jawa Timur dikenal memiliki potensi hasil pertanian yang menembus pasar ekspor.
Bahkan, Menteri Pertanian bersama Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa telah melepas pemberangkatan ekspor produk pertanian Jawa Timur dengan nilai total Rp 805 miliar di Terminal Petikemas Surabaya, Senin (2/12/2019) lalu.
Produk pertanian dan perkebunan dari Jawa Timur mulai kopi robusta, cengkeh, pupuk organik, susu, sarang burung walet, shuttlecock, kayu manis, buah pala, jamur beku, plywood, dan minyak goreng menjadi komoditas pertanian yang di ekspor ke berbagai daerah dunia. Misalnya untuk bunga cengkeh sebanyak 10 ton dengan nilai Rp 877 juta diekspor dari Jawa Timur ke Brasil.
Kemudian untuk biji kopi robusta sebanyak 46 ton diekspor ke Italia dengan nolai Rp 1,02 miliar. Begitu dengan pupuk organik sebanyak 54 ton senilai Rp119,2 juta diekspor dari Jawa Timur ke Singapura










