Prihatin Pariwisata Jember Kalah Bersaing Dengan Banyuwangi
Prihatin Pariwisata Jember Kalah Bersaing Dengan Banyuwangi
Prihatin Pariwisata Jember Kalah Bersaing Dengan Banyuwangi
Peminat pariwisata Kabupaten Jember terus mulai mengalami penurunan. Hal itu terlihat menurunnya jumlah penerbangan pesawat di Bandara Notohadinegoro Jember.
Ketua Komisi C DPRD Jawa Timur, Muhammad Fawaid mengatakan, bahwa sebenarnya Bandara Notohadinegoro Jember lebih dulu berdiri daripada bandara Banyuwangi. Namun saat ini penerbangan Bandara Banyuwangi mampu menyaingi bandara Jember. Dimana Bandara Banyuwangi mampu menerima penerbangan dari Surabaya-Banyuwangi, Jakarta-Banyuwangi,atau sebaliknya. Bahkan penerbangan dari bandara Banyuwangi terdapat jurusan ke luar negeri.
“Bandara Jember berdiri sebelum bandara Banyuwangi berdiri. Tapi hari ini jurusan Banyuwangi-Surabaya ada, Banyuwangi-Jakarta ada, bahkan Banyuwangi ke luar negeri ada. Artinya sektor investasi dan pariwasata berjalan,” ungkap Fawaid, dikonfirmasi, Selasa 3 Desember 2019.
Selama ini jumlah flight terus mengalami penurunan. Dimana sebelumnya penerbangan dua kali sehari, kini menjadi satu kali. Bahkan terkadang Seminggu tidak full jadwal penerbangannya.
“Kabaranya ijin bandara tidak diperpanjang atau habis. Orang yang naik pesawat bukan orang miskin melainkan orang kaya yang ingin investasi di jember,”paparnya.
Menurunnya flight di bandara Jember menujukkan sector pariwisata tidak berjalan. Padahal rata-rata daerah yang maju adalah daerah yang sektor pariwisatanya maju. Seperti halnya Jogyakarta yang jumlah wisatawannya dua kali lipat daripada jumlah penduduknya. Jumlah ini belum seperti wisatawan di Bali.
“Artinya orang awam saja sudah paham kalau penerbangan sedikit berarti sektor pariwisata tidak berjalan,” paparnya.
Kalau flight-nya di Jember semakin sedikit, dipastikan tempat wisata semakin maka tidak laku, dan tidak berjalan. Jika investor yang naik pesawat tidak berhenti di Jember, maka tidak ada penanaman investasi. Tentunya hal ini berdampak pada pertumbuhan ekonomi yang tidak baik.
Politisi asal Partai Gerindra itu menjelaskan, bahwa belanja pemerintah yang maksimal dapat menaikkan pertumbuhan ekonomi. Hal ini akan berdampak pada pendapatan perkapita, sehingga tingkat kemikinan menurun.
Sebaliknya, ketika belanja pemerintah tidak maksimal, maka pertumbuhan ekonomi akan menurun sehingga mengurangi pendapatan perkapita dan jumlah orang miskin bertambah banyak. Meski demikian, jika kemiskinan di Jember peringkat kedua, merupakan hal tidak benar alias fitnah.
“Ada banner salah satu bakal calon bupati Jember, menyebut kemiskinan di Jember menempati urutan kedua di Jatim. Ada laywer tanya saya apa itu bisa disomasi, saya jawab tidak bisa karena itu karya ilmiah,”tuturnya.
Putra pengasuh Ponpes Al Qodiri KH Muzzaki Syah itu mengungkapkan, bahwa masalah Pemerintahan Jember sudah terdengar sampai di tingkat nasional. Seperti halnya terkait ekonomi dan dana Sisa Lebih Penggunaan Anggaran (Silpa) yang besar.
“Maka kocar kacirnya Jember ini sampai nyampi di level nasional. Masalah ekonomi, silpa kocar kacir,” paparnya










