gerbang baru nusantara

Dewan Jatim Dukung Pemerintah Hentikan Impor Bawang Putih Tiongkok

Dewan Jatim Dukung Pemerintah Hentikan Impor Bawang Putih Tiongkok

Rofik Hardian
Selasa, 11 Februari 2020
Bagikan img img img img

Dewan Jatim  Dukung Pemerintah Hentikan Impor Bawang Putih Tiongkok

Ketua Fraksi Demokrat DPRD Jatim Sri Subianti mendukung langkah pemerintah untuk menghentikan impor khususnya bawang putih dari Tiongkok untuk mencegah masuknya wabah penyakit corona. Menurutnya ini bisa menjadikan peluang bagi Jatim untuk meningkatkan produksi bawang putih di Jawa Timur.

“Sebenarnya tidak semua daerah di Jatim bermasalah dengan produksi bawang putih. Hal ini bisa menjadi kesempatan bagi pemerintah provinsi Jatim untuk meningkatkan produksi bawang putih dari Jatim,” ujar wanita yang akrab disapa Anti ini, Selasa (11/2). 

Sementara itu Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jatim Hadi Sulistyo mengatakan produksi bawang putih di Jatim tahun 2019 sebesar 6.953 Ton. Sedangkan konsumsi mencapai 62.880 Ton. “Sehingga mengalami defisit 55.927 Ton dan  masih dibutuhkan luas tanam untuk pertanaman bawang putih seluas 9.321 hektar,” katanya. 

Hadi menambahkan kebutuhan benih untuk pengembangan kawasan bawang putih di Jatim tahun 2020 seluas 645 hektar dan dibutuhkan benih sebanyak 387.000 kg. Ia menambahkan ada target perluasan area tanam bawang putih pada tahun 2020 yakni, Banyuwangi 170 hektar, Malang 250 hektar, Probolinggo 75 hektar, Kota Batu 50 hektar, Bondowoso 1000 hektar. “Seluruh daerah tersebut menggunakan APBN sedangkan yang menggunakan APBD hanya 1 hektar di Probolinggo,” jelasnya.

Lebih lanjut Hadi mengungkapkan alasan produksi bawang putih belum maksimal. Menurutnya yang pertama konsumen lebih menyukai bawang putih impor dengan harga yang lebih murah dan ukuran yang besar. “Kemudian harga bawang putih impor sebesar Rp 15.000/kg, sedangkan bawang putih loksl mencapai Rp. 50.000/kg. Mahalnya harga bawang putih lokal disebabkan karena mahalnya harga benih yang mencapai Rp. 65.000/kg,” ungkapnya.

Selain itu, lanjut Hadi, produktivitas yang dicapai tidak optimal, karena bawang putih merupakan tanaman subtropis. Dengan demikian dibutuhkan kondisi agroklimat khusus dan jadwal tanam yang tepat agar produktivitas optimal. “Kemudian ketersediaan benih yang terbatas, budidaya yang belum sesuai aturan, ketentuan wajib tanam importir masih belum mampu memenuhi dan biaya produksi tinggi,” paparnya.

Meski demikian Hadi mengaku optimis Jatim bisa swasembada bawang putih. Hal ini menurutnya karena telah ditemukan varietas lokal kayu bawang putih di Jatim yang mampu tumbuh dan berproduksi di ketinggian 450 m dpl yang potensi produksinyabisa mencapai 10-12 Ton kering panen. “Varietas tersebut berada di kabupaten Malang, Kota Batu, Pasuruan dan Probolinggo. Selain itu umurpanen lebih pendek sekitar 3 bulan hingga 3,5 bulan dari tanam. Potensi lahan dengan ketinggian 450 m dpl di Jatim lebih luas melebihi 10 ribu ha dan tersedia pada banyak Kabupaten. Dengan potensi tersebut Jatim bisa swasembada  dan kebutuhan 63.000 ton bisa terpenuhi,” pungkasnya.

Berita Terkait

Berita Terkait

Agenda DPRD Provinsi Jawa Timur

Agenda DPRD Provinsi Jawa Timur

Index Menu

Index Menu