gerbang baru nusantara

DPRD Jatim Dorong MPLS Ramah 2025 Jadi Ajang Penguatan Karakter Siswa

Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dinilai sebagai momentum strategis dalam membentuk karakter generasi muda.

Gegeh Bagus S
Minggu, 13 Juli 2025
Bagikan img img img img
Anggota DPRD Jatim dari Fraksi PKS, Dr. H. Puguh Wiji Pamungkas, MM

Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dinilai sebagai momentum strategis dalam membentuk karakter generasi muda. Hal ini disampaikan oleh Anggota DPRD Jatim dari Fraksi PKS, Dr. H. Puguh Wiji Pamungkas, MM, pria kelahiran Wajak, Kabupaten Malang.

Menurutnya, MPLS harus dimanfaatkan untuk memperkuat nilai-nilai moral dan etika di kalangan pelajar, khususnya siswa SMA. 

“Kami mendorong MPLS menjadi ajang penguatan karakter anak-anak. Ini penting sebagai landasan mereka selama bersekolah,” tegas Puguh saat dikonfirmasi, Minggu (13/7/2025).

Puguh menyoroti maraknya isu pergaulan bebas yang kini semakin mengkhawatirkan, terutama di kota-kota besar seperti Surabaya, Malang, Jember, dan daerah lain di Jawa Timur. Ia menilai tantangan moral remaja kini sangat berbeda dibanding era 70-80-an.

“Anak-anak kita sekarang berada pada fase zaman yang berbeda jauh dengan orang tua mereka. Pendekatannya harus kontekstual. Maka dari itu, MPLS ini jangan lagi diisi dengan perpeloncoan, itu sudah tidak relevan,” tegasnya.

Politikus PKS ini juga menekankan pentingnya pendidikan karakter yang berakar pada nilai-nilai Pancasila. 

“Saya pikir Pancasila sudah mengakomodir semua aspek pendidikan karakter. Butir-butir Pancasila harus dikupas tuntas dalam MPLS agar anak-anak tidak hanya menerima materi normatif semata,” jelasnya.

Ia berharap sekolah-sekolah di Jawa Timur bisa lebih kreatif dalam menyusun materi MPLS yang berorientasi pada penguatan mental, spiritual, serta etika sosial pelajar, bukan sekadar pengenalan fisik sekolah atau aktivitas simbolik lainnya.

Puguh juga menyerukan agar semua pihak, baik guru, kepala sekolah, hingga orang tua, memastikan bahwa MPLS berjalan bebas dari kekerasan, perundungan, atau perpeloncoan. 

“Ini bukan zamannya lagi. Kita harus jadi pelindung dan pembina, bukan penekan mental anak-anak,” pungkasnya. 

Berita Terkait

Berita Terkait

Agenda DPRD Provinsi Jawa Timur

Agenda DPRD Provinsi Jawa Timur

Index Menu

Index Menu