TransJatim Koridor VII Resmi Mengaspal, Komisi D DPRD Jatim Harap Dongkrak Ekonomi Daerah
TransJatim Koridor VII resmi beroperasi melayani rute Lamongan–Paciran. Komisi D DPRD Jatim melalui Khusnul Arif berharap layanan ini memperkuat konektivitas, mengurangi kecelakaan, dan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.
Bus TransJatim Koridor VII resmi beroperasi, menandai perluasan layanan transportasi publik antarwilayah di Jawa Timur. Anggota Komisi D DPRD Provinsi Jawa Timur, Khusnul Arif, menyampaikan harapan besar terhadap hadirnya koridor baru ini yang diharapkan mampu meningkatkan konektivitas dan pertumbuhan ekonomi daerah.
Diharapkan Dongkrak Aksesibilitas dan Kurangi Kecelakaan
Menurut Khusnul Arif, kehadiran TransJatim semakin memperluas manfaat bagi masyarakat, terutama di kawasan Gerbangkertosusila (Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, dan Lamongan).
“Tentu harapannya, TransJatim semakin banyak dirasakan masyarakat, khususnya yang berada di wilayah Gerbangkertosusila,” ujarnya.
TransJatim Koridor VII melayani rute Terminal Lamongan – Dukun (Gresik) – Paciran, dengan titik awal peluncuran di Halaman Parkir Makam Sunan Drajat, Lamongan. Koridor ini sekaligus mengusung identitas budaya lokal dengan nama Bus Sunan Drajat.
Politikus Partai NasDem ini menjelaskan bahwa moda transportasi tersebut memiliki banyak dampak positif, baik dalam aspek keselamatan maupun efisiensi biaya.
“Kehadiran TransJatim diharapkan dapat mengurangi angka kecelakaan lalu lintas, sekaligus memberikan pelayanan yang nyaman dan aman bagi masyarakat karena biayanya sangat ekonomis,” jelas Khusnul.
Kehadiran TransJatim di sejumlah wilayah sebelumnya juga disebut mampu menekan kepadatan kendaraan pribadi dan memperkuat konektivitas antardaerah
(Baca Selengkapnya: Laporan sebelumnya tentang perluasan TransJatim dan dampaknya terhadap ekonomi daerah)
Manfaat bagi UMKM dan Angkutan Lokal
Selain manfaat transportasi, Khusnul menilai hadirnya TransJatim turut menggerakkan sektor ekonomi di titik-titik halte.
“Pertumbuhan ekonomi juga akan terdorong. Di sekitar halte atau titik penjemputan pasti akan tumbuh UMKM yang memanfaatkan peluang ini,” ungkapnya.
Ia juga menyebutkan, keberadaan TransJatim tidak akan menggeser peran angkutan lokal. Sebaliknya, angkutan lokal dapat berfungsi sebagai feeder atau penghubung yang melengkapi jaringan transportasi utama.
Khusnul menegaskan bahwa kolaborasi antara moda transportasi daerah menjadi penting agar pelayanan publik semakin terintegrasi dan merata.
(Baca Selengkapnya: Dukungan DPRD Jatim terhadap Ekspansi TransJatim Malang Raya).
Dorong Perluasan ke Wilayah Non-Gerbangkertosusila
TransJatim Koridor VII saat ini mengoperasikan 15 armada aktif dan 1 armada cadangan setiap harinya. Dengan komposisi tersebut, DPRD Jatim optimistis pelayanan kepada masyarakat dapat berjalan optimal.
Khusnul juga mendorong Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Perhubungan (Dishub) untuk memperluas layanan TransJatim ke luar kawasan Gerbangkertosusila.
“Saat ini sudah tujuh koridor beroperasi. Ke depannya, kami mendorong agar perluasan tidak hanya di Gerbangkertosusila, tetapi juga di kabupaten dan kota lain,” pungkasnya.
Sebelumnya, Komisi D DPRD Jatim juga telah mendorong pengoperasian koridor baru TransJatim di wilayah Kediri yang diharapkan menjadi jalur strategis untuk pemerataan transportasi publik di Jawa Timur.










