Dewan Jatim Soroti Temuan 75 Kasus HIV/AIDS pada Anak
DPRD Jawa Timur menyoroti temuan 75 kasus HIV pada anak hingga Oktober 2025 dan menilai sistem pencegahan penularan masih perlu diperkuat.
SURABAYA — Anggota DPRD Jawa Timur, Indri Yulia Mariska, menyoroti masih ditemukannya kasus HIV pada anak dan remaja di Jawa Timur hingga Oktober 2025. Temuan tersebut dinilai menunjukkan bahwa sistem pencegahan penularan HIV belum berjalan optimal, khususnya pada kelompok rentan.
Kasus Anak dan Remaja Masih Jadi Alarm Pencegahan
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Jawa Timur, tercatat 75 kasus HIV pada anak hingga Oktober 2025. Selain itu, kelompok usia 15–19 tahun masih menyumbang ratusan kasus baru, meskipun secara tren mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.
Indri menegaskan bahwa penurunan angka kasus secara umum tidak boleh menutup mata terhadap fakta masih munculnya kasus HIV pada anak.
“Penurunan jumlah kasus memang patut diapresiasi, tetapi munculnya kasus HIV pada anak harus menjadi alarm keras. Ini berarti masih ada celah serius dalam pencegahan penularan dari ibu ke anak,” ujar Indri, Minggu (14/12/2025).
Perlu Penguatan ANC dan Edukasi Remaja
Menurut Indri, mayoritas kasus HIV pada anak disebabkan oleh penularan dari ibu yang tidak menjalani pengobatan secara optimal selama masa kehamilan. Kondisi ini menandakan layanan antenatal care (ANC) belum berjalan merata dan konsisten.
“Jika layanan antenatal care berjalan optimal, seharusnya hampir tidak ada bayi yang lahir dengan HIV,” tegasnya.
Selain itu, Indri juga menekankan pentingnya penguatan edukasi kesehatan reproduksi bagi remaja agar penurunan kasus tidak bersifat sementara.
“Program sosialisasi harus relevan dengan dunia remaja, melibatkan sekolah, keluarga, dan komunitas,” katanya mengakhiri.










