DPRD Jatim Minta Pemprov Siaga Jaga Lumbung Pangan Nasional
DPRD Jawa Timur meminta Pemprov Jatim siaga menghadapi cuaca ekstrem demi menjaga panen padi dan peran Jawa Timur sebagai lumbung pangan nasional.
Ancaman Cuaca Ekstrem Terhadap Panen Padi
SURABAYA — Anggota Komisi B DPRD Jawa Timur, M. Hadi Setiawan, mengingatkan Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk memberi perhatian serius terhadap ancaman cuaca ekstrem yang berpotensi mengganggu panen padi.
Jawa Timur selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung pangan nasional, dengan kontribusi produksi padi yang signifikan terhadap ketahanan pangan Indonesia. Karena itu, gangguan cuaca dinilai dapat berdampak luas, tidak hanya bagi petani, tetapi juga terhadap stabilitas pasokan beras nasional.
“Jawa Timur ini lumbung padi paling dasar bagi pangan nasional. Dengan produksi yang sangat tinggi, cuaca ekstrem yang terjadi sekarang tentu bisa mengancam padi-padi yang siap panen. Ini harus menjadi perhatian serius Pemprov Jatim,” ujar Hadi, Kamis (15/01/2026).
Upaya menjaga stabilitas pangan daerah juga sejalan dengan langkah DPRD Jatim yang sebelumnya mendampingi Pemprov dalam menjaga keterjangkauan pangan melalui berbagai program pasar murah
(Baca Selengkapnya: Upaya DPRD Jatim mendukung stabilitas harga dan ketersediaan pangan melalui kegiatan pasar murah di daerah)
Strategi Adaptif dan Antisipasi Gagal Panen
Politisi Partai Golkar tersebut menilai kondisi cuaca yang semakin tidak menentu seharusnya menjadi pembelajaran penting bagi Pemprov Jatim untuk menyusun strategi tanam yang lebih adaptif. Selain itu, penguatan sarana dan prasarana pertanian dinilai krusial untuk menekan risiko gagal panen.
Ia menambahkan, pola musim tanam dan cuaca sebenarnya dapat diprediksi, sehingga pemerintah daerah diharapkan mampu mengambil langkah antisipatif sejak dini.
“Musim tanam dan pola cuaca itu bisa dibaca. Maka langkah mitigasi harus disiapkan agar risiko puso bisa ditekan,” ujarnya.
Dorongan ini selaras dengan komitmen DPRD Jatim dalam memperjuangkan kesejahteraan petani sebagai garda terdepan ketahanan pangan.
(Baca Selengkapnya: Fraksi DPRD Jatim menekankan pentingnya kesejahteraan petani dalam menjaga ketahanan pangan daerah)
Data Puso dan Proyeksi Produksi 2026
Sebelumnya, cuaca ekstrem di Jawa Timur sempat menyebabkan puso di sejumlah wilayah, seperti Kabupaten Pasuruan dan Bojonegoro. Pada Oktober 2025, total lahan pertanian yang mengalami puso tercatat sekitar 3.000 hektare.
Namun, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur, Heru Suseno, menyebut kondisi tersebut tidak berdampak signifikan terhadap total produksi padi Jawa Timur tahun 2025.
“Puso sekitar 3.000 hektare itu tersebar dan sebagian tanaman sudah melewati masa panen. Jadi tidak memengaruhi capaian produksi secara keseluruhan,” ujarnya.
Heru menambahkan, banjir yang terjadi belakangan ini juga tidak sepenuhnya merendam lahan persawahan. Sebagian besar genangan dilaporkan cepat surut sehingga tidak menimbulkan kerusakan berarti pada tanaman padi.
Meski demikian, Pemprov Jatim tetap mewaspadai prakiraan cuaca ekstrem dari BMKG yang diprediksi berlangsung hingga awal Februari 2026, mengingat masa panen padi diperkirakan jatuh pada Maret 2026.
Sebagai langkah antisipasi, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jatim terus melakukan pendataan lapangan. Jika ditemukan puso baru, pemerintah akan memberikan bantuan penggantian benih serta fasilitasi tanam ulang melalui koordinasi dengan Kementerian Pertanian.
“Petani jangan khawatir. Kalau ada puso, pasti ada penggantian benih dan pendampingan tanam ulang,” tegas Heru.
Ia bahkan memproyeksikan produksi padi Jawa Timur pada 2026 berpotensi meningkat, seiring luas tanam Oktober–Desember 2025 yang lebih besar dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Optimisme ini diperkuat oleh berbagai inovasi pemberdayaan ekonomi warga di sektor pertanian dan pangan.










