DPRD Jatim Ingatkan Ancaman KLB Campak di Sejumlah Daerah
DPRD Jatim mengingatkan potensi KLB campak di sejumlah daerah dan mendesak pemerintah memperkuat imunisasi, surveilans, serta koordinasi lintas wilayah.
DPRD Jatim Ingatkan Ancaman KLB Campak di Sejumlah Daerah
Meningkatnya kasus suspek campak di sejumlah daerah di Jawa Timur mendapat sorotan DPRD Jawa Timur. Anggota Komisi E DPRD Jatim, Puguh Wiji Pamungkas, meminta Pemerintah Provinsi Jawa Timur segera mengambil langkah strategis untuk mencegah penyebaran penyakit tersebut semakin meluas.
Politisi PKS tersebut mengungkapkan bahwa laporan dari sejumlah dinas kesehatan daerah menunjukkan adanya tren kenaikan kasus suspek campak dibandingkan tahun sebelumnya. Bahkan, di Kabupaten Tulungagung tercatat satu pasien terkonfirmasi positif campak.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi sinyal serius bahwa potensi penyebaran campak di Jawa Timur masih cukup tinggi dan memerlukan penanganan cepat.
“Kalau kita lihat, bukan hanya di Tulungagung, di beberapa daerah juga sempat terjadi kejadian luar biasa (KLB). Ini harus menjadi atensi serius bagi Pemerintah Provinsi Jawa Timur, khususnya Dinas Kesehatan, agar kasus seperti ini tidak semakin banyak muncul di berbagai daerah,” ujar Puguh, Kamis (12/03/2026).
Baca selengkapnya:
Dorong Pemetaan Risiko dan Imunisasi Campak-Rubella
Puguh menilai langkah awal yang perlu dilakukan adalah memperkuat koordinasi antara Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur dengan dinas kesehatan di seluruh kabupaten/kota. Selain itu, pemerintah juga perlu melakukan pemetaan wilayah berdasarkan tingkat risiko penyebaran campak.
Pemetaan tersebut dapat dilakukan dengan mengelompokkan wilayah ke dalam zona merah, kuning, dan hijau berdasarkan tingkat kerawanan penularan. Salah satu indikator yang digunakan adalah capaian angka imunisasi di masing-masing wilayah.
“Pemetaan ini penting untuk mengetahui daerah dengan potensi penularan tinggi, sedang, maupun rendah. Salah satu indikatornya dapat dilihat dari capaian angka imunisasi di wilayah tersebut,” katanya.
Selain itu, ia menekankan pentingnya percepatan program imunisasi campak-rubella secara masif melalui pendekatan jemput bola.
“Imunisasi harus dimasifkan melalui sekolah, posyandu, serta fasilitas kesehatan. Infrastruktur kesehatan yang sudah ada harus dimanfaatkan secara maksimal agar cakupan imunisasi meningkat,” jelasnya.
Baca selengkapnya:
- DPRD Jatim juga mendorong penguatan fasilitas kesehatan termasuk laboratorium untuk deteksi penyakit
Perkuat Surveilans dan Antisipasi Lonjakan Saat Mudik
Di sisi lain, Puguh meminta penguatan pengawasan serta deteksi dini melalui sistem surveilans kesehatan di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan. Rumah sakit, puskesmas, hingga klinik diminta aktif memantau gejala awal campak, seperti demam, ruam, batuk, pilek, hingga mata merah.
Ia juga mendorong Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur untuk mengeluarkan surat edaran agar seluruh fasilitas kesehatan melakukan pemantauan secara sistematis.
“Dengan adanya surveilans yang aktif, Dinas Kesehatan Provinsi dapat memiliki database yang kuat sehingga dapat melakukan respons cepat melalui tim penanganan ketika ditemukan kasus,” ujarnya.
Selain itu, edukasi kepada masyarakat, terutama orang tua, dinilai penting agar tidak menunda pemberian imunisasi kepada anak. Upaya ini dapat melibatkan kader kesehatan desa, puskesmas pembantu, hingga organisasi masyarakat.
Puguh juga mengingatkan bahwa menjelang periode mudik Lebaran, mobilitas masyarakat akan meningkat sehingga berpotensi mempercepat penularan penyakit menular, termasuk campak.
“Momentum mudik ini harus menjadi perhatian bersama karena mobilitas dan interaksi masyarakat sangat tinggi. Ini berpotensi meningkatkan penularan penyakit, termasuk campak,” katanya.
Baca selengkapnya:
Data Kasus di Tulungagung Meningkat Signifikan
Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Tulungagung, Aris Setiawan, mengungkapkan bahwa berdasarkan data periode Januari hingga Februari 2026 terdapat 38 kasus suspek campak di wilayahnya.
Jumlah tersebut meningkat dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
“Awal tahun 2025 terdapat 12 kasus suspek campak. Kemudian pada awal tahun 2026 meningkat menjadi 38 kasus suspek campak,” kata Aris, Rabu (11/03/2026).










