Butuh Gerak Cepat Pemenuhan Air Bersih, 11 Desa dan Dusun di Ngawi Krisis Air Bersih
Anggota Komisi D DPRD Jawa Timur Atika Banowati meminta BPBD dan instansi terkait bergerak cepat menangani krisis air bersih yang mengancam lebih dari 3.000 warga di 11 desa dan dusun di Kabupaten Ngawi. DPRD Jatim juga mengingatkan pentingnya antisipasi kebakaran hutan dan lahan selama musim kemarau 2026
Ribuan Warga Ngawi Terancam Krisis Air Bersih
SURABAYA — Anggota Komisi D DPRD Jawa Timur, Atika Banowati, mengungkapkan bahwa musim kemarau yang terjadi sejak Juni 2026 telah berdampak pada meningkatnya ancaman krisis air bersih di Kabupaten Ngawi.
Berdasarkan laporan yang diterimanya, lebih dari 3.000 warga yang tersebar di sejumlah wilayah terdampak kekeringan dan kesulitan memperoleh akses air bersih.
“Dari laporan yang masuk, lebih dari 3.000 warga yang tersebar di 11 desa di Kabupaten Ngawi terancam mengalami krisis air bersih hingga saat ini,” ujar politisi Partai Golkar tersebut, Sabtu (20/06/2026).
Atika menjelaskan, wilayah terdampak meliputi 11 dusun yang tersebar di 11 desa pada lima kecamatan di Kabupaten Ngawi. Karena itu, ia meminta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur bersama instansi terkait segera mengambil langkah cepat untuk memastikan kebutuhan air bersih masyarakat dapat terpenuhi.
“Oleh sebab itu, saya mendorong BPBD Jawa Timur dan pihak terkait lainnya untuk bergerak cepat mengatasi krisis air bersih di Ngawi,” tegasnya.
DPRD Jatim Dorong Antisipasi Kebakaran Hutan dan Lahan
Selain persoalan kekeringan, Atika juga mengingatkan pentingnya langkah antisipasi terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kerap meningkat saat musim kemarau.
Menurutnya, pemerintah daerah perlu memperkuat koordinasi dengan Perum Perhutani dan seluruh pemangku kepentingan guna meminimalkan risiko kebakaran di kawasan hutan maupun lahan terbuka.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk lebih bijak dalam menggunakan sumber daya air dan meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau berlangsung.
“Saya mengimbau masyarakat agar menghemat penggunaan air, menyiapkan cadangan air, serta tidak melakukan pembakaran lahan maupun sampah sembarangan guna mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan selama musim kemarau,” ujarnya.
BMKG Prediksi Kemarau Lebih Kering dan Berdurasi Panjang
Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau 2026 di Kabupaten Ngawi diperkirakan berlangsung lebih kering dibandingkan kondisi normal dan memiliki durasi yang lebih panjang.
Puncak musim kemarau di sebagian besar wilayah Jawa Timur diprediksi terjadi pada periode Juli hingga Agustus 2026, dengan curah hujan bulanan berada pada kategori bawah normal hingga normal.
Meski demikian, BMKG tetap mengingatkan masyarakat agar mewaspadai kemungkinan hujan dengan intensitas sedang yang dapat terjadi sewaktu-waktu akibat dinamika atmosfer lokal.
Baca Selengkapnya:
- DPRD Jawa Timur mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai potensi cuaca ekstrem yang dapat memengaruhi aktivitas dan keselamatan warga di berbagai daerah
- DPRD Jatim turut mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap titik-titik rawan kemacetan dan gangguan mobilitas masyarakat di sejumlah wilayah Jawa Timur
- Upaya mitigasi risiko dan kesiapsiagaan daerah menjadi perhatian DPRD Jatim dalam menghadapi berbagai potensi gangguan layanan publik dan keselamatan masyarakat










