Lestarikan Budaya Lokal, Wiwin Sumrambah Gelar Ludruk di Jombang
Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur Dapil X Jombang Wiwin Sumrambah menggelar pagelaran ludruk bertema Lahirnya Soekarno, Putra Sang Fajar di Jombang sebagai upaya melestarikan budaya lokal, memperkuat nasionalisme, serta mendukung perekonomian masyarakat.
DPRD Jatim Dorong Pelestarian Ludruk sebagai Warisan Budaya Jawa Timur
JOMBANG — Di tengah gempuran hiburan digital dan budaya modern, kesenian ludruk kembali menggema di tanah kelahirannya. Melalui pertunjukan bertema Lahirnya Soekarno, Putra Sang Fajar, Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur Dapil X Jombang-Mojokerto Wiwin Sumrambah mengajak masyarakat merawat warisan budaya sekaligus menanamkan semangat nasionalisme kepada generasi muda.
Pagelaran ludruk digelar di Lapangan Desa Pulolor, Kecamatan Jombang. Pertunjukan seni budaya tradisional tersebut merupakan kolaborasi DPRD Provinsi Jawa Timur bersama Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Kebudayaan Provinsi Jawa Timur.
Pemilihan tema Putra Sang Fajar bukan tanpa alasan. Pertunjukan digelar bertepatan dengan Bulan Bung Karno, yakni bulan kelahiran sekaligus wafatnya Proklamator Republik Indonesia, Soekarno. Lakon tersebut dibawakan oleh kelompok Ludruk Budhi Wijaya, salah satu grup ludruk yang hingga kini masih aktif melestarikan kesenian tradisional di Kabupaten Jombang.
Dalam sambutannya, Wiwin mengatakan ludruk bukan sekadar hiburan rakyat. Menurutnya, seni tradisional merupakan media yang efektif untuk merawat sejarah, memperkuat karakter bangsa, sekaligus menanamkan kecintaan terhadap budaya lokal di tengah derasnya arus globalisasi.
"Bapak Soekarno lahir dan wafat pada bulan Juni. Karena itu, tema pertunjukan malam ini adalah Lahirnya Soekarno, Putra Sang Fajar. Bulan ini menjadi momentum bagi kita untuk merenungkan, belajar, meneladani, dan meneruskan semangat perjuangan beliau demi Indonesia," ujar Wiwin.
Legislator Fraksi PDI Perjuangan tersebut menilai makna kemerdekaan tidak hanya berhenti pada bebas dari penjajahan. Menurutnya, masyarakat juga harus mampu merasakan kemerdekaan dalam bidang sosial, ekonomi, budaya, hingga kesejahteraan.
Karena itu, ia mengajak masyarakat terus memperkuat semangat gotong royong, menjaga komunikasi antarsesama, serta ikut mengawal perkembangan ekonomi maupun kondisi sosial di lingkungan masing-masing.
"Mari terus bersinergi, bergotong royong, dan menjalin komunikasi yang baik agar kita benar-benar merasakan kemerdekaan dalam kehidupan sosial, ekonomi, budaya, dan bidang lainnya. Yang tidak kalah penting, mari terus mengenalkan budaya tradisional kepada anak-anak dan cucu kita, dimulai dari lingkungan keluarga," katanya.
Baca selengkapnya: DPRD Jatim mendorong pembentukan Perda Masyarakat Adat sebagai langkah memperkuat perlindungan terhadap hak masyarakat adat sekaligus menjaga kelestarian budaya lokal
Pagelaran Ludruk Perkuat Nasionalisme dan Gerakkan Ekonomi Masyarakat
Usai sambutan, pertunjukan dibuka secara simbolis melalui prosesi penyerahan pusaka dan tiang bendera kepada para pemain ludruk sebagai tanda dimulainya pementasan.
Wiwin berharap masyarakat tidak hanya menikmati cerita yang disuguhkan di atas panggung, tetapi juga mampu menangkap nilai-nilai kehidupan yang terkandung di dalamnya.
"Jangan hanya menjadi tontonan, tetapi juga menjadi tuntunan. Ada banyak pesan moral yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Semoga pertunjukan ini mampu menumbuhkan semangat nasionalisme, terutama bagi generasi muda," ujarnya.
Selain menjadi ruang pelestarian budaya, pagelaran ludruk juga membawa dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. Ratusan warga memadati lokasi hingga pertunjukan berakhir menjelang dini hari. Kehadiran mereka turut menggerakkan roda usaha para pedagang kecil yang berjualan di sekitar arena.
Salah satu penonton, Dewi Sartika, mengaku sengaja datang bersama suami dan kedua anaknya dari Kecamatan Megaluh untuk menyaksikan pertunjukan ludruk yang kini semakin jarang digelar.
"Sudah lama tidak melihat ludruk. Apalagi ludruk ini lahir dari Jombang. Saya sengaja datang bersama suami dan anak-anak. Bapak memang senang ludruk, jadi kami rela datang ke sini," ujarnya.
Manfaat ekonomi juga dirasakan pelaku UMKM. Diana Kusuma, pedagang gorengan dan minuman di lokasi, mengaku dagangannya laris selama acara berlangsung.
"Alhamdulillah dagangan laris. Banyak anak-anak membeli camilan sambil menonton ludruk. Acara seperti ini sangat membantu pedagang kecil seperti kami," katanya.
Sejumlah tokoh turut hadir dalam kegiatan tersebut, antara lain Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan Sadarestuwati, Ketua DPC PDI Perjuangan Jombang Sumrambah, jajaran Dinas Kebudayaan Provinsi Jawa Timur, instansi terkait Pemerintah Kabupaten Jombang, serta berbagai elemen masyarakat.
Hingga pertunjukan berakhir menjelang dini hari, antusiasme warga tidak surut. Sebagian besar penonton tetap bertahan menyaksikan seluruh lakon hingga selesai.
"Antusiasme masyarakat yang tetap menyaksikan ludruk hingga selesai menandakan kesenian ini masih memiliki tempat di hati masyarakat Jombang. Ini menjadi pengingat bahwa warisan budaya lokal akan tetap hidup selama terus dirawat bersama," pungkas Wiwin.
Baca Selengkapnya:
-
DPRD Jatim optimistis batik Bojonegoro mampu mendunia melalui penguatan promosi budaya dan ekonomi kreatif dalam Bojonegoro Wastra Batik Festival (BWBF) 2026
-
DPRD Jatim juga menilai pagelaran Wayang Kulit Aji Narantaka di Ponorogo menjadi bagian penting dalam memperkuat pelestarian budaya dan nilai-nilai kearifan lokal










