Harusnya Ada Koordinasi Terpadu Soal Stok Jagung
Harusnya Ada Koordinasi Terpadu Soal Stok Jagung
Harusnya Ada Koordinasi Terpadu Soal Stok Jagung
Komisi B Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Timur meminta ada koordinasi terpadu di stakeholder terkait. Seperti Dinas Pertanian dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jatim untuk penyelesaian keberadaan stok komoditas jagung di pasaran Jatim.
Pasalnya, panen jagung di Jawa Timur sebanyak 6,543 juta ton dinilai masih surplus sekitar 4,116 juta ton. Hal ini dilihat dari kebutuhan pangan dan pakan sekitar 2,376 juta ton.
"Ini harus ada koordinasi yang baik dinas pertanian dan perdagangan, Sehingga kita tahu persis sebenarnya berapa stok riil jagung kita," ujar Ketua Komisi B DPRD Jatim, Achmad Firdaus Febriyanto ditemui di DPRD Jatim, baru baru ini.
Menurutnya, surplus jagung sebesar 4,166 juta ton ketika dicari dipasaran hanya ditemukan kurang dari 500 ton jagung. Angka ini mengacu saat dilakukan pengecekan di 23 Kabupaten/Kota.
"Kami hanya temukan di pasar di Jatim hanya kurang dari 500 ton jagung. Di mana sisanya jagung, apakah datanya yang keliru atau datanya benar tapi di lapangan ada orang yang bermain di jagung," katanya.
Disisi lain, para petani jagung masih mengkhawatirkan akan adanya impor yang dilakukan pemerintah. Sebab, jagung sudah mulai panen akhir 2018 hingga awal 2019. Bahkan, lanjut dia, Menteri Pertanian hadir di beberapa titik di Jatim, baik di Lamongan dan Tuban untuk acara panen raya jagung.
"Artinya, Jatim merupakan sentra jagung bahkan di tingkatan nasional merupakan tertinggi. Nah, kalau melihat kondisi seperti ini stok jagung kita surplus. Dalam posisi surplus ini mengapa masih ada impor jagung oleh pemerintah," papar Firdaus politisi asal Fraksi Gerindra Jatim.
Setelah ditelusuri oleh pemerintah, kata Firdaus, surplusnya komoditas jagung ternyata tidak diikuti dengan keberadaan secara riil di lapangan. Pihaknya berharap dari keseluruhan jagung sebanyak 6 juta ton setelah dikurangi berbagai kebutuhan harus disampaikan juga secara riil.
"Sehingga kalau betul-betul surplus riil tidak harus ada impor. Jadi cukup ditangani jagung yang ada di lokal. Apalagi jagung kita ini sudah bibit bagus bahkan premium," imbuh Firdaus politisi asal Dapil Gresik - Lamongan ini.










