gerbang baru nusantara

Komisi D Dukung DLH Jatim Tingkatkan Kualitas Air dan Kurangi Limbah Plastik

Komisi D Dukung DLH Jatim Tingkatkan Kualitas Air dan Kurangi Limbah Plastik

Riko Abdiono
Senin, 11 Maret 2019
Bagikan img img img img

Komisi D Dukung DLH Jatim Tingkatkan Kualitas Air dan Kurangi Limbah Plastik

Komisi D DPRD Jatim mendukung penuh upaya Dinas Lingkunga Hidup (DLH) Jatim memprioritaskan persoalan limbah plastik dan peningkatan kualitas air pada program kerja triwulan pertama tahun 2019. Alasannya, program tersebut sejalan dengan program yang sudah dicanangkan oleh pemerintah pusat.

"Kami juga mendorong bukan hanya menjadi program pemerintah daerah tapi bagaimana mengajak masyarakat supaya ikut berpartisipasi dalam membantu mengurangi sampah plastik," ujar Ketua Komisi D DPRD Jatim Edi Paripurna usai Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan DLH Jatim di ruang Komisi D DPRD Jatim, Senin (11/3/2019)

Kepedulian masyarakat terhadap sampah plastik sangat dibutuhkan, mengingat Indonesia tergolong nomor dua peringkat pengguna plastik di dunia sehingga dampak limbah plastik juga perlu penanganan lebih maksimal hingga pemerintah membuat aturan pengurangan penggunaan tas kresek (plastik).   

Khusus menyangkut pemenuhan memenuhi kebutuhan masyarakat akan air bersih, lanjut politisi asal F-PDI Perjuangan pihaknya juga sangat mendukung DLH Jatim karena hal itu sejalan dengan prioritas 99 hari kinerja Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawangsa yang fokus memperbaikin kondisi lingkungan sungai.

"Dalam P-APBD Jatim mendatang persoalan ini tentu perlu dibahas lebih teknis khususnya menyangut kebutuhan anggarannya sebab persoalan ini juga menjadi prioritas Gubernur Khofifah," kata politisi asli Pasuruan ini.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Jatim, Diah Susilowati menjelaskan bahwa kualitas air dalam kondisi musim penghujan biasanya membaik karena ada akumulasi dari hujan. Namun secara teknis sebetulnya terus diupayakan meningkat karena Indek Kualitas Air Jatim baru 52,66 dan tahun ini ditargetkan meningkat menjadi 55-56, dengan kondisi COD dan BOD masih di kelas 3 menuju ke kelas 2 sehingga belum bisa masuk kelas 1.

"Ini karena banyak limbah domestik yang mempengaruhi kualitas air di Jatim juga karena bakteri coli yang tinggi serta sedimentasi tinggi yang terjadi di hulu akibat lahan kritis yang mengalami longsor saat musim hujan," terang Diah Susilowati.

Diakui Diah, aktivitas penambangan liar juga ikut menyumbang sedimentasi yang tinggi serta sampah plastik yang banyak mencemari air sungai sehingga menjadi dangkal. "Limbah domestis perlu penanganan karena kebanyakan masyarakat tidak memiliki IPAL yang memadai sehingga air kotornya tidak tersaring dengan baik serta industri kecil yang perlu diberikan treatmen," jelasnya.

DLH Jatim juga terus melakukan pengawasan kebersihan sungai-sungai di Jatim. Diantaranya dengan  gerakan menyusuri sungai, membentuk masyarakat jogo kali untuk mengedukasi masyarakat dapat mengurangi limbah yang dibuang ke sungai. 

"Kami juga akan membangun sarana dan prasarana memadai untuk limbah domestik (rumah tangga) bekerjsama dengan Dinas PUPR serta membangun infrastruktur untuk IKM-IKM supaya ada treatment, serta penegakan hukum bagi pembuang limbah sembarangan," pungkas Diah Susilowati. 

Berita Terkait

Berita Terkait

Agenda DPRD Provinsi Jawa Timur

Agenda DPRD Provinsi Jawa Timur

Index Menu

Index Menu