Persepsi Agus Maimun SE., M.H.P Tentang Kehidupan di Zaman Rasululloh S.A.W
Persepsi Agus Maimun SE., M.H.P Tentang Kehidupan di Zaman Rasululloh S.A.W
Persepsi Agus Maimun SE., M.H.P Tentang Kehidupan di Zaman Rasululloh S.A.W
Siapa yang tidak kenal dengan sosok legislator asal Fraksi PAN DPRD Provinsi Jawa Timur, dia kerap aktif menhadiri undangan acara di Televisi bahkan di media sosial. Jum’at (26/4).
Dirinya sering mengkritisi hasil karya buku milik seseorang yang cukup terkenal. Merujuk buku Bilik-bilik cinta Muhammad (Nizar Abazhah, 2018), setidaknya ada tiga alasan mengapa Muhammad kecil akhirnya memutuskan untuk bekerja mengembala kambing.
Pertama, membantu meringankan beban keuangan pamannya, Abu Thalib. Setelah ibunya, Siti Aminah Wafat, Muhammad hidup dirumah kakeknya, Abdul Muthalib. Kemudian ketia Abdul Muthalib juga wafat, Muhammad akhirnya hidup bersama Abu Thalib. Pada saat awa-awal tinggal bersama Abu Thalib, Muhammad biasa-biasa saja. Ia bermain dan makan bersama dengan anak-anak Abu Thalib. Namun lama kelamaan, Muhammad mulai sadar bahwa kondisi ekonomi pamannya memprihatinkan. Ditambah pamannya juga memiliki anak yang banyak. Hal itulah yang menggerakan Muhammad untuk berbuat sesuatu. Bekerja apapun itu, yang penting bisa menghasilkan uang untuk sekedar membantu ekonomi keluarga pamannya. Mungkin ini yang menjadi alasan utama Muhammad mengembala kambing.
Kedua , mengemabala kambing tidak butuh modal. Boleh dikata kalau Muhammad sudah berpikir secara mendalam untuk mengambil profesi sebagai pengembala kambing. Profesi itu adalah tepat dan pas bagi dirinya yang usianya masih belia dan tidak memiliki modal. Muhammad sadar bahwa pada saat itu semua pekerjaan sudah dikerjakan budak, kecuali berdagang. Namun untuk berdagang harus memiliki modal, sementara Muhammad tidak memiliki itu. Sementara ia ingin sekali membantu meringankan beban pamannya.
Ketiga, Muhammad suka berada di padang terbuka yang luas . Muhammad sangat senang dengan padang terbuka yang luas, disana ia bisa merenungkan alam dengan segala keindahan dan kebesarannya. Dipadang terbuka pula Muhammad bebas merenungkan segala sesuatu secara mendalam tanpa ada yang mengganggunya. Oleh karena itu ia memutuskan untuk mengembala kambing di padang terbuka yang luas di wilayah Makkah.
Politisi asal Fraksi PAN DPRD Jatim ini, bermimpi bahwa “hidup itu seperti mengembala kambing.” Ujarnya.










