Ketua Komisi E DPRD Jatim Ungkap Alasan Nilai TKA Masih Rendah
Ketua Komisi E DPRD Jatim Sri Untari menilai rendahnya nilai TKA dipengaruhi fokus siswa, metode pengajaran guru, dan distraksi gawai di ruang kelas.
Fokus Belajar dan Pola Pendampingan Guru
SURABAYA — Ketua Komisi E DPRD Jawa Timur Sri Untari Bisowarno menilai rendahnya hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) di Jawa Timur tidak dapat dilepaskan dari persoalan fokus belajar siswa serta pola pendampingan guru di sekolah.
Hal tersebut disampaikan Sri Untari saat ditemui di sela peresmian SLB-B Negeri Karya Mulia Surabaya, Senin (05/01/2026). Ia menjelaskan, penilaian tersebut didasarkan pada hasil sampling yang dilakukannya saat turun ke sejumlah daerah pemilihan (dapil), di mana kemampuan numerasi dasar siswa masih tergolong lemah.
“Saya sampling ke sekolah-sekolah. Perkalian sederhana saja masih lama mikirnya,” ujar Sri Untari.
Baca Juga:
-
Sri Untari: Kunci kenaikan nilai TKA ada pada metode pengajaran dan peningkatan tingkat fokus siswa
-
Rasiyo: TKA menggantikan Ujian Nasional sebagai mekanisme evaluasi pendidikan tingkat nasional
-
Hikmah Bafaqih: TKA hendaknya difokuskan sebagai pemetaan agar tidak membatasi hak akses pendidikan bagi siswa
Kesabaran Guru dan Metode Pembelajaran
Menurut Sri Untari, terdapat beberapa faktor yang memengaruhi kondisi tersebut. Salah satunya berkaitan dengan kesabaran dan ketelatenan pendidik dalam mengajarkan konsep dasar kepada siswa.
“Sekarang caranya banyak. Di buku ada, di YouTube ada. Tetapi kesabaran pendidik juga sangat penting,” katanya.
Ia menilai, meskipun akses terhadap sumber belajar semakin luas, kualitas pendampingan guru tetap menjadi faktor penentu dalam meningkatkan pemahaman akademik siswa.
Distraksi Gawai dan Rendahnya Konsentrasi
Selain faktor pendidik, Sri Untari juga menyoroti rendahnya tingkat fokus siswa dalam proses belajar. Ia menyebut rata-rata konsentrasi siswa hanya bertahan kurang dari 10 menit sebelum terdistraksi oleh hal lain.
“Padahal matematika dan IPA itu butuh konsentrasi. Tidak bisa dihafal, tetapi harus dipahami,” ujarnya.
Ia menilai penggunaan telepon genggam di ruang kelas menjadi salah satu penyebab utama hilangnya fokus belajar siswa. Oleh karena itu, Sri Untari mengusulkan pembatasan penggunaan ponsel selama kegiatan belajar mengajar berlangsung.
“Handphone sebaiknya tidak dipakai di dalam kelas. Bisa dititipkan di depan kelas, nanti saat istirahat baru diambil,” ucapnya.
Sebagai solusi tambahan, Sri Untari mendorong sekolah untuk melatih fokus siswa sejak dini. Salah satunya dengan membiasakan siswa untuk tenang dan diam sejenak sebelum memulai pembelajaran.
“Fokus itu bisa dilatih. Diam beberapa saat saja sudah mengajarkan konsentrasi,” katanya.
Evaluasi Sistem dan Motivasi Belajar
Sri Untari juga menilai sebagian siswa kurang memiliki motivasi belajar karena menganggap TKA tidak menentukan kelulusan sebagaimana Ujian Nasional (UN) pada masa lalu. Menurutnya, pola pikir tersebut perlu dievaluasi secara menyeluruh.
Ia menegaskan persoalan rendahnya hasil TKA harus menjadi evaluasi bersama antara pemerintah, sekolah, pendidik, dan orang tua agar kualitas pendidikan di Jawa Timur dapat diperbaiki secara berkelanjutan.
“Ayo kita telaah bersama kenapa generasi kita seperti ini. Itu yang paling penting,” pungkasnya.










