38 Suspek Campak Muncul di Awal 2026, DPRD Jatim Ingatkan Ancaman KLB di Sejumlah Daerah
Kasus suspek campak di Jawa Timur meningkat pada awal 2026. DPRD Jatim mendorong percepatan imunisasi, pemetaan risiko, dan penguatan surveilans guna mencegah KLB.
Kasus Suspek Campak Meningkat di Sejumlah Daerah
Meningkatnya kasus suspek campak di sejumlah daerah di Jawa Timur mendapat sorotan DPRD Jawa Timur. Anggota Komisi E DPRD Jatim, Puguh Wiji Pamungkas, meminta Pemerintah Provinsi Jawa Timur segera mengambil langkah strategis guna mencegah penyebaran penyakit tersebut semakin meluas.
Politisi PKS itu mengungkapkan, laporan dari sejumlah dinas kesehatan daerah menunjukkan adanya tren kenaikan kasus suspek campak dibandingkan tahun sebelumnya. Bahkan, di Kabupaten Tulungagung tercatat satu pasien terkonfirmasi positif campak.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi sinyal serius bahwa potensi penyebaran campak di Jawa Timur masih cukup tinggi dan memerlukan penanganan cepat.
“Kalau kita lihat, bukan hanya di Tulungagung, di beberapa daerah juga sempat terjadi kejadian luar biasa (KLB). Ini harus menjadi perhatian serius bagi Pemerintah Provinsi Jawa Timur, khususnya Dinas Kesehatan, agar kasus seperti ini tidak semakin banyak muncul di berbagai daerah,” ujar Puguh saat dikonfirmasi Bhirawa, Kamis (12/03/2026).
Baca selengkapnya:
DPRD Dorong Pemetaan Risiko dan Percepatan Imunisasi
Puguh menilai langkah awal yang perlu segera dilakukan adalah memperkuat koordinasi antara Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur dan dinas kesehatan kabupaten/kota. Selain itu, pemerintah perlu melakukan pemetaan wilayah berdasarkan tingkat risiko penyebaran campak.
Pemetaan tersebut dapat dilakukan dengan mengelompokkan wilayah ke dalam zona merah, kuning, dan hijau berdasarkan tingkat kerawanan penularan. Salah satu indikatornya adalah capaian angka imunisasi di masing-masing wilayah.
“Pemetaan ini penting untuk mengetahui daerah dengan potensi penularan tinggi, sedang, maupun rendah,” katanya.
Selain itu, ia menekankan pentingnya percepatan program imunisasi campak-rubella secara masif melalui pendekatan jemput bola.
“Imunisasi harus dimasifkan melalui sekolah, posyandu, serta fasilitas kesehatan. Infrastruktur kesehatan yang sudah ada harus dimanfaatkan secara maksimal agar cakupan imunisasi meningkat,” jelasnya.
Baca selengkapnya:
Penguatan Surveilans dan Edukasi Masyarakat
Di sisi lain, Puguh juga meminta penguatan pengawasan serta deteksi dini melalui sistem surveilans kesehatan di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan. Rumah sakit, puskesmas, hingga klinik diminta aktif memantau gejala awal campak seperti demam, ruam, batuk, pilek, hingga mata merah.
Menurutnya, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur perlu mengeluarkan surat edaran agar seluruh fasilitas kesehatan melakukan pemantauan secara sistematis.
“Dengan surveilans yang aktif, Dinas Kesehatan Provinsi dapat memiliki database yang kuat sehingga mampu melakukan respons cepat ketika ditemukan kasus,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya edukasi kepada masyarakat, khususnya orang tua, agar tidak menunda pemberian imunisasi kepada anak. Upaya ini dapat melibatkan kader kesehatan desa, puskesmas pembantu, hingga organisasi masyarakat.
Baca selengkapnya:
Waspadai Lonjakan Kasus Saat Mudik Lebaran
Puguh mengingatkan bahwa menjelang periode mudik Lebaran, mobilitas masyarakat diperkirakan meningkat sehingga berpotensi mempercepat penularan penyakit menular, termasuk campak.
“Momentum mudik ini harus menjadi perhatian bersama karena mobilitas dan interaksi masyarakat sangat tinggi,” katanya.
Karena itu, ia berharap Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur segera mengoordinasikan langkah penanganan bersama seluruh pemerintah kabupaten/kota agar potensi penyebaran campak dapat dikendalikan.
Data Kasus: Tulungagung Alami Kenaikan Signifikan
Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Tulungagung, Aris Setiawan, mengungkapkan bahwa pada periode Januari hingga Februari 2026 tercatat 38 kasus suspek campak di wilayahnya.
Jumlah tersebut meningkat signifikan dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
“Awal tahun 2025 terdapat 12 kasus suspek campak. Kemudian awal tahun 2026 meningkat menjadi 38 kasus suspek campak,” kata Aris, Rabu (11/03/2026).










