DPRD Jatim Desak Penanganan Cepat Banjir 34 Desa di Lamongan
DPRD Jatim meminta pemerintah segera mengambil langkah strategis menangani banjir di 34 desa Lamongan yang telah berlangsung selama empat bulan.
DPRD Jatim Desak Penanganan Cepat Banjir 34 Desa di Lamongan
Momen Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah berubah menjadi duka bagi ribuan warga di Kabupaten Lamongan. Banjir yang telah berlangsung sekitar empat bulan masih merendam puluhan desa dan mengganggu aktivitas masyarakat secara luas.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur hingga Sabtu (21/03/2026), sebanyak 34 desa di enam kecamatan terdampak banjir, yakni Kalitengah, Turi, Karangbinangun, Deket, Glagah, dan Karanggeneng. Ketinggian air mencapai hingga 35 sentimeter dan merendam permukiman serta fasilitas umum.
Baca selengkapnya:
DPRD Jatim Nilai Banjir sebagai Masalah Tahunan yang Belum Tuntas
Anggota DPRD Jawa Timur dari daerah pemilihan Gresik–Lamongan, Ahmad Iwan Zunaih, menilai banjir yang terjadi bukan sekadar bencana musiman, melainkan persoalan tahunan yang belum tertangani secara komprehensif.
“Banjir ini sudah berlangsung sekitar empat bulan dan terus berulang setiap tahun. Dampaknya sangat besar, ekonomi lumpuh, aktivitas sosial terganggu, hingga infrastruktur desa rusak,” ujar Ahmad Iwan Zunaih, Selasa (24/03/2026).
Politisi Partai NasDem tersebut menegaskan bahwa kondisi ini membutuhkan penanganan serius dan kolaborasi lintas pemerintahan, mulai dari pemerintah kabupaten, provinsi, hingga pusat.
Baca selengkapnya:
Dorong Langkah Strategis, dari Pompa Air hingga Normalisasi Sungai
Ahmad Iwan Zunaih mengungkapkan sejumlah faktor penyebab banjir, di antaranya tingginya intensitas hujan, tidak optimalnya saluran pembuangan air, serta kondisi geografis desa yang lebih rendah dibandingkan wilayah lain.
Ia mendorong pemerintah segera mengambil langkah strategis, antara lain:
-
Menambah jumlah pompa air serta mengonversi penggunaan bahan bakar dari solar ke listrik agar lebih optimal.
-
Mempercepat pengerukan Bengawan Njero, embung, serta anak sungai untuk memperlancar aliran air.
-
Menyalurkan bantuan sosial kepada warga terdampak, termasuk sembako, layanan kesehatan, dan dukungan transportasi.
Selain itu, ia juga menyoroti terganggunya sektor pendidikan akibat banjir yang merendam sejumlah sekolah. Pemerintah diminta segera mencarikan solusi agar proses belajar mengajar tetap berjalan.
“Ini harus menjadi perhatian serius. Jangan sampai masyarakat terus menjadi korban banjir tahunan tanpa solusi yang jelas,” tegasnya.
Baca selengkapnya:
Dampak Banjir Meluas hingga Permukiman dan Fasilitas Umum
Sementara itu, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik (Darlog) BPBD Jawa Timur, Satriyo Nurseno, menyebut dampak banjir tergolong signifikan.
Sebanyak 1.447 rumah warga terdampak. Selain itu, 12 tempat ibadah, 48 sekolah, dua kantor desa, dan dua fasilitas kesehatan turut terendam. Sekitar 20 hektare lahan pertanian juga dilaporkan mengalami kerusakan.










