Anwar Sadad Dukung Politik Kebangsaan Yang Dihidupkan Kembali PBNU
Anwar Sadad Dukung Politik Kebangsaan Yang Dihidupkan Kembali PBNU
PBNU dibawah kepemimpinan duet KH Miftakhul Akhyar (rais a'am) dan KH Yahya Cholil Staquf (ketum PBNU) yang mengawali langkah khidmatnya dengan napak tilas ke makam para masyayikh dan muassis NU serta tempat-tempat bersejarah yang menjadi bukti sejarah perjuangan NU di Jatim dalam rangkaian harlah NU ke 99 mendapat apresiasi yang tinggi dari ketua DPW Partai Gerindra Jatim Anwar Sadad.
Menurut politikus dari keluarga besar Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan, berdirinya NU itu memang tak bisa lepas dari persoalan politis namun bukan politik praktis melainkan politik kebangsaan. Pesan inilah yang ingin diwujudkan PBNU dibawah kepemimpinan Gus Yahya.
"Ketika NU meninggalkan politik praktis maka peran-peran politik kebangsaan NU akan semakin kuat karena dia akan disokong banyak partai dan tidak memberikan bloking pada satu partai tertentu. Ini langkah yang cerdas. Saya sebagai kader NU yang ada di Partai Gerindra tentu mendukung pernyataan maupun sikap yang diambil oleh NU," tegas Anwar Sadad saat dikonfirmasi Jumat (18/2/2022).
Lantas dimana NU bisa menjadi ruang pertemuan bagi partai-partai politik? Kata Gus Sadad titik komprominya itu adalah pada wilayah politik kebangsaan. Karena itu NU punya yang namanya Mabadi Khaira Ummah.
Disitulah Gerindra maupun partai-partai yang lain bisa menampilkan peran dan memberikan support di dalam project-project NU yang terkait dengan pemberdayaan masyarakat, pengembangan pendidikan atau pengembangan sosial kemasyarakatan.
"Saya kira ruang itu sangat terbuka luas tanpa NU harus terlibat di dalam memberikan dukungan secara politik kepada partai politik tertentu. Itulah esensi dari dari khittoh NU 1926 yang dicetuskan dalam Muktamar NU di Sukorejo Situbondo pada tahun 1984," ungkap alumnus UIN Sunan Ampel ini.
Pertimbangan lainnya, kata Gus Sadad tidak ada satu partaipun yang bisa menampung seluruh aspirasi nahdliyin. Jadi baju partai itu terlalu kecil bagi NU yang begitu besarnya tujuan dan visi garis perjuangan, atau apa yang dirumuskan hadratus syeikh KH Hasyim Asy'ari sebagai Qanun Asasi sehingga ini harus diperjuangkan semua elemen-elemen kekuatan bangsa dimana NU bisa bermitra strategis dengan mereka.
"Jadi tidak hanya kepada satu partai politik atau pada satu kekuatan sosial masyarakat. Saya kira dengan mengambil pilihan menjaga jarak yang sama dengan semua kekuatan politik praktis atau politik elektoral, maka akan semakin meneguhkan bahw NU ini bukan parpol. Kalaupun pernah terjun dalam dunia politik itu bukan dalam pengertian politik elektoral tapi partai politik kebangsaan atau dalam teori politik namanya High Politics," jelasnya.
Dalam sejarah politik di Indonesia, lanjut Gus Sadad bahwa NU itu tidak pernah terkonsolidasi sebagai suatu kekuatan politik praktis tapi sebagai kekuatan jamiyah ijtimaiyah diniyah nggak diragukan kesolidannya. Tetapi apakah NU pernah terkonsolidasi dalam politik praktis, sejarah belum membuktikan.
Ia mencontohkan dalam pencatatan historis, NU pernah tergabung di dalam Partai Masyumi dan kemudian tahun 1952 NU keluar dari Masyumi. Apakah orang-orang NU keluar semua dari Masyumi? nggak juga banyak orang-orang NU yang masih tetap tinggal di Masyumi. Bahkan salah satu putra hadratus syeikh sendiri masih di masyumi yaitu KH Abdul Karim Hasyim dan masih banyak tokoh NU yang lain.
"Soliditas yang terbangun di NU itu sebagai jam'iyah ijtimaiyah diniyah bukan sebagai jamiyah syiasiyah (parpol)," tegas wakil ketua DPRD Jatim ini.
Sejarah juga mencatat NU di era reformasi membentuk parpol PKB tapi tidak semua orang NU masuk kesitu. "Itu bukti bahwa desain NU itu sebagai organisasi sosial keagamaan bukan organisasi sosial politik," tambah Anwar Sadad.
Apakah Partai Gerinda diuntungkan? Dengan lugas Sadad menyatakan bahwa Gerindra tentu sangat membutuhkan NU sebab banyak kader-kader Gerindra juga kader-kader NU.
"Saya kira sepanjang bahwa pemahaman mereka itu mengarah kepada supporting pada NU, menurut saya itu sesuatu hal yang harus dilakukan karena NU itu rumah besar. Kanalisasi kepentingan politik juga ada disitu semua," jelasnya.
Yang penting itu seperti yang dikatakan Jhon F Kennedy, apa yang bisa kau berikan pada NU bukan mencari sesuatu keuntungan dari NU. "Justru Gerindra siap memberikan keuntungannya kepada NU. Teman-teman kader NU yang ada di partai lain juga saya ajak untuk memberikan keuntungannya kepada NU bukan malah sebaliknya," dalih Anwar Sadad.
Menurut Gus Sadad napak tilas PBNU dan PWNU se Indonesia ke para masyayikh dan muassis NU yang ada di Jatim, seperti ke Jombang, Surabaya dan Bangkalan itu patut diapresiasi karena PBNU ingin menapak suatu kebijakan yang kokoh di atas sendi-sendi sejarah dimana NU dilahirkan pada tahun 1926.
Terlebih spirit pendirian NU tahun 1926 itu di tengah-tengah suatu keadaan di mana umat Islam di dunia sedang terguncang karena runtuhnya Khilafah Utsmaniyah di Turki kemudian kemenangan kaum Wahabi di Arab Saudi.
"Energi pendirian NU itu sejak awal tidak berpikir hanya untuk Indonesia saja tetapi umat Islam di dunia. Pesan ini yang ingin disampaikan oleh Gus Yahya dan kawan-kawannya di PBNU yang ingin disampaikan bahwa keberadaan NU ini bukan hanya untuk Indonesia tapi untuk dunia. Jadi napak tilas itu sudah langkah yang tepat untuk mengawali khidmat di NU," pungkasnya.
Agenda DPRD Provinsi Jawa Timur
Agenda DPRD Provinsi Jawa Timur










