gerbang baru nusantara

DPRD Jatim Dorong Pemerintah Buat Manajemen Kebencanaan

DPRD Jatim Dorong Pemerintah Buat Manajemen Kebencanaan

Adi Suprayitno
Rabu, 24 Februari 2021
Bagikan img img img img
Terjadinya bencana banjir di Kelurahan Ploso, Jatirejo, Payaman Kecamatan Nganjuk kota, Desa Sukorejo Kecamatan Loceret, Desa Sendang bumen, Kec. Berbek harus dijadikan pembelajaran agar tidak terulang kembali pada musim hujan.
 
Anggota DPRD Jawa Timur,  Aisyah Lilia Agustina mengatakan, bencana ada dua macam yakni bencana alam dan non alam seperti pandemi covid-19. Sementara bencana alam seperti halnya longsor dan banjir.
 
Perempuan yang akrab dipanggil dengan Icha itu menyebut bencana yang terjadi di Nganjuk beberapa hari sebelumnya peristiwa yang luar biasa. Mengingat di Nganjuk tidak pernah terjadi banjir intensitas tinggi hingga terjadi longsoran. 
 
"Luar biasa banjir di Nganjuk hingga terjadi longsor. Padahal sebelumnya belum pernah terjadi," tuturnya, Selasa 23 Februari 2021
 
Menurut politisi asal PKB itu,
pemerintah perlu membuat manajemen bencana, karena kontur tanah di Nganjuk ada yang dataran tinggi sehingga rawan terjadi longsor.
 
"Maka perlu ada (manajemen bencana) menjelang musim hujan perlu dilihat kembali. Apalagi banyak hutan dan pegunungan banyak yang gundul. Tanamannya banyak yang kecil-kecil," terangnya.
 
Ning Icha menilai longsor terjadi karena ada kiriman air dari atas dan turun ke dataran rendah. Mulai dari Ngetos, Sawahan, yang menuju kedataran lebih rendah seperti Berbek kemudian turun lagi ke Nganjuk kota. Selanjutnya ke Sukomoro  menyeberang Jalan di wilayah kecamatan rejoso dan kecamatan Gondang. 
 
Kalau dari dataran tinggi akibat meluapnya sungai Kuncir karena ada kiriman air sangat deras. Sedangkan di Gondang dan Sukomoro mendapat kiriman air dari Sungai Widas. Artinya di daerah yang di pantai sudah biasa banjir. 
 
"Ini jarang terjadi. Kalau di Sawahan, dan Berbek banjirnya selutut. Ini perlu ada sesuatu yang perlu dicari ada apa sampai terjadi bencana," pintanya.
 
Untuk mencegah terjadinya bencana, pemerintah harus melibatkan masyarakat dalam pengawasan sungai karena pasti ada sesuatu yang menyumbat atau menghambat saluran air. Misalnya sampah atau enceng gondok. Tak hanya itu saja, seharusnya di musim hujan ada alat untuk menfilter tanaman atau sampah secara berkala di sungai. Dengan begitu bisa diambil, jika ada sampah yang dapat menyumbat aliran sungai.
 
"Banjir di Nganjuk perlu dicari sebabnya. Memang faktor utamanya karena air. Tetapi saluran airnya bagaimana. Dari dataran tinggi sudah jelas kurang ada akar-akar pohon yang menujang. Sehingga air menyebabkan tanah gembur dan mudah dilalui oleh air. Kalau didataran rendah karena sampah," terangnya.
 
Ning Icha menilai perlu ada pembelajaran semacam edukasi kepada masyarakat, bahwa membuang sampah sembarangan bisa mengakibatkan banjir.
 
Sedangkan untuk bantuan kepada korban bencana, Ning Icha mengungkapkan sudah memberi Alat Pelindung Diri (APD), alas tidur, bantal dan alat untuk kebersihan pasca banjir seperti skrop,, alat pel, dll.
 
"Kalau penanganan korban menurut saya sudah baik, artinya warga yang terdampak untuk makanan dan kebutuhan sehari-hari sudah melimpah," pungkasnya.
 

Berita Terkait

Berita Terkait

Agenda DPRD Provinsi Jawa Timur

Agenda DPRD Provinsi Jawa Timur

Index Menu

Index Menu