Jatim Harus Lebih Agresif Garap Wisata Halal
Jatim Harus Lebih Agresif Garap Wisata Halal
Gaung wisata halal belakangan ini terus bergema. Termasuk di Jatim. Mengapa? Karena sektor ini mempunyai peluang untuk menggeliatkan ekonomi. Apalagi, banyak objek wisata di Jatim yang dapat menjadi unggulan. Di antaranya, wisata wali, pondok pesantren hingga resto halal yang dapat menarik banyak wisatawan. Memang, saat ini kondisi ekonomi memang kurang baik, tetapi destinasi wisata wisata, khususnya ziarah masih cukup memberikan prospek.
Mengomentari soal ini, Wakil Ketua Komisi B DPRD Jatim, H Mahdi SE SH mengatakan, propinsi ini mempunyai berpeluang menjadi jujukan wisata halal. Membidik wisata halal sebagai destinasi baru mendatangkan wisatawan. Karena itulah, kita harus lebih agresif lagi menggarap wisata halal, agar wisatawan lebih datang lagi ke Jatim.
“Ini menjadi penting untuk mengangkat perekonomian di saat pandemic covid-19,” katanya, Rabu (10/3/2021).
Dia mengatakan, sejumlah pasar luar negeri seperti, negara-negara Timur Tengah hingga Eropa Timur merupakan negara-negara yang cukup potensial. Sebagai negara yang berpenduduk mayoritas Islam, Indonesia, khususnya Jatim sudah selayaknya mengembangkan wisata halal ini. Apalagi, sejumlah daerah di Jatim mempunyai potensi yang cukup besar.
Memang saat ini lagi pandemic, katanya, tetapi wisata halal ini harus benar-benar dipersiapkan. Hal ini disebabkan, karena prospek ke depannya wisata halal cukup bagus. Apalagi, Kementerian Pariwisata saat ini sudah memiliki berbagai program yang bertujuan menggalakkan wisata halal. Seperti diketahui, wisata halal, kini menjadi tren di luar negeri. Sudah banyak negara yang mengeksplor potensi wisata halalnya. Negara-negara yang sudah menerapkannya berlomba-lomba mendatangkan wisatawan muslim.
"Wisata halal harus gencar dipromosikan demi menumbuhkan pendapatan dari sektor pariwisata," katanya.
Lebih lanjut dia mengatakan, sejumlah negara sudah gencar memasarkan wisata halal ini. Seperti Malaysia, yang sejak awal telah mengukuhkan diri sebagai pusat produk halal dunia. Berbagai event dan halal expo diselenggarakan, misalnya Malaysia International Halal Showcase (MIHAS) tiap tahunnya sejak 2013. Event ini merupakan ajang promosi bagi industri halal Malaysia dan berbagai negara dunia.
Di samping Malaysia, Jepang menjadi salah satu negara yang paling berambisi menjadi pusat dan role model produk halal dunia. Pemerintah Jepang sangat gencar membangun berbagai fasilitas untuk mengembangkan bisnis produk halal, mulai dari restoran halal hingga fasilitas ibadah seperti mushala di tempat-tempat umum, misalnya bandara. Jepang sudah mendeklarasikan tempat-tempat yang mempromosikan produk halal.
Juga demikian dengan Thailand yang telah mendeklarasikan sebagai pusat pangan halal. Saat ini Thailand menempatkan diri sebagai buffer zone makanan halal dunia. Jepang sangat aktif mendorong industri ekspor halal seperti obat-obatan, kosmetika, makanan dan minuman ke mancanegara. Korea Selatan sedang membangun destinasi wisata halal (halal tourism).
“Mereka tahu persis peluang sektor ini, dan menjadikan booming global halal sebagai keuntungan domestic,” katanya.
Bertolak pada kenyataan inilah, sektor pariwisata memang sudah saat untuk lebih agresif lagi digarap. Karena di sektor ini, Jatim mempunyai potensi dan peluang untuk meraihnya. Sekarang tinggal bagaimana para pemangku kepentingan dapat bersinergi memajukan sektor ini.










